Opini

Anak Muda, Anti-Trend, dan Bumi yang Menunggu Diselamatkan

×

Anak Muda, Anti-Trend, dan Bumi yang Menunggu Diselamatkan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Di sebuah sudut kota Makassar, seorang remaja berdiri di depan cermin. Ia mengganti pakaian bukan karena rusak, tapi karena merasa “sudah pernah dipakai di konten kemarin”. Di tangannya, layar ponsel menyala menampilkan tren baru yang sedang naik. Ia ragu sejenak, lalu menutup lemari. Bukan karena tidak punya pilihan, melainkan karena terlalu banyak pilihan yang terasa bukan miliknya.

Di luar kamar itu, dunia sedang gelisah.
Bumi memanas. Sampah menumpuk. Kota-kota, termasuk Makassar, terus bernegosiasi dengan limbah yang tak pernah benar-benar selesai. Di kanal-kanal air, di pesisir, bahkan di lorong-lorong sempit, kita melihat jejak dari sesuatu yang pernah kita anggap sepele: kebiasaan membuang, mengganti, lalu membeli lagi.

Termasuk pakaian.

Di tengah situasi itu, muncul satu sikap yang pelan tapi terasa mengganggu arus besar: anti-trend. Ia bukan gerakan yang gaduh. Tidak ada deklarasi, tidak ada seragam. Hanya satu hal sederhana keputusan untuk tidak selalu ikut.
Yang menarik, sikap ini justru menemukan momentumnya di kalangan yang selama ini dituduh paling konsumtif: Gen Z dan Gen Alpha.

Barangkali tuduhan itu tidak sepenuhnya keliru. Mereka hidup dalam dunia yang dipenuhi algoritma, di mana tren bergerak secepat jempol menggulir layar. Apa yang viral hari ini, bisa terasa basi esok pagi. Dalam lanskap seperti itu, mengikuti tren bukan lagi pilihan bebas, melainkan semacam refleks sosial agar tidak tertinggal, agar tetap relevan.

Namun di balik itu, ada kegelisahan yang jarang dibaca dengan serius.
Generasi ini tumbuh dengan dua kesadaran yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, mereka didorong untuk terus mengonsumsi. Di sisi lain, mereka tahu melalui berita, kampanye, bahkan pengalaman langsung bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Mereka tahu tentang krisis iklim, tentang laut yang tercemar, tentang sampah yang tidak pernah benar-benar hilang.

Kontradiksi itu mereka rasakan setiap hari.

Maka ketika sebagian dari mereka mulai memilih untuk berhenti mengejar tren, itu bukan sekadar soal gaya. Itu adalah bentuk negosiasi diam-diam dengan dunia yang terlalu bising. Anti-trend, dalam konteks ini, menjadi lebih dari sekadar pilihan estetika ia berubah menjadi sikap hidup.
Memakai ulang tanpa rasa malu.
Memilih kualitas daripada kuantitas.
Mencari barang bekas dengan cerita, bukan sekadar harga.
Hal-hal kecil itu, jika dilihat sepintas, tampak remeh. Tapi justru di sanalah letak perubahan yang paling mungkin terjadi.

Di Makassar, perubahan semacam ini punya ruang untuk tumbuh. Kota ini tidak hanya dipenuhi pusat perbelanjaan, tetapi juga komunitas dari gerakan bank sampah, urban farming, hingga inisiatif pengelolaan limbah yang perlahan mengakar di tingkat warga. Di antara semua itu, anak muda bisa mengambil peran yang lebih dari sekadar partisipan.
Mereka bisa menjadi penggerak.
Bayangkan jika anti-trend tidak berhenti di lemari pakaian, tetapi meluas menjadi kebiasaan: memilah sampah, menggunakan ulang barang, menciptakan karya dari limbah, hingga menjadikan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari identitas. Pada titik itu, gaya hidup dan etika bertemu dan perubahan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai ekspresi.

Namun ada satu hal yang perlu diingat: generasi ini tidak bisa hanya diarahkan, apalagi digurui.
Mereka tumbuh dengan kebebasan memilih, dan sensitif terhadap kepura-puraan. Label “ramah lingkungan” tidak otomatis dipercaya. Kampanye yang terlalu normatif justru mudah ditinggalkan. Yang mereka butuhkan bukan ceramah, melainkan ruang ruang untuk mencoba, bereksperimen, dan menemukan bentuk kepedulian dengan cara mereka sendiri.

Anti-trend menawarkan ruang itu.

Ia tidak memaksa, tapi mengajak. Tidak melarang, tapi menyadarkan. Dan mungkin, di tengah upaya besar menyelamatkan bumi yang sering terasa jauh dan abstrak, pendekatan seperti inilah yang justru paling membumi.

Sebab pada akhirnya, perubahan tidak selalu lahir dari keputusan besar.
Ia sering tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan berulang-ulang.
Dari pilihan seorang remaja di depan cermin.
Dari keputusan untuk tidak membeli.
Dari keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah arus yang seragam.

Dan siapa sangka, dari keputusan kecil itu, bumi yang kita tinggali pelan-pelan ikut diselamatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *