Opini

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Antrean

×

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Antrean

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Kepemimpinan tidak selalu diwujudkan melalui podium atau pidato. Dalam banyak situasi, kepemimpinan justru tampak ketika seorang pemimpin hadir di tengah antrean, mendengarkan keluhan warga, dan memahami secara langsung persoalan yang mereka hadapi.

Hal tersebut dilakukan oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin ketika mengunjungi sejumlah SPBU untuk memantau antrean dan kelangkaan BBM.

Di tengah antrean, ia menghampiri warga dan berkata, “Sabar ya, tinggal sedikit lagi…” sambil menyentuh bahu seorang warga.

Pernyataan sederhana itu memiliki arti penting bagi warga yang telah lama menunggu. Mereka tidak hanya membutuhkan BBM, tetapi juga kepastian bahwa pemerintah mengetahui dan memahami kesulitan yang mereka alami.

Negara yang Hadir

Kehadiran negara tidak hanya diwujudkan melalui regulasi dan kebijakan, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari masyarakat: antrean panjang, waktu yang terbuang, penghasilan yang tertunda, serta kecemasan dalam menunggu bahan bakar.

Ketika wali kota hadir secara langsung, terdapat pesan penting: pemerintah melihat apa yang dialami masyarakat.

Pernyataan “sabar ya” memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan pasokan. Namun, hal itu menunjukkan empati, yang merupakan salah satu fondasi utama pelayanan publik.

Pemimpin Tidak Boleh Hanya Menunggu Laporan

Data dapat mencatat jumlah BBM, kendaraan, dan panjang antrean. Namun, data tidak sepenuhnya mampu menggambarkan kelelahan warga yang menunggu berjam-jam demi memenuhi kebutuhan dan mencari nafkah.

Untuk memahami kondisi tersebut, pemimpin perlu hadir, melihat, dan mendengarkan secara langsung.

Turun ke lapangan bukan berarti mengambil alih seluruh persoalan teknis. Distribusi BBM melibatkan berbagai pihak. Namun, kepala daerah tetap berkewajiban memastikan pemerintah tidak sekadar menjadi penonton.

Pemimpin harus berperan sebagai penghubung, pengawas, sekaligus penyampai aspirasi masyarakat.

Antrean Adalah Cermin Pemerintahan

Antrean memperlihatkan dampak kebijakan secara nyata: warga yang berdiri dalam waktu lama, kendaraan yang menunggu, serta waktu dan produktivitas yang terbuang.

Oleh karena itu, kehadiran wali kota di SPBU tidak boleh berhenti pada simbol semata. Kehadiran tersebut harus diikuti langkah konkret, seperti mengidentifikasi penyebab antrean, memperbaiki koordinasi, menyampaikan informasi yang akurat, dan mencegah persoalan serupa terulang.

Di sinilah perbedaan antara politik kehadiran dan politik pencitraan terlihat.

Politik pencitraan berhenti ketika kamera berhenti merekam. Politik kehadiran justru dimulai ketika kamera telah pergi.

Dari “Sabar” Menjadi Solusi

Pernyataan “sabar ya” harus diikuti oleh kerja nyata. Kesabaran warga tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda penyelesaian masalah.

Setelah pemimpin melihat antrean, birokrasi harus segera mengidentifikasi penyebabnya. Setelah warga diyakinkan bahwa “tinggal sedikit lagi”, pemerintah harus memastikan bahwa informasi tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepercayaan publik dibangun bukan melalui janji semata, melainkan melalui kesediaan untuk menyatakan: kami melihat masalah ini dan kami akan menanganinya.

Wajah Negara di Pinggir Jalan

Bagi masyarakat, wajah negara sering kali dijumpai di sekolah, puskesmas, pasar, jalan, dan SPBU.

Di tempat-tempat itulah masyarakat menilai apakah pemerintah benar-benar bekerja. Mereka berhadapan langsung dengan persoalan waktu, biaya, kendaraan, dan pendapatan harian.

Karena itu, wali kota yang hadir di SPBU sedang memperpendek jarak antara kekuasaan dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pernyataan “sabar ya, tinggal sedikit lagi” menjadi simbol bahwa pemimpin tidak selalu harus berbicara dari atas panggung. Dalam situasi tertentu, pemimpin perlu berdiri di tengah masyarakat, mendengarkan keluhan, dan memastikan persoalan tidak berhenti sebagai keluhan semata.

Negara terasa hadir ketika pemerintah datang kepada masyarakat.

Kepemimpinan dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana: hadir, mendengarkan, menenangkan, kemudian bekerja.

Sebab, masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang selalu memiliki jawaban. Mereka membutuhkan pemimpin yang tidak menghilang ketika menghadapi pertanyaan yang sulit dijawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *