Opini

Kedaulatan Musiman

×

Kedaulatan Musiman

Sebarkan artikel ini

Oleh : Suhar 

Opini Publik, Potretnusanatara.co.id – Tanah kami subur, air kami jernih, hutan kami hijau. Di perut bumi ada emas dengan kilaunya, ada batu bara dengan hitamnya, ada minyak dengan kepekatannya, ada logam serta besi yang menjadi kebutuhan di sektor industri, dan masih banyak lagi kekayaan yang tertimbun di dalamnya.

Di dasar laut, ada ikan, udang, rumput laut, siput yang menjadi sumber kehidupan, hingga potensi bioteknologi, energi terbarukan, serta berbagai kekayaan alam lainnya yang tidak disebutkan. Jika diakumulasikan, kita adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah. Lalu, apabila seluruh kekayaan tersebut dikelola dengan kejujuran, integritas, serta pemikiran yang berorientasi pada kepentingan kolektif, maka kesejahteraan, kemajuan, dan kedamaian semestinya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.

Namun faktanya, tanah air yang seharusnya dihiasi dengan kedamaian, kemajuan, serta kesejahteraan justru bermetamorfosis menjadi tanah yang menyuburkan kekacauan, kehancuran, kesewenang-wenangan, serta kesejahteraan yang hanya dinikmati oleh masyarakat kelas atas; dalam hal ini pemerintah, pemodal besar, dan pemodal serta pemerintah yang besar.

Mungkin konstitusi yang menyatakan bahwa bumi, air, udara, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara serta dikelola untuk kepentingan rakyat dalam Pasal 33 ayat (3) (UUD 1945) menjadi pegangan mereka dalam menguasai seluruh kekayaan alam, dan mereduksi kata rakyat hanya rakyat tertentu saja.

Tanah air yang selama ini kita huni adalah negara yang secara konstitusional mengedepankan kepentingan kolektif masyarakat. Hal ini dibuktikan oleh UUD 1945 yang secara tegas menetapkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Dengan kata lain, negara ini dibangun di atas fondasi demokrasi yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah: apakah demokrasi berlaku secara komprehensif dalam setiap langkah dan gerakan negara, ataukah ia hanya dasar negara musiman, yang berlaku pada saat pemilihan pemimpin saja?

Silakan jawab dalam hati dengan melihat realitas yang ada.

Jika jawabannya ya, maka sebab atas kehancuran, kekacauan, degradasi sosial, dan ketidaksejahteraan yang dialami masyarakat kelas bawah hari ini sesungguhnya telah ditemukan. Sebab, pada hakikatnya, demokrasi haram untuk direduksi. Demokrasi tidak boleh berhenti pada bilik suara, lalu absen dalam pengelolaan sumber daya alam, perumusan kebijakan publik, serta berbagai keputusan yang menentukan nasib hidup seluruh rakyat.

Entah apa tema dari tulisan saya kali ini, ini tak lagi berangkat pada data seperti hasil survei, penelitian, hasil statistik yang sering dijadikan bahan perdebatan di meja-meja bundar yang diselimuti dengan kesejukan dalam ruangan dengan dinding-dinding megahnya, tapi ini adalah fakta yang kami lihat langsung dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, sebab kondisi yang terjadi di sekitar kami lebih lantang mengungkapkan fakta sesungguhnya dibandingkan dengan data yang tertulis di atas kertas yang kami tak tahu seberapa besar keakuratannya.

Dan untuk aku, kamu, kami, mereka, dan kita semua, mari menjadi bagian dari pemupuk kesejahteraan negeri ini, dengan bersuara atas apa yang terjadi di sekitar kita sebab para pengemudi membutuhkan suara dari penumpang untuk mengarahkan kendaraan pada alamat yang benar.

Resah Budaya Baca Menurun, Mahasiswa Unasman Rutin Gelar Pojok Baca

Polewali Mandar, Potretnusanatara. –  Mahasiswa Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman) menghadirkan ruang-ruang produktif di pelataran kampus Unasman, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Selasa (22/6/2026).

Kehadiran “Pojok Baca” di kampus Unasman bukanlah hal yang baru dikalangan mahasiswa di Polewali Mandar. Kegiatan tersebut, menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk membaca buku dengan gratis tanpa harus ke perpustakaan kampus.

Pojok Baca yang dilaksanakan seminggu sekali tepatnya disetiap hari Selasa menjadi kesempatan bagi setiap mahasiswa untuk mendiskusikan berbagai macam bacaan mereka. Kegiatan itu pula, terbuka secara umum sehingga setiap mahasiswa dari perguruan tinggi yang ada di Polewali Mandar memiliki kesempatan untuk bergabung dengan membawa buku bacaan terbaik mereka.

Menurut Agus, Pojok Baca hadir sebagai bentuk keresahan melihat realitas yang sedang dihadapi oleh kalangan akademisi. Mahasiswa menjadi salah satu pihak yang terdampak oleh perkembangan teknologi yang mendorong ketergantungan pada sistem digital yang dirancang sedemikian rupa.

Agus menilai, kondisi tersebut berpotensi menggerus budaya literasi dan daya kritis mahasiswa jika tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca serta diskusi yang sehat.

“Kami melihat semakin banyak mahasiswa yang mengandalkan teknologi untuk memperoleh informasi secara instan, namun di sisi lain minat membaca dan mengkaji sumber-sumber ilmiah secara mendalam mulai berkurang. Karena itu, Pojok Baca hadir sebagai ruang alternatif untuk menghidupkan kembali budaya literasi di lingkungan kampus,” kata Agus.

Selain itu, Agus mengharapkan agar Pojok Kampus menjadi ruang untuk saling bertemunya ide dan gagasan setiap mahasiswa. Ia menambahkan, kegiatan seperti ini senantiasa dirawat dan tetap dijaga agar budaya membaca buku tidak hilang dari diri mahasiswa. 

“Kita adalah para kaum intelektual yang senantiasa indentik dengan buku. Maka, budaya membaca mesti kita rawat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *