Oleh: Syarif Larampang Parawali
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Sebuah bangunan masjid tidak hanya berdiri dari semen, batu bata, dan besi. Di balik setiap dinding yang dibangun, ada harapan agar tempat itu menjadi ruang bagi manusia untuk bersujud, belajar, bermusyawarah, dan menemukan ketenangan.
Karena itu, ajakan Open Donasi Masjid Annamirah Tahfizh Center Alif Khalifah untuk pembangunan Rumah Imam dan Penginapan Musafir patut dilihat bukan semata-mata sebagai kebutuhan pembangunan fisik, tetapi sebagai sebuah gerakan sosial dan keagamaan.
Dalam gambar tersebut disebutkan kebutuhan 9.133 biji bata ringan dengan harga Rp9.600 per biji, sehingga total kebutuhan dana mencapai Rp87.676.800. Angka itu mungkin terlihat besar bagi satu orang, tetapi menjadi ringan apabila dipikul bersama.
Sedekah Tidak Selalu Harus Menunggu Kaya
Sering kali seseorang berpikir, “Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan bersedekah.”
Padahal, kebaikan tidak selalu menunggu seseorang menjadi kaya.
Ada yang menyumbang satu juta rupiah. Ada yang seratus ribu. Ada yang sepuluh ribu. Bahkan mungkin ada yang hanya mampu membantu menyebarkan informasi donasi.
Nilai sebuah amal bukan semata-mata dilihat dari besar kecilnya angka, tetapi juga dari keikhlasan dan kemampuan seseorang dalam memberikan apa yang dimilikinya.
Allah SWT berfirman:
مَثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٍۢ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۢ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemahannya:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki”. (QS. Al-Baqarah: 261) (Quran.com).
Ayat ini memberikan perspektif bahwa sedekah bukanlah sekadar mengurangi harta. Dalam pandangan iman, harta yang dikeluarkan di jalan Allah justru dapat menjadi investasi akhirat.
Masjid Bukan Hanya Bangunan
Pembangunan rumah imam dan penginapan musafir juga mengingatkan kita bahwa masjid mempunyai fungsi sosial yang luas.
Imam membutuhkan tempat yang layak untuk menjalankan tugasnya. Musafir membutuhkan tempat beristirahat. Jamaah membutuhkan ruang untuk berinteraksi. Anak-anak membutuhkan tempat belajar agama.
Dengan demikian, pembangunan fasilitas pendukung masjid dapat menjadi bagian dari upaya memakmurkan rumah Allah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-Taubah: 18) (Quran.com).
Ayat tersebut memberikan pesan penting: memakmurkan masjid bukan hanya tentang mendirikan bangunannya, tetapi juga menghadirkan kehidupan dan kemanfaatan di dalamnya.
Ada Amal yang Terus Mengalir
Hal yang menarik dari pembangunan fasilitas masjid adalah kemungkinan manfaatnya berlangsung jauh setelah seorang donatur selesai memberikan sumbangan.
Ketika seorang musafir menggunakan tempat tersebut, ketika imam beristirahat, ketika jamaah mendapatkan pelayanan, atau ketika kegiatan keagamaan berlangsung di fasilitas yang dibangun dari hasil donasi, maka kebaikan itu diharapkan menjadi bagian dari amal yang terus memberikan manfaat.
Dalam hadis yang diriwayatkan Sahih al-Bukhari 450, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang membangun masjid karena mengharap rida Allah, Allah akan membangunkan baginya rumah yang semisal di surga. Riwayat yang sama juga terdapat dalam Sahih Muslim 533a–533b. (Sunnah)
Pesan ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai motivasi untuk menyumbang, tetapi sebagai pengingat bahwa membangun tempat ibadah berarti ikut membangun kehidupan umat.
Jangan Menunggu Kaya untuk Berbuat Baik
Menurut saya, tantangan terbesar dalam sebuah gerakan donasi bukan selalu besarnya kebutuhan, melainkan bagaimana membangun kesadaran bahwa setiap orang bisa mengambil bagian.
Rp10 ribu mungkin kecil bagi seseorang, tetapi jika seribu orang memberikan Rp10 ribu, terkumpul Rp10 juta.
Begitu pula dengan bata. Satu orang mungkin tidak mampu menyediakan ribuan bata. Namun, apabila masyarakat bersama-sama menyumbangkan sesuai kemampuan, dinding yang semula hanya berupa gambar dan rencana perlahan dapat berdiri menjadi bangunan nyata.
Di sinilah nilai gotong royong menemukan maknanya.
Masjid dibangun bukan hanya oleh orang kaya. Masjid dibangun oleh orang-orang yang memiliki kepedulian.
Ada yang memberi uang, ada yang memberi material, ada yang memberi tenaga, ada yang membantu menyebarkan informasi, dan ada pula yang mendoakan.
Semuanya memiliki ruang untuk menjadi bagian dari kebaikan.
Akhirnya, Pilihan Ada pada Kita
Open donasi Masjid Annamirah ini semestinya tidak hanya dipandang sebagai permintaan bantuan pembangunan.
Ia adalah sebuah ajakan untuk meninggalkan jejak kebaikan.
Sebab rumah yang kita bangun untuk diri sendiri suatu saat akan kita tinggalkan. Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Tetapi amal yang dilakukan dengan ikhlas untuk kemaslahatan umat, kita berharap menjadi bekal ketika tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia.
Maka, jika memiliki kemampuan, mari membantu.
Jika belum mampu memberikan banyak, berikan sesuai kemampuan.
Jika belum mampu memberikan uang, bantu sebarkan informasi.
Dan jika benar-benar belum mampu melakukan keduanya, doakan agar pembangunan tersebut dimudahkan Allah SWT.
Sebab terkadang, kebaikan besar memang dimulai dari sesuatu yang terlihat kecil.
“Satu bata dari tangan kita, mungkin menjadi bagian dari tempat bersujudnya banyak orang.
Referensi
- Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 261 tentang keutamaan menginfakkan harta di jalan Allah. (Quran.com)
- Al-Qur’an, QS. At-Taubah: 18 tentang memakmurkan masjid. (Quran.com)
- Sahih al-Bukhari No. 450 keutamaan membangun masjid karena mengharap rida Allah. (Sunnah)
- Sahih Muslim No. 533a–533b keutamaan membangun masjid dan janji rumah di surga. (Sunnah)















