Oleh: Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Di banyak kota di Indonesia, sampah selalu dibicarakan sebagai sesuatu yang harus dibuang. Ia dipindahkan dari rumah-rumah ke lorong, dari lorong ke kontainer, lalu dari kontainer ke Tempat Pembuangan Akhir. Kota modern tumbuh dengan filosofi sederhana: singkirkan yang kotor sejauh mungkin dari pandangan.
Tetapi sejarah memperlihatkan satu ironi yang terus berulang. Semakin jauh sampah dibuang, semakin dekat bencana datang ke kota. Gunungan sampah tumbuh seperti bukit-bukit baru yang tidak pernah direncanakan dalam tata ruang. Sungai kehilangan fungsi ekologisnya dan berubah menjadi saluran plastik. Udara di sekitar TPA dipenuhi gas metana yang pelan-pelan menghangatkan bumi. Kota lalu menjadi ruang yang paradoks: modern di permukaan, tetapi rapuh di fondasi ekologinya.
Karena itu, ketika rombongan dari Makassar mengunjungi TPS3R Mulyoagung Bersatu di Malang beberapa waktu lalu, sesungguhnya mereka tidak hanya sedang melihat fasilitas pengolahan sampah. Mereka sedang menyaksikan sebuah perubahan cara berpikir tentang kota. Di tempat itu, sampah tidak diperlakukan sebagai akhir dari konsumsi, melainkan awal dari kehidupan baru.
TPS3R Mulyoagung Bersatu berdiri di tengah kesadaran bahwa kota tidak mungkin terus hidup dengan pola linear: ambil, pakai, buang. Pola semacam itu mungkin cocok bagi peradaban industri abad ke-20, tetapi tidak lagi memadai untuk kota-kota padat abad ke-21 yang lahannya makin sempit, populasinya membengkak, dan daya dukung lingkungannya terus melemah.
Yang menarik dari Mulyoagung bukan semata teknologinya. Bukan pula sekadar kemampuan mengurangi volume sampah. Kekuatan utama kawasan itu justru terletak pada keberhasilannya membangun hubungan baru antara manusia, limbah, dan ruang hidup.
Di sana, sampah organik rumah tangga tidak berhenti sebagai benda busuk. Ia diolah menjadi kompos, eco enzyme, pakan maggot, hingga nutrisi pertanian. Dari sisa dapur lahir sayuran. Dari limbah lahir kehidupan baru.
Inilah yang oleh banyak ekolog disebut sebagai ekonomi sirkular sebuah sistem yang menolak konsep sampah sebagai residu akhir. Segala sesuatu diputar kembali ke dalam ekosistem produksi.
Kota yang mampu melakukan itu sesungguhnya sedang belajar meniru cara kerja alam.
Sebab di hutan, tidak ada sampah.
Daun yang gugur menjadi humus. Batang yang lapuk menjadi nutrisi. Segala yang mati kembali memberi kehidupan. Alam bekerja dalam siklus, bukan garis lurus.
Dan kota-kota modern perlahan mulai menyadari bahwa mereka harus kembali belajar dari logika ekologis tersebut.
Di Indonesia, urban farming sering dipahami secara sempit sebagai aktivitas menanam cabai di pot atau selada di pipa paralon. Padahal sesungguhnya urban farming adalah gagasan politik tentang bagaimana kota memproduksi kehidupannya sendiri.
Ia bukan sekadar kegiatan bertani di kota, melainkan upaya merebut kembali kemandirian ekologis yang selama ini hilang akibat pola pembangunan yang terlalu konsumtif.
TPS3R Mulyoagung Bersatu memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dan urban farming tidak boleh dipisahkan. Keduanya adalah satu kesatuan ekosistem.
Kompos dari sampah organik menjadi media tanam. Maggot BSF menjadi pakan ikan dan unggas. Air hasil pengolahan dimanfaatkan kembali. Botol plastik bekas berubah menjadi vertikultur. Dinding beton disulap menjadi kebun pangan.
Di titik itu, kota tidak lagi menjadi mesin konsumsi yang rakus, tetapi mulai berubah menjadi organisme hidup yang memproduksi ulang energinya sendiri.
Barangkali di sinilah masa depan kota-kota Indonesia akan ditentukan: bukan pada seberapa tinggi gedungnya, tetapi pada seberapa mampu ia mengolah limbahnya menjadi kehidupan.
Makassar sesungguhnya memiliki tantangan yang mirip. Kota pesisir ini terus tumbuh dengan cepat, tetapi pertumbuhan itu dibayangi persoalan sampah yang semakin kompleks. TPA Antang memikul beban besar. Produksi sampah harian meningkat, sementara kesadaran pemilahan dari sumber masih rendah.
Di saat yang sama, ruang terbuka hijau terus menyusut. Permukiman padat bertambah. Ketergantungan pangan dari luar daerah semakin tinggi.
Karena itu, pelajaran penting dari Mulyoagung bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan dipahami semangatnya.
Bahwa pengelolaan sampah tidak cukup diselesaikan dengan armada pengangkut dan TPA baru. Kota membutuhkan rekayasa sosial-ekologi yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Di sinilah urban farming menjadi penting.
Ia bukan program tambahan yang bersifat kosmetik, melainkan strategi ekologis untuk memulihkan hubungan warga dengan lingkungannya. Ketika masyarakat mulai memilah sampah, membuat kompos, menanam sayur, memelihara maggot, dan memanfaatkan kembali limbah organik, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya kebun kecil di halaman rumah.
Yang sedang dibangun adalah budaya baru tentang kota.
Budaya yang tidak lagi melihat alam sebagai tempat membuang residu pembangunan, tetapi sebagai mitra hidup yang harus dijaga keseimbangannya.
Krisis ekologis perkotaan hari ini pada dasarnya adalah krisis cara pandang. Kota terlalu lama dibangun dengan imajinasi beton, aspal, dan pertumbuhan ekonomi semata. Akibatnya, manusia urban perlahan tercerabut dari siklus ekologis yang menopang hidupnya.
Kita membeli makanan tanpa mengenal tanah tempat ia tumbuh. Kita membuang sampah tanpa memikirkan ke mana ia berakhir. Kita mengonsumsi ruang tanpa pernah belajar memulihkannya kembali.
Karena itu, gerakan pengurangan sampah berbasis urban farming sesungguhnya adalah gerakan memulihkan kesadaran ekologis kota.
Ia mengajarkan bahwa sisa makanan bukan musuh. Bahwa lorong sempit masih bisa menjadi ruang hijau. Bahwa limbah bisa menjadi sumber pangan. Dan bahwa kota tidak harus selalu identik dengan keterasingan manusia dari alam.
Mulyoagung memberi contoh bahwa perubahan itu mungkin terjadi ketika teknologi dipadukan dengan partisipasi warga dan keberanian politik pemerintah.
Kota yang sehat bukan kota yang paling bersih dari sampah, melainkan kota yang paling mampu mengelola siklus kehidupannya sendiri.
Dan mungkin, masa depan kota-kota Indonesia memang akan lahir dari tempat-tempat sederhana seperti TPS3R ruang yang selama ini dipandang pinggiran, tetapi diam-diam sedang mengajarkan kembali makna peradaban.













