Membangun Ekosistem Persampahan dari Hulu hingga Hilir
Oleh: Mashud Azikin
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ada kekeliruan lama dalam cara kota memandang sampah: persoalan dianggap selesai ketika truk meninggalkan rumah. Sampah berpindah dari halaman warga ke TPA, lalu kita merasa kota telah bersih.
Padahal sampah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat.
Di TPA Tamangapa, perpindahan itu menjelma menjadi gunungan, lindi, bau, gas, vektor penyakit, dan risiko ekologis bagi masyarakat sekitar. Karena itu, pembenahan Tamangapa tidak cukup dimaknai sebagai penataan kawasan. Ia harus menjadi momentum perubahan paradigma: dari sistem buang-angkut-kubur menuju sistem kurangi-pilah-olah-pulihkan.
Hilir yang Diperbaiki
Peralihan dari open dumping menuju sanitary landfill merupakan fondasi penting. Penataan timbunan, perbaikan akses, penguatan struktur, serta pengendalian operasional diperlukan agar risiko lingkungan dan keselamatan dapat ditekan.
Demikian pula penguatan sistem pengelolaan air lindi. Kolam pengolahan yang terhubung dan jaringan drainase khusus diperlukan untuk memastikan lindi terkumpul, diolah, dan tidak mencemari tanah maupun badan air di sekitar kawasan.
Namun, infrastruktur hilir memiliki batas.
TPA yang semakin baik tidak boleh menjadi alasan untuk terus mengirim sampah dalam jumlah yang sama.
Jika timbulan dari rumah, pasar, kawasan komersial dan permukiman tidak dikurangi, TPA hanya akan memperoleh gunungan yang lebih tertata.
Sapi dan Ekonomi Sirkular
Penataan peternakan merupakan bagian lain yang tidak kalah penting.
Sapi tidak semestinya mencari pakan di timbunan sampah. Selain mengganggu operasional, praktik tersebut berpotensi menimbulkan persoalan keamanan pangan akibat paparan material berbahaya.
Penyediaan ranch atau area penangkaran memberi solusi awal. Tetapi yang lebih strategis adalah membangun rantai pakan dari sumber organik yang aman.
Sampah organik pasar dapat dipilah sejak sumber dan dimanfaatkan sesuai standar yang berlaku. Organik yang tercemar harus ditolak; hanya material yang memenuhi persyaratan yang dapat masuk ke skema pemanfaatan.
Di sinilah ekonomi sirkular memperoleh makna praktis: sampah pasar dikurangi, sumber daya dipulihkan, peternakan memperoleh input yang aman, dan risiko terhadap konsumen ditekan.
Ekonomi sirkular bukan sekadar memutar limbah menjadi produk. Ia harus memastikan bahwa risiko tidak ikut berputar.
Hulu Menentukan Masa Depan Tamangapa
Karena itu, pembenahan Tamangapa harus dimulai jauh sebelum truk memasuki gerbang TPA.
Rumah tangga menjadi titik pertama pemilahan. Sampah organik dipisahkan dari material anorganik bernilai dan residu. Organik yang memungkinkan diolah melalui komposter, ember tumpuk, biopori, atau teknologi pengolahan lain.
Material bernilai masuk ke bank sampah atau rantai daur ulang.
Pasar menjadi titik intervensi berikutnya. Organik dipilah, ditimbang dan diolah; plastik, kardus, logam dan material bernilai masuk ke jalur pemulihan. Residu barulah dikirim ke TPA.
TPS pun perlu bergeser fungsi: dari sekadar tempat transit menjadi simpul pemulihan material. Sampah yang masuk ditimbang, dicatat, dipilah dan diarahkan ke jalur pengolahan masing-masing.
Dengan demikian, sistem persampahan memiliki alur yang jelas:
Rumah → Pemilahan → TPS/Pusat Pemulihan → Daur Ulang/Pengolahan Organik → Residu → TPA.
TPA menjadi tahap terakhir, bukan tujuan utama.
Mengubah Ukuran Keberhasilan
Di sinilah pemerintah perlu mengubah indikator keberhasilan.
Selama ini pertanyaan utama adalah: berapa banyak sampah yang berhasil diangkut?
Ke depan pertanyaannya harus menjadi:
berapa banyak sampah yang berhasil dicegah masuk ke TPA?
Indikatornya dapat dibuat konkret: penurunan timbulan yang masuk TPA, peningkatan pemilahan dari sumber, peningkatan pengolahan organik, peningkatan material yang dipulihkan, serta terjaganya kualitas air dan lingkungan sekitar.
Data menjadi instrumen penting. Kecamatan, pasar dan TPS perlu mengetahui volume sampah yang dihasilkan, dipulihkan dan menjadi residu.
Tanpa pengukuran, kebijakan mudah berhenti sebagai slogan.
Jangan Bangga Dulu
Tamangapa patut dibenahi. Sanitary landfill patut diperkuat. Sistem lindi patut diperketat. Peternakan patut ditata.
Tetapi jangan bangga terlalu cepat.
Keberhasilan pembenahan TPA bukan terutama ditentukan oleh seberapa rapi gunungan sampah terlihat. Ukuran sejatinya adalah seberapa sedikit sampah yang akhirnya perlu dikuburkan.
Kota yang bersih bukan kota yang pandai memindahkan sampah dari pandangan.
Kota yang bersih adalah kota yang mampu mengurangi timbulan, memilah sejak sumber, memulihkan material, mengolah organik, dan mengendalikan residu secara aman.
Pada akhirnya, Tamangapa bukan hanya persoalan teknis persampahan. Ia menyangkut martabat kota: bagaimana kita menjaga tanah dan air, melindungi warga, memastikan keamanan pangan, serta memperlakukan sampah sebagai bagian dari tanggung jawab ekologis.
Tamangapa tidak membutuhkan sekadar wajah baru.
Ia membutuhkan cara berpikir baru.
Dari buang menjadi olah.
Dari limbah menjadi sumber daya.
Dari angkut-kubur menjadi kurangi-pilah-pulihkan.
Sebab masa depan Tamangapa tidak ditentukan hanya oleh apa yang terjadi di dalam pagar TPA.
Ia ditentukan oleh apa yang kita lakukan terhadap sampah sebelum truk datang mengambilnya.












