Oleh: Mashud Azikin
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Di sebuah lorong sempit di Makassar, yang biasanya hanya dipenuhi suara knalpot dan obrolan ringan warga, tiba-tiba muncul pemandangan yang tak lazim: pot-pot sayur tersusun rapi, daun-daun hijau menjulur segar dari wadah bekas, dan tanah yang diaduk dengan kesungguhan. Di tengah aktivitas itu, seorang lelaki dengan wajah yang akrab bagi banyak orang tampak menunduk, tangannya kotor oleh tanah. Ia bukan sedang “meninggalkan” panggung, melainkan sedang memperluas maknanya. Dialah Andi Fadly Arifuddin—publik mengenalnya sebagai Fadly Padi, vokalis Padi Reborn, band yang telah membesarkan namanya dan hingga kini tetap ia geluti dengan konsisten.
Fadly tidak benar-benar berpindah dunia. Ia tetap bernyanyi, tetap berdiri di atas panggung, tetap menyapa penggemarnya melalui lagu-lagu yang telah menjadi bagian dari memori kolektif. Namun, di sela-sela itu, ia membuka panggung lain yang lebih sunyi, lebih membumi, dan barangkali lebih panjang napasnya.
Panggung itu bernama Tanami Tanata’.
Dalam bahasa Makassar, “Tanami Tanata’” berarti “tanami tanah kita”. Sebuah ajakan yang sederhana, tetapi mengandung kedalaman makna. Di kota seperti Makassar, yang tumbuh dengan cepat dan semakin padat, tanah sering kali kehilangan makna simboliknya. Ia berubah menjadi komoditas, menjadi fondasi bangunan, atau sekadar ruang yang tertutup beton. Fadly mencoba mengembalikan percakapan itu: bahwa tanah bukan sekadar tempat berpijak, tetapi juga sumber kehidupan yang harus dirawat.
Menariknya, Fadly tidak datang sebagai “mantan musisi yang beralih profesi”. Ia tetap seorang musisi aktif. Di satu sisi, ia tampil bersama Padi Reborn, membawakan lagu-lagu yang sarat emosi dan refleksi. Di sisi lain, ia turun ke lorong-lorong kota, mengajak warga menanam cabai, kangkung, dan berbagai tanaman pangan sederhana. Dua dunia ini tidak saling meniadakan justru saling menguatkan.
Di sinilah letak kekhasan Fadly: ia menjembatani seni dan ekologi tanpa harus kehilangan salah satunya.
Urban farming atau pertanian perkotaan sebenarnya bukan konsep baru. Namun, ia sering kali terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat kota. Ada jarak antara wacana dan praktik. Fadly memotong jarak itu. Ia menghadirkan urban farming dalam bentuk yang paling sederhana dan bisa dijangkau siapa saja.
Tidak perlu lahan luas, tidak perlu alat mahal. Cukup kemauan, sedikit kreativitas, dan kesediaan untuk belajar.
Melalui Tanami Tanata’, ia meruntuhkan anggapan lama bahwa bertani adalah pekerjaan orang desa. Ia justru menunjukkan bahwa di tengah kota pun, di ruang sempit sekalipun, aktivitas menanam tetap mungkin dilakukan. Ember bekas, botol plastik, dan pot sederhana menjadi media tanam yang produktif. Dari situ, tumbuh kesadaran baru: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak bergerak.
Sebagai figur publik, Fadly memahami betul kekuatan simbol. Ketika seorang vokalis band besar seperti Padi Reborn terlihat menanam di halaman sempit, ada pesan yang lebih kuat daripada sekadar kampanye. Ia memberi contoh nyata. Ia menggeser persepsi. Bahwa menjadi “modern” tidak harus berarti menjauh dari tanah.
Namun, yang membuat gerakan ini hidup bukanlah semata popularitas. Ada pendekatan humanis yang menjadi ruhnya. Fadly tidak tampil sebagai pengajar yang serba tahu. Ia hadir sebagai bagian dari komunitas. Ia menanam bersama, belajar bersama, bahkan gagal bersama. Dalam proses itu, tumbuh rasa kebersamaan yang sulit dibangun melalui pendekatan formal.
Makassar, dengan segala kompleksitasnya, menjadi ruang yang subur bagi gerakan ini. Pertumbuhan kota yang pesat membawa konsekuensi: ruang hijau yang semakin terbatas, ketergantungan pada pasokan pangan dari luar daerah, dan tekanan hidup yang kian tinggi. Dalam situasi seperti ini, urban farming hadir bukan hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai kebutuhan.
Tanami Tanata’ bekerja dalam skala kecil, tetapi dengan dampak yang nyata. Dari sisi ekonomi, ia membantu warga mengurangi pengeluaran rumah tangga. Hasil panen, sekecil apa pun, menjadi penyangga di tengah fluktuasi harga bahan pangan. Dari sisi psikologis, aktivitas menanam memberikan ruang jeda. Ia menjadi semacam terapi—cara sederhana untuk meredakan stres dan menemukan kembali ritme hidup yang lebih manusiawi.
Lebih dari itu, gerakan ini juga membangun jejaring sosial. Warga yang sebelumnya jarang berinteraksi, kini memiliki alasan untuk saling terhubung. Mereka bertukar bibit, berbagi pengalaman, dan saling mendukung. Komunitas terbentuk secara alami, tanpa paksaan.
Dalam konteks keberlanjutan, langkah-langkah kecil ini memiliki arti penting. Isu perubahan iklim yang sering terasa abstrak, menjadi lebih dekat dan konkret. Menanam, mengelola sampah organik, dan memanfaatkan lahan sempit adalah bentuk kontribusi nyata yang bisa dilakukan siapa saja. Fadly tidak menjadikan isu ini sebagai retorika, tetapi sebagai praktik sehari-hari.
Menarik untuk melihat bagaimana Fadly memaknai perannya sebagai “influencer”. Ia tidak sekadar hadir di ruang digital, tetapi juga di ruang fisik. Ia tidak hanya berbicara, tetapi juga bekerja. Dalam dunia yang sering kali dipenuhi citra, ia memilih jalur yang lebih substantif.
Tentu, perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Menjaga konsistensi adalah pekerjaan yang tidak mudah. Antusiasme awal bisa tinggi, tetapi mempertahankannya membutuhkan komitmen jangka panjang. Di sisi lain, ada juga tantangan struktural: keterbatasan lahan, minimnya dukungan kebijakan, dan akses terhadap pengetahuan yang masih terbatas.
Namun, justru di tengah keterbatasan itu, kreativitas tumbuh. Warga belajar beradaptasi, mencari solusi, dan terus mencoba. Tanami Tanata’ tidak menunggu kondisi ideal. Ia bergerak di tengah realitas yang ada.
Fadly Padi, yang tetap berdiri di atas panggung bersama Padi Reborn, sekaligus menjejakkan kaki di tanah bersama warga, sedang menunjukkan bahwa kehidupan tidak harus dipilih secara hitam-putih. Bahwa seseorang bisa tetap menjadi musisi, sekaligus menjadi penggerak lingkungan. Bahwa harmoni tidak hanya lahir dari musik, tetapi juga dari relasi manusia dengan alam.
Di tengah dunia yang semakin bising, gerakan ini menawarkan keheningan yang produktif. Sebuah ruang di mana manusia bisa kembali terhubung dengan tanah, tanpa harus meninggalkan kota. Sebuah pengingat bahwa modernitas tidak harus berarti keterputusan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika Makassar semakin padat dan kompleks, orang-orang akan melihat kembali ke lorong-lorong kecil ini—tempat di mana perubahan itu tumbuh perlahan. Dari tangan-tangan yang kotor oleh tanah, dari benih-benih kecil yang ditanam dengan harapan, dan dari seorang musisi yang tidak pernah benar-benar turun panggung—ia hanya menambah panggungnya.
Sebab pada akhirnya, seperti yang ditunjukkan Fadly, perubahan besar sering kali dimulai dari hal yang sederhana: menanam. Bukan hanya di tanah, tetapi juga di kesadaran.












