Oleh: Akbar (Panitia Pelaksana)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Pelaksanaan Kongres KEPMI Bone tahun 2026 mulai menunjukkan dinamika yang semakin serius menjelang hari pelaksanaan pada tanggal 9–12 Mei mendatang. Hari ini, steering committee bersama panitia pelaksana resmi melaksanakan tahapan verifikasi berkas bakal calon ketua umum yang sebelumnya telah mengembalikan formulir pendaftaran.
Dari tiga bakal calon yang mengikuti proses pencalonan, hanya dua nama yang dinyatakan memenuhi syarat dan sah secara verifikasi administrasi serta rekomendasi, yakni Muh. Khaidir Mu’tashim dan Syukur. Sementara Andi Syahrul Aksa dinyatakan tidak lulus karena tidak memenuhi ketentuan persyaratan yang telah ditetapkan dalam mekanisme kongres.
Keputusan ini menjadi perhatian banyak kader karena menunjukkan bahwa proses regenerasi di tubuh KEPMI Bone tidak lagi hanya dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan sebagai ruang penegasan integritas organisasi. Panitia dan steering committee dinilai mengambil langkah tegas untuk menjaga marwah forum agar tetap berjalan sesuai konstitusi dan aturan organisasi yang berlaku.
Dalam dinamika organisasi mahasiswa, perbedaan pandangan dan kontestasi merupakan sesuatu yang lumrah. Namun, hal yang paling penting adalah bagaimana seluruh proses tetap berjalan dalam koridor etika organisasi, transparansi, dan penghormatan terhadap mekanisme yang telah disepakati bersama. Kongres bukan sekadar arena perebutan kepemimpinan, tetapi juga ruang pembelajaran politik organisasi bagi seluruh kader.
Sebagaimana semboyan KEPMI Bone, “Mabbulo Sipeppa, Malilu Sipakainge, Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong,” yang mengandung makna persatuan, saling mengingatkan, saling menyelamatkan, dan saling menopang dalam setiap keadaan. Nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi seluruh kader dalam menyikapi dinamika kongres hari ini. Bahwa perbedaan pilihan adalah hal biasa, tetapi menjaga persaudaraan dan marwah organisasi adalah tanggung jawab bersama.
KEPMI Bone sebagai organisasi mahasiswa daerah yang telah lama menjadi ruang kaderisasi, intelektualisme, dan gerakan sosial mahasiswa Bone di Makassar tentu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas regenerasinya. Sebab, dari forum seperti inilah arah gerakan organisasi akan ditentukan untuk satu periode ke depan.
Momentum kongres tahun ini juga menjadi ujian kedewasaan bagi seluruh elemen organisasi. Kedewasaan dalam menerima keputusan forum, kedewasaan dalam menghargai aturan, dan kedewasaan dalam menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan personal maupun kelompok.
Di tengah berbagai dinamika yang berkembang, seluruh kader diharapkan tetap menjaga stabilitas organisasi dan tidak membangun opini yang dapat memperkeruh situasi internal. Sebaliknya, momentum ini harus dijadikan sebagai penguatan bahwa KEPMI Bone masih memiliki komitmen terhadap regenerasi yang sehat, terbuka, dan bertanggung jawab.
Kongres 2026 bukan hanya tentang siapa yang akan menjadi ketua umum berikutnya. Lebih dari itu, kongres ini adalah tentang bagaimana KEPMI Bone membuktikan bahwa organisasi tetap berdiri di atas nilai kekeluargaan, integritas, dan keberanian menjaga marwah perjuangan mahasiswa Bone.













