Cerita

DARI LAMPU PELITA MENUJU CAHAYA NEGERI

×

DARI LAMPU PELITA MENUJU CAHAYA NEGERI

Sebarkan artikel ini

Selayang Pandang Perjalanan Bahlil Lahadalia

Oleh: Syarif Larampang Parawali

Kisah Inspiratif, Potretnusantara.co.id Untuk setiap anak yang pernah merasa terlalu miskin untuk bermimpi.


Ada anak-anak yang sejak kecil tidur di kamar dengan lampu terang.

Ada pula anak-anak yang mengenal malam melalui cahaya kecil lampu pelita.

Di antara mereka, ada yang tumbuh dengan buku-buku tersusun rapi di meja belajar. Ada yang harus membantu orang tua terlebih dahulu sebelum membuka buku pelajaran.

Tetapi masa depan tidak pernah bertanya:

“Kamu anak siapa?”

Masa depan hanya bertanya:

“Seberapa kuat kamu memperjuangkan mimpimu?”

Salah satu kisah yang menarik untuk direnungkan adalah perjalanan Bahlil Lahadalia.

Bahlil lahir di Banda, Maluku Tengah, pada 7 Agustus 1976. Ia tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai nelayan dan kuli bangunan, sedangkan ibunya turut membantu ekonomi keluarga. Sejak kecil, Bahlil sudah mengenal kerasnya kehidupan. (Kompas)

Namun, justru dari kehidupan sederhana itulah sebuah perjalanan panjang dimulai.

Ketika Mimpi Dijual Bersama Kue

Bayangkan seorang anak sekolah berjalan membawa dagangan.

Bukan mainan.

Bukan barang mewah.

Melainkan makanan yang harus terjual agar kehidupan keluarga bisa sedikit lebih ringan.

Dalam berbagai kisah tentang masa kecilnya, Bahlil disebut pernah menjual kue ketika masih duduk di sekolah dasar. Ketika beranjak lebih besar, ia juga pernah berjualan sayur, ikan, dan beras di pasar tradisional. (Kompas)

Bagi sebagian anak, sekolah adalah tempat untuk belajar.

Bagi Bahlil kecil, sekolah dan kehidupan seakan menjadi dua ruang yang tidak dapat dipisahkan.

Ia belajar dari buku.

Ia juga belajar dari pasar.

Ia belajar dari guru.

Ia juga belajar dari kehidupan.

Sebab kehidupan mengajarinya satu hal yang tidak selalu tertulis dalam buku pelajaran:

kalau ingin mengubah keadaan, seseorang harus berani bergerak.


Lampu Pelita dan Sebuah Mimpi

Ada satu gambaran masa kecil Bahlil yang kemudian menjadi sangat kuat ketika ia berbicara tentang pemerataan listrik.

Ia pernah mengalami masa ketika lampu pelita menjadi sumber penerangan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika telah menjadi Menteri ESDM, Bahlil mengingat kembali pengalaman itu.

“Masih banyak rumah yang memakai lampu pelita, seperti yang saya alami saat saya sekolah dulu. Kita tidak pernah tahu, hari ini anak-anak desa yang pakai lampu pelita, mungkin saja dalam kurun waktu ke depan, mereka yang akan jadi Presiden atau Menteri di Republik Indonesia ini,” kata Bahlil pada 2025. (Gatrik)

Kalimat itu seperti membawa masa lalu dan masa kini bertemu.

Anak yang dahulu belajar dalam keterbatasan akhirnya berdiri di tempat yang memungkinkan dirinya ikut menentukan kebijakan energi negeri.

Tetapi yang paling menarik bukanlah kursi kekuasaannya.

Yang menarik adalah ingatannya.

Ia tidak melupakan gelap yang pernah dialaminya.

Karena itu, ketika berbicara mengenai listrik untuk desa, pengalaman masa kecil tersebut kembali muncul.

Bahlil pernah mengatakan:

“Saya merasakan itu, tidak pernah terbayang anak kampung desa, lahir dengan lampu pelita, sekolah sampai SD dengan lampu pelita, dalam kurun waktu sekian puluh tahun, masuk Jakarta dan diberikan amanah oleh Negara untuk menjadi Menteri.” (Gatrik)

Bagi anak-anak yang sedang berjuang, kalimat itu memiliki pesan sederhana:

jangan menganggap keadaan hari ini sebagai keputusan terakhir tentang masa depanmu.


Dari Fakfak Menuju Jayapura

Perjalanan pendidikan Bahlil membawanya dari wilayah timur Indonesia menuju Jayapura.

Ia bersekolah di SMEA YAPIS Fakfak sebelum melanjutkan pendidikan ke Akademi Keuangan dan Perbankan yang kemudian dikenal sebagai STIE Port Numbay. (Kompas)

Namun kuliah bukan berarti kehidupan menjadi mudah.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Bahlil disebut pernah bekerja sebagai sopir angkutan umum, kuli angkut, dan kuli dorong di pasar. (Kompas)

Di sinilah sebuah pelajaran penting muncul.

Pekerjaan tidak menentukan harga diri seseorang.

Yang menentukan adalah bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya dan bagaimana ia menggunakan pengalaman itu untuk membangun masa depan.

Seorang mahasiswa bisa menjadi sopir.

Seorang mahasiswa bisa menjadi kuli.

Seorang mahasiswa bisa mengangkat barang di pasar.

Dan pada saat yang sama, ia tetap bisa memiliki mimpi besar.

Tidak ada pekerjaan halal yang terlalu rendah bagi orang yang sedang berjuang.

Yang rendah adalah ketika seseorang berhenti bermimpi hanya karena keadaan.


Belajar Memimpin Sebelum Memimpin Banyak Orang

Keterbatasan ekonomi tidak membuat Bahlil menjauh dari organisasi.

Justru di kampus, kemampuan kepemimpinannya mulai tumbuh.

Ia pernah menjadi Ketua Dewan hingga Ketua Senat Mahasiswa STIE Port Numbay. Setelah itu, perjalanan organisasinya berlanjut di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga pada 2002–2004 ia dipercaya menjadi Bendahara Umum Pengurus Besar HMI. (Kementerian ESDM)

Di sana, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar berdiri di depan.

Kepemimpinan adalah kemampuan mengajak orang lain berjalan bersama.

Seorang pemimpin harus belajar mendengar.

Belajar berbicara.

Belajar mengambil keputusan.

Dan yang tidak kalah penting:

Belajar bertanggung jawab ketika keputusan itu salah.


Jakarta Tidak Menyambut dengan Karpet Merah

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Bahlil memasuki dunia usaha.

Bersama teman-temannya dalam jaringan HMI, ia mendirikan usaha di Jakarta. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi sebagai Direktur Wilayah PT Primatama Cipta Niaga. (Kompas)

Tetapi perjalanan bisnisnya tidak berhenti pada satu perusahaan.

Pada 2003, ia memilih mundur dan membangun usaha sendiri yang bergerak di bidang pengolahan kayu. Setelah itu, ia mulai mengembangkan usaha ke berbagai bidang. Sumber biografis mencatat perjalanan bisnisnya kemudian mencakup sektor kehutanan, perkebunan, properti, logistik, pertambangan, dan konstruksi. (Kompas)

Ada masa ketika usaha berjalan.

Ada masa ketika usaha harus menghadapi kesulitan.

Karena dunia usaha tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu lurus.

Tetapi orang yang terbiasa berjuang sejak kecil biasanya memahami satu hal:

Jatuh bukan berarti selesai.

Jatuh berarti harus belajar bagaimana berdiri dengan cara yang lebih baik.


Dari Papua Membuka Jalan

Tahun 2008 hingga 2011, Bahlil menjadi Ketua BPD HIPMI Provinsi Papua.

Karier organisasinya kemudian berlanjut di tingkat pusat. Pada 2015, ia terpilih sebagai Ketua Umum BPP HIPMI untuk periode 2015–2019. (Kementerian ESDM)

Perjalanan itu menarik karena ia datang bukan dari keluarga pengusaha besar atau keluarga pejabat.

Buku Bahlil Lahadalia: Anak Papua Membuka Jalan untuk Negeri karya Neneng Herbawati, yang diterbitkan PT Kreasi Karya Igico, juga mendokumentasikan perjalanan hidupnya dari keluarga sederhana hingga menjadi pengusaha dan pemimpin HIPMI. Buku tersebut tercatat dalam katalog perpustakaan FEB Universitas Indonesia dan sejumlah perpustakaan lainnya. (Pusat Sumber Belajar FEB UI)

Judul buku itu sendiri terasa seperti sebuah simbol:

Anak dari timur tidak hanya mencari jalan untuk dirinya sendiri, tetapi berusaha membuka jalan menuju ruang yang lebih luas.


