Opini

KAMMI Akan Besar Atau Tetap Dalam Bayang-Bayang Partai? Saatnya Menentukan Arah Sebelum Terlambat!

×

KAMMI Akan Besar Atau Tetap Dalam Bayang-Bayang Partai? Saatnya Menentukan Arah Sebelum Terlambat!

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rifa’i Pattola, Ketua KAMMI Mandar Raya

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Menanggapi dinamika internal KAMMI yang terjadi belakangan ini, Dualisme kepengurusan Pengurus Pusat dan khususnya peristiwa bentrokan dalam kegiatan Alumni KAMMI (KAKAMMI) di Sumatera Utara.

Rifa’i Pattola, Ketua KAMMI Mandar raya, memandang bahwa kejadian tersebut bukan sekadar insiden biasa, melainkan cerminan nyata dari dua hal: KAMMI yang mulai membesar, namun belum sepenuhnya diiringi dengan kedewasaan dalam bersikap.

Sebagai organisasi ekstra kampus, KAMMI tidak bisa dilepaskan dari perbedaan pandangan. Namun ketika perbedaan itu berubah menjadi bentrokan fisik, maka itu adalah tanda bahwa kita mulai kehilangan kendali atas nilai-nilai dasar organisasi. Ini bukan dinamika, ini kemunduran.

Rifai, menegaskan dengan keras: tindakan kekerasan, termasuk pemukulan, adalah pelanggaran serius terhadap prinsip intelektualitas dan moralitas KAMMI. Tidak ada ruang pembenaran. Jika ini dibiarkan, maka KAMMI sedang meruntuhkan wibawanya sendiri dari dalam.

Peristiwa ini harus menjadi alarm keras bahwa KAMMI memang sedang tumbuh menjadi besar, tetapi pertumbuhan itu belum diiringi dengan kematangan sikap kader. Organisasi besar tanpa kedewasaan hanya akan melahirkan konflik internal, ego sektoral, dan pertarungan kepentingan yang merusak fondasi perjuangan.

Lebih jauh, Rifai menegaskan bahwa KAMMI harus berani keluar dari kungkungan dan bayang-bayang partai politik. Relasi yang selama ini dianggap “biasa” justru telah melahirkan persepsi publik bahwa KAMMI tidak lagi independen. Ini berbahaya dan tidak boleh terus dibiarkan.

KAMMI harus berdiri sebagai organisasi mahasiswa yang merdeka, bukan alat politik, bukan underbow, dan bukan tempat titipan kepentingan. KAMMI harus bebas dari tekanan dan intervensi politik mana pun.

Rifai, juga menegaskan bahwa kader KAMMI tidak boleh larut dalam politik praktis yang mengaburkan arah perjuangan. Ketika orientasi kader bergeser menjadi kepentingan politik sempit, maka yang hancur bukan hanya individu, tetapi kehormatan organisasi secara keseluruhan.

Hari ini kita harus jujur bertanya pada diri sendiri:

Apakah kita ini organisasi mahasiswa atau justru sedang bergerak menjadi bayang-bayang partai politik?

Apakah kita benar-benar berani berdiri sendiri, atau hanya nyaman berada dalam orbit kekuatan politik tertentu?

Siapa yang sebenarnya diuntungkan, KAMMI atau partai?

Dan yang paling mendasar, apakah ideologi partai menjadi syarat untuk berbuat baik, bahkan menjadi ukuran kebenaran?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa lagi dihindari. KAMMI harus menjawabnya dengan sikap tegas, bukan kompromi.

Di saat yang sama, Rifai menyerukan kepada seluruh kader KAMMI di mana pun berada untuk segera menghentikan konflik yang tidak bermanfaat. Tidak ada kemenangan dari bentrokan, tidak ada kemuliaan dalam perpecahan. Yang ada hanyalah kerugian bagi organisasi dan hilangnya kepercayaan publik.

Sudah saatnya kita mengedepankan rekonsiliasi, membuka ruang dialog, dan kembali merajut ukhuwah. Perbedaan harus diselesaikan secara dewasa, bukan dengan emosi dan kekerasan. KAMMI harus kembali menjadi rumah bersama yang menyatukan, bukan memecah.

Momentum ini harus menjadi titik balik. KAMMI harus berbenah secara total memperkuat disiplin kader, menegakkan nilai, dan memastikan bahwa organisasi ini kembali pada jati dirinya sebagai gerakan moral dan intelektual yang independen.

Jika KAMMI ingin benar-benar besar, maka ia harus berani mandiri, berani tegas terhadap penyimpangan, dan berani keluar dari bayang-bayang siapa pun.

Jika tidak, maka kebesaran yang kita banggakan hanyalah ilusi, besar secara nama, tetapi rapuh secara prinsip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *