Oleh: Mashud Azikin
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ketika kota terus tumbuh dan tanah semakin mahal, ketahanan pangan mungkin justru menemukan rumahnya di ruang-ruang kecil yang selama ini kita abaikan: dapur, pot tanaman, halaman sempit, dan lorong.
MAKASSAR, Pagi di Lorong Cerekang, Kamis (4/9/2026), tidak dimulai dengan sesuatu yang spektakuler.
Tidak ada hamparan sawah. Tidak ada kebun luas. Tidak ada traktor yang bergerak di antara tanaman. Yang ada adalah lorong kota dengan rumah-rumah yang berdempetan, ruang yang terbatas, dan kehidupan warga yang berlangsung sebagaimana biasanya.
Namun, di antara keterbatasan itu, tumbuh sesuatu yang barangkali lebih penting daripada sekadar tanaman.
Pot-pot cabai dan jahe mulai mengisi ruang. Rak vertikal berdiri memanfaatkan bagian lorong yang sebelumnya tidak produktif. Komposter ditempatkan untuk mengolah sisa dapur. Tempat sampah terpilah dan timbangan bank sampah disiapkan untuk mengubah limbah menjadi sumber daya.
Lorong itu sedang belajar menjadi kebun.
Lebih dari itu, ia sedang belajar menjadi sebuah ekosistem kecil.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Ketahanan Pangan Agro Urban Madani PNM 2026, yang dilaksanakan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama Yayasan Butta Porea di Kawasan Rumah Pintar PNM Sungai Cerekang, RW 03, Kelurahan Gaddong, Kecamatan Bontoala, Makassar.
PNM menyalurkan komposter aerob, komposter rumah tangga, 100 liter ecoenzyme, tempat sampah anorganik terpilah, timbangan bank sampah, serta 200 pot tanaman produktif yang terdiri dari 100 pot cabai dan 100 pot jahe.
Sekilas, semua itu mungkin hanya terlihat sebagai bantuan sarana.
Tetapi sesungguhnya ada gagasan yang jauh lebih besar di baliknya: bagaimana sebuah lorong dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangannya dengan mengolah kembali apa yang selama ini dianggap sampah.
Dapur yang Menjadi Titik Awal
Barangkali kita terlalu lama membayangkan pertanian sebagai sesuatu yang harus berlangsung jauh dari rumah.
Sawah ada di desa. Kebun ada di pinggir kota. Pasar menjadi tempat bertemunya petani dan konsumen.
Kota kemudian tumbuh menjadi konsumen besar. Makanan masuk setiap hari, tetapi sisa makanan juga keluar setiap hari. Sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir.
Di sinilah persoalan ekologis bermula.
Sisa nasi, kulit buah, sayuran, dan limbah organik dapur sesungguhnya masih membawa kehidupan di dalamnya. Ketika dibuang bercampur dengan sampah lain, sumber daya itu berubah menjadi beban.
Namun, ketika dipilah dan diolah, ia dapat kembali menjadi bagian dari siklus kehidupan.
Komposter mengubah sisa organik menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman. Ecoenzyme menjadi salah satu bagian dari pendekatan pengelolaan organik yang dikembangkan dalam program ini.
Dari dapur, material kembali ke tanah.
Dari tanah, tumbuh cabai dan jahe.
Dari tanaman, pangan kembali ke meja makan.
Siklus itu sederhana. Tetapi justru kesederhanaannya yang penting.
Sebab keberlanjutan sering kali bukan persoalan teknologi yang rumit, melainkan kemampuan manusia untuk mengembalikan sesuatu ke dalam siklus alaminya.
Lorong sebagai Ruang Kehidupan
Tenaga Ahli Wali Kota Makassar Bidang Urban Farming, Andi Fadly Arifuddin, melihat lorong sebagai ruang yang selama ini menyimpan potensi besar.
“Ketika sampah dapur diolah di tingkat rumah tangga menjadi pupuk, kemudian lorong-lorong dimanfaatkan secara optimal dengan tanaman produktif seperti cabai dan jahe, warga tidak lagi sekadar menjadi konsumen, tetapi juga produsen pangan mandiri di pekarangannya sendiri,” katanya.
Pernyataan itu membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa produktif sebuah kota memanfaatkan ruang hidupnya?
Selama ini lorong sering dipahami sebagai ruang sisa. Ia hanya menjadi jalan untuk keluar-masuk rumah.
Padahal, dengan pendekatan yang tepat, lorong dapat menjadi taman, kebun, ruang interaksi sosial, sekaligus ruang produksi pangan.
Tidak harus luas.
Sebab pertanian perkotaan memang tidak selalu membutuhkan tanah yang luas. Ia membutuhkan kreativitas dalam menggunakan ruang.
Pot menggantikan bedengan. Rak vertikal menggantikan lahan horizontal. Dinding dapat menjadi ruang tumbuh. Atap dan halaman dapat menjadi kebun kecil.
Kota tidak harus kembali menjadi desa untuk menjadi hijau.
Kota hanya perlu mengingat bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar membutuhkan ruang yang sempurna untuk tumbuh.
Mengapa Cabai dan Jahe?
Ada alasan sederhana mengapa cabai dan jahe dipilih.
Keduanya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Cabai hampir selalu hadir dalam dapur Indonesia. Harganya yang berfluktuasi bahkan sering menjadi perhatian rumah tangga sekaligus pemerintah karena dapat memengaruhi tekanan inflasi.
Sementara jahe bukan sekadar bumbu. Ia juga dikenal sebagai tanaman herbal yang telah lama menjadi bagian dari tradisi keluarga.
Maka, menanam cabai dan jahe bukan hanya aktivitas bercocok tanam.
Ia adalah latihan untuk mengurangi ketergantungan.
Satu pot cabai mungkin tidak akan mengubah neraca pangan sebuah kota. Demikian pula satu pot jahe tidak akan membuat keluarga menjadi petani.
Tetapi ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu pot yang dirawat oleh keluarga-keluarga kota dapat membangun sesuatu yang lebih penting: budaya memproduksi sebagian kebutuhan sendiri.
Ketahanan pangan memang tidak selalu dimulai dari lumbung besar.
Ia bisa dimulai dari satu pot.
Sampah yang Berubah Menjadi Modal
Ada bagian lain yang menarik dari model Cerekang: pengelolaan sampah anorganik.
Botol plastik, kardus, kertas, logam, dan berbagai material bernilai ekonomi tidak lagi semata-mata dianggap sebagai benda buangan.
Melalui bank sampah, material tersebut dapat ditimbang, dicatat, dan dikonversi menjadi nilai ekonomi.
Hasilnya dapat menjadi kas kelompok untuk membeli bibit, merawat tanaman, atau membiayai kegiatan lingkungan.
Di titik ini, ekonomi sirkular bertemu dengan kehidupan warga.
Sampah organik kembali ke tanah.
Sampah anorganik kembali menjadi nilai ekonomi.
Tanaman menghasilkan pangan.
Dan warga menjadi pengelola seluruh siklus tersebut.
Inilah yang membuat konsep Agro Urban Madani lebih dari sekadar kegiatan penghijauan.
Ia mencoba membangun rantai nilai ekologis di tingkat paling dekat dengan kehidupan manusia: rumah dan komunitas.
Ketahanan Pangan yang Sesungguhnya
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Pemimpin Cabang PNM Makassar Sugiarto dan Erlina Jayanti Hutabarat, Camat Bontoala H. Patahullah, Lurah Gaddong Rahmawati Mattayang, serta unsur RT dan RW.
Hadir pula Andi Fadly Arifuddin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar Mashud Azikin, dan Ketua Yayasan Butta Porea Andi Pangerang Nur Akbar.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan satu hal penting: ketahanan pangan perkotaan bukan pekerjaan satu lembaga.
Pemerintah memiliki kebijakan. Dunia usaha memiliki sumber daya. Organisasi masyarakat memiliki pengetahuan dan jejaring. Tetapi warga tetap menjadi penentu apakah sebuah program akan hidup atau berhenti sebagai seremoni.
Sebab tanaman tidak tumbuh karena seremoni.
Komposter tidak bekerja karena spanduk.
Bank sampah tidak berjalan karena sambutan.
Semua membutuhkan kebiasaan.
Dan perubahan ekologis pada akhirnya memang selalu berhadapan dengan kebiasaan manusia.
Karena itu, keberhasilan Lorong Cerekang kelak bukan diukur dari berapa banyak pot yang dibagikan atau berapa banyak komposter yang diserahkan.
Ukuran sebenarnya adalah apakah beberapa bulan atau beberapa tahun dari sekarang warga masih memilah sampah, masih mengolah sisa dapur, masih merawat cabai dan jahe, serta masih memandang lorong sebagai milik bersama.
Sebuah Kota yang Belajar Mandiri
Di tengah kota yang semakin padat, gagasan tentang kemandirian pangan terdengar seperti sesuatu yang terlalu besar.
Tetapi mungkin kita keliru memahami kata “mandiri”.
Mandiri bukan berarti sebuah lorong harus menghasilkan seluruh makanannya sendiri.
Mandiri berarti memiliki kemampuan untuk mengambil kembali sebagian kendali atas kebutuhan hidupnya.
Satu keluarga menanam cabai.
Keluarga lain menanam jahe.
Rumah berikutnya mengolah sampah organik.
Yang lain menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah.
Ketika semuanya terhubung, lahirlah sistem.
Dan sistem itulah yang menjadi kekuatan sebuah komunitas.
Lorong Cerekang sedang mencoba membangun sistem tersebut.
Ia belum sempurna. Tanamannya masih muda. Kebiasaannya masih harus dibangun. Keberlanjutannya masih harus diuji oleh waktu.
Namun, setiap perubahan memang selalu dimulai dari sesuatu yang kecil.
Dari sisa sayuran yang tidak lagi dibuang.
Dari satu pot cabai yang dirawat setiap pagi.
Dari jahe yang tumbuh di sudut lorong.
Dari seorang ibu yang mulai memilah sampah.
Dari seorang anak yang melihat bahwa sampah ternyata dapat menjadi pupuk.
Dan dari warga yang perlahan menyadari bahwa lorong tempat mereka tinggal bukan sekadar jalan di antara rumah-rumah.
Ia adalah ruang hidup.
Di sanalah barangkali masa depan ketahanan pangan kota sedang ditanam.
Bukan di tempat yang jauh.
Tetapi tepat di depan pintu rumah kita sendiri.
Sebab kota yang berkelanjutan tidak selalu ditandai oleh gedung-gedung hijau dan teknologi mahal.
Kadang-kadang, tanda paling sederhana dari sebuah kota yang mulai dewasa adalah ketika warganya tahu ke mana sisa makanan harus pergi, dari mana pangan mereka berasal, dan bagaimana ruang sekecil lorong dapat memberi kehidupan.
Dari dapur menjadi kompos. Dari kompos menjadi tanaman. Dari tanaman menjadi pangan. Dari pangan tumbuh kemandirian.
Begitulah sebuah lorong kecil dapat menjadi oase bagi masa depan kota.




