Dari Dunia Usaha ke Istana

Pada 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo melantik Bahlil sebagai Kepala BKPM.

Sebuah babak baru pun dimulai.

Dunia usaha yang selama bertahun-tahun ia jalani bertemu dengan dunia pemerintahan.

Pada 2021, nomenklatur BKPM berubah menjadi Kementerian Investasi dan Bahlil kemudian menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM. Ia menjalankan jabatan tersebut hingga 19 Agustus 2024. (Kementerian ESDM)

Bayangkan kembali anak yang dahulu berjualan kue.

Anak yang pernah menjadi kondektur.

Anak yang pernah menjadi sopir angkot.

Anak yang pernah bekerja sebagai kuli angkut.

Kini harus duduk di meja pemerintahan dan berbicara tentang investasi Indonesia.

Jalannya jauh.

Sangat jauh.

Namun jarak itu ditempuh bukan dalam satu malam.

Ia ditempuh dengan ribuan langkah kecil.


Ketika Amanah Datang Lebih Tinggi

Pada 19 Agustus 2024, Presiden Joko Widodo melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. (Geologi ESDM)

Dua hari kemudian, pada 21 Agustus 2024, Bahlil terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional XI. (Presiden RI)

Dari seorang anak keluarga sederhana menuju salah satu posisi penting dalam pemerintahan dan organisasi politik nasional.

Tetapi di titik inilah kisahnya justru memberikan pelajaran yang lebih besar.

Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin besar tanggung jawab yang harus dipikul.

Kesuksesan bukan sekadar tentang berapa banyak uang yang dimiliki.

Bukan sekadar tentang jabatan.

Bukan sekadar tentang seberapa sering nama disebut.

Kesuksesan seharusnya diukur dari seberapa besar seseorang mampu memberikan manfaat.


Anak yang Dulu Belajar dalam Gelap, Kini Berbicara tentang Terang

Ada ironi yang indah dalam perjalanan Bahlil.

Masa kecilnya pernah bersentuhan dengan lampu pelita.

Ketika dewasa, ia justru memimpin kementerian yang salah satu tugas strategisnya berkaitan dengan energi.

Pada 2025, Kementerian ESDM melaporkan kunjungan Bahlil ke sejumlah wilayah Papua untuk memantau pemerataan listrik perdesaan. Di Desa Tindaret, Kepulauan Yapen, listrik mulai mengalir ke SD Negeri Kiriyow. (Kementerian ESDM)

Seolah kehidupan sedang mempertemukan dua titik:

Masa lalu yang gelap dengan masa depan yang ingin diterangi.

Tentu saja, perjalanan kebijakan negara jauh lebih kompleks daripada kisah seorang individu.

Namun secara manusiawi, perjalanan tersebut menyampaikan pesan yang kuat:

Pengalaman pahit masa lalu dapat menjadi alasan untuk memperbaiki masa depan.


Mimpi Tidak Berhenti di Sarjana

Bahlil tidak berhenti pada pendidikan sarjana dan magister.

Ia melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Indonesia.

Pada Oktober 2024, ia menjalani sidang terbuka promosi doktor di Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI. Disertasinya membahas kebijakan, kelembagaan, dan tata kelola hilirisasi nikel yang berkeadilan dan berkelanjutan di Indonesia. (Kementerian ESDM)

Dengan demikian, perjalanan pendidikannya menjadi salah satu bagian penting dari kisah tersebut:

dari sekolah di wilayah timur,

ke perguruan tinggi di Jayapura,

kemudian melanjutkan pendidikan magister,

hingga meraih doktor di UI.

Bagi seorang anak yang merasa sekolahnya tidak mungkin membawa dirinya terlalu jauh, kisah ini seharusnya menjadi tamparan yang positif.

Bukan untuk berkata,

“Aku harus menjadi seperti Bahlil.”

Tetapi untuk berkata,

“Kalau dia bisa terus belajar dalam keterbatasan, mengapa aku harus berhenti belajar hanya karena hidupku belum mudah?”


Untuk Anak yang Sedang Duduk di Bangku Sekolah

Suatu hari nanti mungkin kamu akan melihat temanmu memiliki sepatu lebih bagus.

Mungkin ada teman yang memiliki telepon genggam lebih mahal.

Mungkin ada yang bisa les setiap sore.

Mungkin ada yang memiliki orang tua yang mampu membiayai seluruh kebutuhannya.

Sementara kamu harus membantu orang tua.

Jangan iri terlalu lama.

Gunakan keadaanmu sebagai tenaga untuk bergerak.

Kamu mungkin belum memiliki uang.

Tetapi kamu masih memiliki waktu.

Kamu mungkin belum memiliki kendaraan.

Tetapi kamu masih memiliki kaki.

Kamu mungkin belum memiliki buku yang banyak.

Tetapi kamu masih memiliki kesempatan untuk belajar.

Dan kalau malam ini rumahmu masih sederhana, jangan merasa mimpimu juga harus sederhana.

Sebab rumah boleh kecil.

Tetapi mimpi tidak harus ikut mengecil.


Bukan Tentang Menjadi Menteri

Kisah Bahlil tidak harus membuat semua anak bercita-cita menjadi menteri.

Tidak.

Seorang anak boleh menjadi guru.

Menjadi petani.

Menjadi nelayan.

Menjadi dokter.

Menjadi teknisi.

Menjadi pengusaha.

Menjadi jurnalis.

Menjadi dosen.

Menjadi seniman.

Atau menjadi apa pun yang bermanfaat bagi manusia.

Yang penting adalah jangan membiarkan keadaan ekonomi menentukan batas mimpi.

Karena perjalanan Bahlil memperlihatkan bahwa titik awal seseorang tidak selalu sama dengan titik akhirnya.

Anak seorang pekerja kasar dapat menjadi sarjana.

Anak dari keluarga sederhana dapat menjadi pengusaha.

Seorang mantan sopir angkot dapat masuk ke pemerintahan.

Dan seorang anak yang pernah mengenal cahaya pelita dapat berbicara tentang bagaimana negeri ini harus diterangi.


Epilog: Jangan Takut Memulai dari Bawah

Pada akhirnya, setiap perjalanan besar selalu memiliki langkah pertama.

Tidak ada gunung yang langsung berada di puncak.

Tidak ada buku yang selesai tanpa halaman pertama.

Tidak ada perjalanan yang tiba tanpa keberanian untuk berangkat.

Bahlil memulai dari kehidupan yang sederhana.

Ia pernah berjualan.

Ia pernah bekerja sebagai kondektur.

Ia pernah menjadi sopir angkot.

Ia pernah bekerja mengangkat barang.

Ia belajar.

Ia berorganisasi.

Ia berusaha.

Ia jatuh dan bangkit dalam dunia bisnis.

Ia memimpin organisasi pengusaha.

Ia masuk pemerintahan.

Ia kemudian dipercaya menjadi Menteri ESDM.

Dan ia terus melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor. (Kementerian ESDM)

Namun barangkali kalimat yang paling penting bukanlah tentang jabatan apa yang pernah ia duduki.

Melainkan pesan yang dapat ditarik dari seluruh perjalanan itu:

Jangan malu memulai dari bawah.

Sebab tidak ada yang tahu ke mana langkah kecil hari ini akan membawamu.

Mungkin kamu sedang duduk di bangku sekolah dengan seragam yang sudah mulai kusam.

Mungkin kamu sedang membantu ibumu berjualan.

Mungkin kamu sedang membantu ayahmu bekerja.

Mungkin kamu sedang belajar di bawah cahaya lampu yang sederhana.

Mungkin kamu merasa dunia terlalu besar untuk anak sepertimu.

Jika itu yang sedang kamu rasakan, ingatlah:

Masa depan belum selesai ditulis.

Dan selama kamu masih mau belajar, bekerja keras, menjaga integritas, berdoa, dan tidak menyerah pada keadaan—

Cerita hidupmu masih memiliki halaman-halaman yang belum kamu tulis.

Barangkali suatu hari nanti, ketika kamu telah berhasil melewati jalan panjangmu sendiri, kamu akan menoleh ke belakang dan berkata:

“Ternyata aku tidak terlalu kecil untuk bermimpi. Aku hanya sedang berada di halaman pertama.”


Catatan Fakta dan Referensi

Tulisan ini menggunakan pendekatan novel biografis. Bagian berupa suasana, monolog, dan dialog imajinatif merupakan perangkat sastra dan bukan klaim sebagai percakapan historis yang benar-benar terjadi.

Referensi utama yang dapat dipertanggungjawabkan:

  1. Kementerian ESDM RI profil dan perjalanan kepemimpinan Bahlil, termasuk pengalaman organisasi, pendidikan, HIPMI, serta pelantikan sebagai Menteri ESDM. (Kementerian ESDM)
  2. Kementerian ESDM RI dokumentasi sidang terbuka promosi doktor Bahlil di Universitas Indonesia pada 17 Oktober 2024. (Kementerian ESDM)
  3. Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM pernyataan Bahlil mengenai pengalaman masa kecil dengan lampu pelita dan harapannya terhadap anak-anak desa. (Gatrik)
  4. Presiden RI transkrip penutupan Munas XI Partai Golkar 2024 yang mencatat Bahlil sebagai Ketua Umum terpilih. (Presiden RI)
  5. Pusat Sumber Belajar FEB Universitas Indonesia katalog buku Bahlil Lahadalia: Anak Papua Membuka Jalan untuk Negeri, karya Neneng Herbawati, terbitan PT Kreasi Karya Igico. (Pusat Sumber Belajar FEB UI)
  6. Perpustakaan Daerah Kabupaten Nunukan data bibliografis buku tersebut, termasuk penulis, penerbit, tahun terbit, jumlah halaman, dan ISBN. (Layanan Perpus Nunukan)
  7. Kompas.com profil perjalanan masa kecil, pekerjaan, pendidikan, dunia usaha, dan perjalanan organisasi Bahlil. (Kompas)

Catatan Penulis

Penulis: Syarif Larampang Parawali

Syarif saat ini adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang saat ini dalam tinggal menunggu proses yudisium dan wisuda. Penulis juga memiliki ketertarikan pada pendidikan, organisasi, kehidupan sosial, serta kisah perjuangan orang-orang yang memulai hidup dari keterbatasan. Bagi penulis, menulis bukan sekadar menyampaikan cerita, tetapi juga menjadi cara untuk belajar, berbagi inspirasi, dan menyalakan harapan bagi mereka yang sedang berjuang.

Tulisan tentang perjalanan Bahlil Lahadalia ini sengaja disusun sebagai bentuk kekaguman sekaligus refleksi seorang anak bangsa yang juga ingin terus belajar dan berkembang.

Bahlil bukan hanya menarik bagi penulis karena perjalanan hidupnya dari bawah hingga menjadi tokoh nasional. Bahlil juga memiliki latar belakang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebuah organisasi yang memiliki nilai perjuangan, intelektualitas, dan pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, tulisan ini penulis persembahkan sebagai sebuah harapan kecil untuk dapat sampai kepada Bapak Bahlil Lahadalia.

Penulis ingin menyampaikan satu harapan sederhana:

“Pak Bahlil, saya juga ingin belajar seperti Bapak. Saya ingin terus berjuang dari keterbatasan, melanjutkan pendidikan, dan suatu hari dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat”.

Penulis saat ini memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. Karena itu, tulisan ini juga menjadi ikhtiar untuk mengetuk pintu kesempatan, termasuk berharap memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan doktoral.

Jika suatu hari tulisan sederhana ini sampai kepada Bahlil Lahadalia, penulis tidak berharap sekadar mendapatkan perhatian.

Penulis berharap mendapatkan kesempatan untuk belajar, dibimbing, dan melanjutkan perjuangan pendidikan.

Sebab terkadang seseorang tidak membutuhkan jalan yang mudah.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau berkata:

“Teruslah berjalan. Jangan berhenti bermimpi”.

Dan bagi penulis, kisah Bahlil adalah salah satu cerita yang mengatakan bahwa kalimat itu benar.

Dari bawah seseorang boleh bermimpi setinggi langit. Yang penting, jangan berhenti melangkah.

Watansoppeng, Rabu (12/8/2026).













Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *