Opini

Menanam Mangrove, Menjaga Ingatan Peradaban

×

Menanam Mangrove, Menjaga Ingatan Peradaban

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ada satu kemampuan yang hingga hari ini masih sulit ditandingi manusia: burung selalu tahu jalan pulang.

Setiap tahun, ketika musim dingin menyelimuti belahan bumi utara, ribuan burung bermigrasi melintasi benua dan samudra. Mereka menempuh perjalanan ribuan kilometer tanpa peta, tanpa kompas, tanpa satelit. Namun mereka tiba di tempat yang sama, termasuk di hamparan mangrove Untia, Makassar. Mereka mengenali pesisir itu sebagai rumah singgah tempat memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Ironisnya, burung tidak pernah tersesat. Manusialah yang perlahan kehilangan arah.

Pagi itu, 30 Juli 2026, bertepatan dengan Hari Mangrove Sedunia, kami kembali menjejakkan kaki di pesisir Untia. Bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Green Impact, kami menanam seribu bibit mangrove. Sebelumnya, pada Mei 2026, tujuh ribu mangrove telah lebih dahulu ditanam di lokasi yang sama.

Bagi sebagian orang, kegiatan itu hanyalah penanaman pohon. Namun sesungguhnya kami sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar daripada batang dan daun. Kami sedang menanam kemungkinan agar burung-burung migran tetap menemukan alamatnya, agar nelayan tetap menemukan ikan, agar ombak tidak mudah merampas daratan, dan agar anak-anak kelak masih mengenal seperti apa rupa hutan mangrove.

Di tengah euforia pembangunan, manusia sering menganggap alam sebagai ruang kosong yang menunggu untuk diubah menjadi kawasan ekonomi. Pesisir dipadatkan, rawa ditimbun, mangrove ditebang. Semua dilakukan atas nama kemajuan.

Padahal, setiap pohon mangrove yang hilang sesungguhnya menghapus satu halaman dari buku kehidupan.

Mangrove bukan hanya benteng penahan abrasi. Ia adalah ruang asuh bagi ikan, udang, kepiting, moluska, dan berbagai biota pesisir. Ia menyimpan karbon dalam jumlah besar, membantu menahan laju perubahan iklim. Lebih dari itu, ia adalah simpul penting dalam jalur migrasi burung dunia.

Burung tidak mengenal batas negara. Mereka hanya mengenal ekosistem yang masih hidup.

Karena itu, ketika sebuah hutan mangrove hilang, sesungguhnya yang hilang bukan hanya pepohonan. Yang ikut hilang adalah satu titik persinggahan dalam perjalanan panjang kehidupan.

Peradaban modern terlalu sering mengukur keberhasilan dengan pertumbuhan ekonomi, sementara alam mengajarkan bahwa keberlanjutan jauh lebih penting daripada sekadar pertumbuhan. Apa arti gedung yang menjulang jika pesisir tenggelam? Apa arti investasi miliaran rupiah jika ekosistem yang menopang kehidupan terus menyusut?

Di Untia, saya kembali belajar bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan yang heroik. Ia adalah pekerjaan yang sederhana, tetapi harus dilakukan tanpa henti. Menancapkan satu bibit, merawatnya, lalu kembali lagi menanam bibit berikutnya.

Begitulah sejarah selalu bergerak.

Bukan karena satu tindakan besar, melainkan karena ribuan tindakan kecil yang dilakukan dengan kesetiaan.

Mungkin puluhan tahun dari sekarang tidak ada lagi yang mengingat siapa yang menanam mangrove di Untia pada Hari Mangrove Sedunia tahun 2026.

Namun mungkin, pada suatu pagi, seekor burung dari Siberia atau Asia Timur kembali hinggap di ranting mangrove yang kini telah menjulang. Ia tidak mengetahui nama para penanamnya.

Ia hanya tahu bahwa rumah persinggahannya masih ada.

Dan barangkali, itulah bentuk keberhasilan paling sunyi dari sebuah peradaban: ketika alam tetap mengenali manusia sebagai sahabatnya.

Sebab sesungguhnya, yang sedang kita selamatkan bukan hanya mangrove.

Kita sedang menyelamatkan alamat pulang bagi kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *