Opini

Dari Tumpukan Sampah Menuju Kesadaran Kolektif: Jalan Baru Makassar Menata Kota

×

Dari Tumpukan Sampah Menuju Kesadaran Kolektif: Jalan Baru Makassar Menata Kota

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin
Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Kota selalu tumbuh dengan cara yang paradoks. Di satu sisi ia menjanjikan kemajuan, kenyamanan, dan peradaban. Namun di sisi lain, kota juga memproduksi limbah, kesenjangan, serta jarak antara manusia dengan alamnya sendiri. Kita membangun gedung tinggi, tetapi perlahan kehilangan kemampuan mendengar suara sungai. Kita memperlebar jalan, tetapi menyempitkan ruang hijau. Kita menciptakan pusat-pusat konsumsi, namun lupa ke mana sampah dari seluruh aktivitas itu akan berakhir.
Makassar sedang berada di persimpangan sejarah itu.

Sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia Timur, Makassar menghadapi tantangan lingkungan yang tidak kecil. Volume sampah meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan ekspansi kawasan permukiman. Lorong-lorong padat, pasar tradisional, kawasan pesisir, hingga kanal kota menjadi saksi bagaimana manusia modern sering kali memproduksi lebih banyak sampah daripada kesadarannya sendiri.

Di titik inilah persoalan lingkungan tidak lagi cukup dibaca sebagai urusan teknis pengangkutan atau pengelolaan sampah semata. Ia telah berubah menjadi persoalan etika. Persoalan tentang bagaimana manusia memandang dirinya di hadapan alam.

Selama bertahun-tahun, cara pandang pembangunan perkotaan kita terlalu dikuasai oleh semangat antroposentrisme—sebuah keyakinan bahwa manusia adalah pusat dari segalanya. Alam hanya dianggap penting sejauh memberi manfaat ekonomi. Pohon dihitung sebagai kayu, lahan hijau dinilai sebagai potensi bisnis properti, dan sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan raksasa.

Akibatnya, relasi manusia dan lingkungan berubah menjadi relasi eksploitasi.
Padahal, setiap plastik yang dibuang sembarangan sesungguhnya tidak pernah benar-benar “hilang”. Ia hanya berpindah tempat: menyumbat drainase, mencemari laut, memasuki tubuh ikan, lalu kembali ke meja makan manusia sendiri. Alam selalu memiliki cara untuk mengembalikan akibat dari perilaku kita.

Karena itu, krisis sampah sejatinya adalah krisis kesadaran.
Kita membutuhkan perubahan cara pandang yang lebih ekologis dan lebih manusiawi. Dalam etika biosentrisme dan ekosentrisme, manusia bukan penguasa tunggal bumi, melainkan bagian dari jejaring kehidupan yang saling bergantung. Sungai memiliki hak untuk tetap bersih. Udara memiliki hak untuk tetap sehat. Tanah memiliki hak untuk tetap subur. Bahkan makhluk hidup terkecil sekalipun memiliki nilai yang tidak semata-mata ditentukan oleh keuntungan ekonomi.

Pemikiran inilah yang relevan ketika Kota Makassar mulai bergerak membenahi sistem persampahannya di bawah kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.
Upaya pemerintah kota untuk memperkuat pengurangan dan penanganan sampah secara efektif dan efisien sejatinya bukan hanya proyek administrasi pemerintahan. Ia adalah proyek peradaban. Sebuah usaha untuk mengembalikan hubungan etis antara warga kota dengan lingkungan hidupnya.

Kesadaran itu terlihat dari mulai didorongnya partisipasi masyarakat dalam memilah sampah dari rumah, penguatan bank sampah, edukasi pengurangan plastik sekali pakai, hingga dorongan pemanfaatan sampah organik melalui kompos dan eco enzyme. Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di situlah inti perubahan ekologis sesungguhnya: membangun budaya.

Sebab kota yang bersih tidak lahir hanya dari armada pengangkut sampah yang banyak. Kota bersih lahir dari warga yang memiliki rasa malu membuang sampah sembarangan dan memiliki kebanggaan menjaga lingkungannya.
Makassar membutuhkan gerakan moral bersama.

Di banyak lorong kota, kita mulai melihat tumbuhnya kesadaran baru itu. Ada warga yang mengubah pekarangannya menjadi kebun kecil. Ada komunitas yang mengolah sampah organik menjadi pupuk. Ada anak-anak muda yang mengedukasi soal pengurangan plastik. Ada ibu rumah tangga yang mulai memilah sampah dapurnya. Semua ini mungkin tampak kecil, tetapi sejarah perubahan memang selalu dimulai dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Etika lingkungan pada akhirnya bukan sekadar teori filsafat di ruang akademik. Ia hidup dalam keputusan sehari-hari: membawa tas belanja sendiri, mengurangi konsumsi berlebihan, menanam pohon, memilah sampah, menjaga kanal tetap bersih, dan menghormati ruang hidup makhluk lain.

Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan lagi sekadar kewajiban administratif terhadap aturan pemerintah, melainkan bentuk solidaritas kosmik. Kesadaran bahwa manusia hidup dari udara yang sama, air yang sama, dan tanah yang sama. Ketika satu bagian ekosistem rusak, maka seluruh jaringan kehidupan ikut terganggu.

Makassar sebagai kota pesisir memahami ancaman itu dengan sangat nyata. Perubahan iklim, banjir perkotaan, pencemaran laut, dan meningkatnya volume sampah adalah alarm ekologis yang tidak boleh diabaikan. Dan ironisnya, kelompok masyarakat kecil sering kali menjadi pihak paling rentan menerima dampaknya.

Karena itu, keadilan lingkungan menjadi penting. Penataan kota yang sehat harus memastikan bahwa lingkungan bersih bukan hanya dinikmati kawasan elite, tetapi juga hadir di lorong-lorong padat, pemukiman pesisir, dan ruang hidup masyarakat kecil. Hak atas lingkungan sehat adalah hak semua warga kota.
Di tengah berbagai tantangan itu, Makassar sebenarnya memiliki modal sosial yang besar: semangat gotong royong dan kultur komunal masyarakatnya. Jika kekuatan budaya ini dipadukan dengan kebijakan lingkungan yang progresif, maka kota ini dapat menjadi contoh bagaimana pembangunan modern tidak harus menghancurkan alam.

Kita tentu tidak naif menganggap persoalan sampah akan selesai dalam semalam. Namun perubahan besar selalu dimulai dari keberanian membangun kesadaran kolektif.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti melihat sampah hanya sebagai benda buangan. Sebab di balik tumpukan sampah itu, sesungguhnya tersimpan cermin tentang cara manusia memperlakukan bumi.

Dan masa depan kota pada akhirnya akan ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana: apakah manusia masih memiliki etika terhadap alamnya, atau justru terus hidup sebagai spesies yang perlahan menghancurkan rumahnya sendiri?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *