Oleh: Nur Jihad
Opini, Potretnusanatara.co.id – “Dari ada di gigiku sampai tidak ada saya tidak pernah melihat ada air yang mampu mendaki” Sergah Kontaq petani tua dengan raut wajah yang mengerut tak bisa menyembunyikan kedongkolannya yang kini ada kesempatan untuk di lampiaskan pada seseorang seperti kami.
Kami hanya diam sambil tertawa karna memang itulah kenyataannya, keluhan itu di sampaikan bukan tanpa arti apa-apa – ia menyoroti pompa air yang di buat oleh pemerintah pada tahun 2025 kemarin yang tidak ada gunanya sama sekali, juga tidak pula menjawab masalah yang di hadapi oleh petani akhir-akhir ini.
Pasalnya di tengah kemarau yang panjang, pompa air seharusnya menjadi tumpuan bagi para petani malah bermasalah. Masalah yang pertama ada di letaknya yang tidak sesuai dengan tempat yang ideal. Menurut kontaq letaknya harus di lereng-lereng gunung sehingga dapat menjangkau semua lahan persawahan yang ada di sana.
Namun karna letaknya di tengah-tengah lahan maka sulit bagi air untuk menjangkau dataran yang agak sedikit lebih tinggi. Dari sinilah ungkapan jengkel pak kontaq itu di sampaikan kepada kami.
Masalah yang kedua ialah kurangnya perhatian pemerintah terkait tentang bagaimana pengoprasian pompa air itu di jalankan, yang sampai sekarang tidak juga di gunakan dengan baik oleh petani.
Itu terlihat saat setelah kami mencoba untuk melihat pompa air tersebut dan salah seorang petani teriak kepada kami “tidak jalan, tidak ada anggaran” pertanyaannya siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini?
Ya entahlah saya juga tidak tahu menahu , siapa yang harus merogoh kocek untuk oprasional pompa air itu.
Setelah kami banyak mendengar keluhan yang di sampaikan oleh pak kontaq, di seberang jalan pandangan kami tertuju pada pintu air yang telah rusak, menurut pak kontaq pintu air itu tidak lagi berfungsi selama 3 tahun setelah di terjang banjir besar.
Sehingga rusaknya pintu air itu petani mengandalkan karung berisi tanah penahan air untuk menahan di titik yang telah di tentukan yang nantinya di pakai oleh petani ketika mengompa air.
Cerita di atas adalah sebuah potret huru hara kehidupan petani di desa makkombong yang pada hari ini juga terkena kerugian yang begitu besar akibat kekeringan panjang yang melanda. sesuai dengan pemetaan yang kami lakukan sebesar 42 hektar lahan dalam satu dusun belum lagi dusun-dusun lain.
Data Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Disbuntarnak Polman mengungkapkan ada sebanyak 1.084,18 hektare areal tanaman yang mengalami kekeringan ekstrim dan terancam gagal panen.
Ini sangat di miris sementara kita mau berbicara tentang swasembada pangan namun kita belum siap menghadapi berbagai ancaman fenomena alam.
Padahal ancaman tentang kemarau yang berkepanjangan sudah pernah di alami oleh masyarakat sekitar, dan kita tidak pernah belajar dalam hal ini. Kalau kita misalnya mau merujuk kehidupan petani di luar sana ada banyak contoh di daerah lain yang mampu melakukan antisipasi terhadap kemarau yang akan terjadi.
Misalnya petani memanfaatkan kemarau ini dengan menanam tanaman palawija seperti Kabupaten Lebak, Banten, mereka beralih total ke jagung hibrida saat kemarau datang.
Berdasarkan data kelompok tani setempat, menanam jagung di musim kering justru sangat menguntungkan karena masa panennya cepat (sekitar 90 hari). Dengan produktivitas rata-rata 7 ton per hektare dan harga jual yang stabil, mereka bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp20 juta per panen setelah dipotong biaya modal. Hasil panen mereka bahkan langsung diserap oleh industri pakan ternak dan bulog.
Di daerah Lamongan, Jawa Timur, juga terdapat fenomena unik di mana para petani memanfaatkan lahan rawa yang mengering akibat kemarau. Ketika musim hujan, rawa tersebut tergenang air hingga kedalaman meteran sehingga sama sekali tidak bisa ditanami.
Namun, begitu kemarau tiba dan airnya surut, para petani langsung berbondong-bondong menanam jagung, melon, atau semangka di tanah rawa yang subur tersebut.
Petani di beberapa wilayah tadah hujan, seperti di Klaten dan Gunungkidul, sangat menyukai menanam kacang hijau atau kacang tanah saat kemarau panjang. Kacang hijau adalah tipe tanaman yang justru terganggu jika terlalu banyak air (kemarau basah).
Oleh karena itu, mumpung kemarau sedang terik, mereka menanam kacang-kacangan karena karakteristik akarnya mampu mengikat nitrogen, membuat tanah tetap subur, cepat panen, dan biaya perawatannya jauh lebih murah daripada menanam padi.
Di kawasan Bogor, Jawa Barat, petani menyiasati peralihan musim kering dengan menanam tanaman palawija jenis timun menggunakan metode plastik mulsa. Langkah ini terbukti sukses karena mentimun membutuhkan waktu panen yang sangat singkat.
Dengan teknik penutupan tanah ini, sisa-sisa kelembapan air tanah terkunci dengan baik, dan petani bisa tetap panen berkali-kali di tengah cuaca panas atau sekilas kita kembali mengggunakan cara tanam petani lokal yang sangat arif terhadap alam, di kecematan tutar masih ada beberapa desa yang percaya bahwa tanah setelah panen perlu di istrihatkan sampai nantinya kembali di manfaatkan.
Belum lagi mereka menggunakan bibit lokal yang tidak begitu bergantung pada air sebab bukan hujan yang menjadi tumpuan mereka namun melainkan ilmu perbintangan yang di sampaikan oleh sue’beq (orang yang di percaya paham tentang kapan petani harus menanam padi).
Dari sini akibat tuntutan periode tanam padi yang begitu padat serta makin canggih dan modern petani hari ini mengakibatkan pengetahuan lokal itu mulai tergerus sehingga pola bertani rentan terhadap cuaca yang pada hari ini makin tak menentu.
Pada akhirnya kalaulah tuntutan tanam yang begitu padat di lakukan untuk menciptakan petani yang sejahterah perlu antisipasi, kita punya BMKG yang memprediksi cuaca setiap waktu namun tidak di gunakan dengan baik.
Kita juga punya pemahaman lokal yang bisa menjadi alternatif namun itu di lupakan.
Daftar Pustaka












