Oleh: Rudi Sahabuddin
Ketua Umum Relawan Muda Pro Prabowo
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Rencana pemerintah mematangkan pembangunan jaringan Kereta Api Trans-Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer patut diapresiasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat konektivitas nasional. Pemerintah menyatakan jaringan tersebut masih dalam tahap perhitungan dan perencanaan matang, dengan tujuan antara lain menghubungkan berbagai wilayah Kalimantan, memperkuat distribusi logistik, serta membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru.
Presiden Prabowo Subianto juga telah mendorong pengembangan jaringan perkeretaapian nasional. Dalam perkembangan terbaru, pemerintah menyebut pembangunan Trans-Sumatra akan ditindaklanjuti dengan proyek Trans-Kalimantan.
Namun, sebagai bagian dari masyarakat Sulawesi, kita juga perlu menyampaikan satu pesan penting: Pembangunan rel kereta api nasional jangan berhenti di Jawa, Sumatra, atau Kalimantan. Sulawesi harus masuk dalam prioritas pembangunan konektivitas nasional secara lebih serius.
Bukan sekadar karena Sulawesi membutuhkan kereta api, tetapi karena pembangunan jaringan rel di pulau ini memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi Kawasan Timur Indonesia.
Dari Makassar, Jangan Berhenti di Parepare
Sulawesi sebenarnya bukan memulai dari nol.
Pemerintah telah membangun dan mengoperasikan Kereta Api Makassar–Parepare, yang merupakan bagian dari rencana besar Trans-Sulawesi. Kementerian Perhubungan mencatat bahwa jalur tersebut merupakan bagian dari rencana jaringan kereta api yang menghubungkan wilayah Sulawesi hingga Sulawesi Utara.
Bahkan, dokumen kebijakan pemerintah secara eksplisit menyebut bahwa pengembangan Trans-Sulawesi diarahkan untuk menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Utara.
Artinya, gagasan membangun jaringan kereta api dari Makassar menuju Manado bukanlah gagasan yang muncul tiba-tiba.
Ia sudah memiliki landasan dalam perencanaan transportasi nasional.
Karena itu, pekerjaan rumah kita sekarang adalah bagaimana membuat gagasan tersebut menjadi agenda pembangunan yang terukur, bertahap, layak secara ekonomi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Mengapa Harus Sampai Manado?
Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa harus Manado?
Jawabannya sederhana: Karena pembangunan konektivitas harus melihat jaringan ekonomi, bukan sekadar batas administrasi provinsi.
Makassar merupakan salah satu simpul ekonomi penting di kawasan timur Indonesia. Parepare memiliki posisi strategis sebagai kota pelabuhan dan simpul distribusi. Palu memiliki posisi penting di Sulawesi Tengah. Gorontalo memiliki potensi pertanian, perikanan, dan perdagangan. Sementara Manado dan Bitung memiliki posisi strategis dalam perdagangan, pariwisata, jasa, serta konektivitas kawasan utara Indonesia.
Jika titik-titik tersebut dihubungkan dengan jaringan kereta api secara bertahap, maka Sulawesi tidak hanya memiliki jalur kereta api.
Sulawesi akan memiliki tulang punggung konektivitas ekonomi baru.
Kereta api dapat menghubungkan kawasan produksi dengan pusat konsumsi, kawasan industri dengan pelabuhan, sentra pertanian dengan pasar, serta kawasan wisata dengan pusat-pusat pelayanan.
Inilah yang seharusnya menjadi cara pandang baru terhadap pembangunan rel.
Manado-Bitung Harus Mendapat Perhatian
Kawasan Manado dan Bitung memiliki alasan kuat untuk mendapatkan perhatian dalam pengembangan jaringan kereta api Sulawesi.
Dokumen perencanaan transportasi pemerintah sebelumnya telah menempatkan lintas Manado–Bitung sebagai salah satu jaringan dengan prioritas tinggi di Sulawesi. Arah pengembangan tersebut juga dikaitkan dengan kebutuhan menghubungkan sentra produksi dengan pelabuhan, membuka keterisolasian wilayah, serta mewujudkan keterpaduan antarmoda.
Ini penting karena pembangunan kereta api tidak boleh hanya berorientasi pada mobilitas penumpang.
Kereta api harus menjadi mesin logistik.
Barang hasil pertanian, perkebunan, perikanan, industri, dan berbagai komoditas unggulan daerah harus dapat bergerak lebih cepat dan efisien menuju pusat distribusi dan pelabuhan.
Dengan demikian, pembangunan rel dari Makassar menuju Manado harus dipandang sebagai bagian dari strategi besar meningkatkan daya saing Sulawesi.
Sulawesi Punya Modal Ekonomi
Pemerintah sendiri dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah telah menempatkan Sulawesi sebagai salah satu sumber utama penggerak ekonomi Kawasan Timur Indonesia.
Dokumen tersebut juga menyebut penyempurnaan pembangunan jalur kereta api Trans-Sulawesi sebagai bagian dari pembangunan konektivitas yang diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan di wilayah Sulawesi.
Ini menunjukkan bahwa pembangunan perkeretaapian di Sulawesi tidak berdiri sendiri.
Ia terkait langsung dengan agenda industrialisasi, hilirisasi, perdagangan, pariwisata, pertanian, perikanan dan pemerataan pembangunan.
Karena itu, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah perlu duduk bersama menyusun roadmap Trans-Sulawesi menuju Manado.
Bukan sekadar wacana.
Bukan pula sekadar janji politik.
Tetapi roadmap yang berisi trase prioritas, studi kelayakan, kebutuhan pembebasan lahan, skema pembiayaan, potensi angkutan barang dan penumpang, integrasi pelabuhan, kawasan industri, bandara, serta pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
Jangan Bangun Rel Tanpa Ekosistem
Pembangunan rel saja tidak cukup.
Kita harus belajar dari berbagai proyek infrastruktur bahwa keberhasilan sebuah transportasi publik tidak hanya ditentukan oleh panjang rel yang dibangun.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang diangkut, siapa yang menggunakan, ke mana jaringan tersebut terhubung, dan aktivitas ekonomi apa yang tumbuh di sepanjang koridor tersebut.
Karena itu, Trans-Sulawesi harus dirancang sebagai jaringan ekonomi.
Stasiun harus terkoneksi dengan kawasan permukiman.
Jalur barang harus terhubung dengan pelabuhan dan kawasan industri.
Terminal harus terintegrasi dengan angkutan darat.
Kawasan wisata harus memiliki akses transportasi publik yang mudah.
Dengan konsep tersebut, kereta api tidak menjadi proyek infrastruktur semata, melainkan menjadi instrumen pemerataan pembangunan.
Dari Makassar ke Manado: Sebuah Visi Besar
Saya melihat momentum pembangunan infrastruktur nasional di era Presiden Prabowo Subianto harus menjadi kesempatan bagi Sulawesi untuk menyampaikan aspirasi secara konstruktif.
Ketika pemerintah sedang mematangkan jaringan Trans-Kalimantan, maka Sulawesi juga harus berani menyampaikan gagasan:
Jika Kalimantan disiapkan dengan Trans-Kalimantan, maka Sulawesi harus dipercepat dengan Trans-Sulawesi.
Makassar–Parepare jangan menjadi titik akhir.
Jaringan tersebut harus dikembangkan secara bertahap menuju wilayah-wilayah strategis di Sulawesi, hingga akhirnya terhubung dengan Manado dan kawasan Bitung.
Tentu pembangunan tersebut harus berdasarkan studi kelayakan, kemampuan fiskal, kebutuhan ekonomi, kondisi geografis, aspek lingkungan, serta skema pembiayaan yang sehat.
Kita tidak ingin membangun rel hanya untuk mengejar panjang kilometer.
Kita ingin membangun rel untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, efisiensi logistik dan kesejahteraan rakyat.
Saatnya Sulawesi Berbicara
Pembangunan nasional yang baik adalah pembangunan yang menghubungkan Indonesia dari berbagai penjuru.
Jawa memiliki jaringan kereta api yang relatif maju.
Sumatra sedang didorong untuk memperkuat konektivitas rel.
Kalimantan mulai disiapkan dengan visi jaringan Trans-Kalimantan.
Maka Sulawesi tidak boleh tertinggal.
Sulawesi memiliki sumber daya alam, kawasan industri, pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata dan posisi geografis yang sangat strategis.
Yang dibutuhkan adalah konektivitas yang mampu mengikat seluruh potensi tersebut dalam satu jaringan ekonomi.
Dari Makassar ke Parepare. Dari Parepare menuju koridor Sulawesi Tengah. Dari sana menuju Gorontalo dan akhirnya menembus Manado serta Bitung.
Itulah visi yang patut diperjuangkan.
Bukan untuk satu provinsi.
Bukan untuk satu kelompok.
Tetapi untuk membangun Sulawesi yang lebih terhubung dan Indonesia yang semakin terkoneksi.
Sebagai Ketua Umum Relawan Muda Pro Prabowo, saya memandang pembangunan infrastruktur harus dikawal dengan optimisme sekaligus kritik yang konstruktif. Dukungan kepada pemerintah bukan berarti berhenti menyampaikan aspirasi daerah.
Justru dukungan terbaik adalah ikut mendorong agar kebijakan nasional benar-benar menghadirkan manfaat bagi seluruh rakyat.
Trans-Kalimantan adalah langkah besar. Trans-Sulawesi menuju Manado harus menjadi langkah besar berikutnya.
Karena Indonesia yang maju bukan hanya Indonesia yang memiliki jalan dan rel yang panjang, tetapi Indonesia yang mampu membuat jarak antardaerah menjadi semakin dekat, biaya logistik semakin murah, ekonomi daerah semakin hidup, dan kesejahteraan masyarakat semakin merata.
1
2. Kementerian Perhubungan RI, Sosialisasi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Perkeretaapian Makassar–Parepare — menjelaskan rencana Trans-Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.
3. Kementerian Perhubungan RI, Menhub Dorong Percepatan Jalur Kereta Api Logistik di Sulawesi Selatan — mengenai pengembangan KA Makassar–Parepare untuk angkutan logistik.
4. Pemerintah RI, Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025 — mencantumkan penyempurnaan pembangunan jalur kereta api Trans-Sulawesi dalam konteks konektivitas dan pemerataan pembangunan Sulawesi.
5. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029 sebagai kerangka resmi perencanaan pembangunan nasional periode 2025–2029.
6. ANTARA, 23 April 2026, mengenai rencana pemerintah membidik pembangunan 2.772 km jalur kereta api di Kalimantan, yang masih dalam tahap perhitungan dan perencanaan.




























