Kendari, Potretnusantara.co.id – Sulawesi Tenggara menapaki usia ke-62 dengan jejak sejarah yang kian panjang dan makna yang kian dalam. Momentum ini tak sekadar menjadi penanda waktu, melainkan ruang refleksi bagi seluruh elemen masyarakat untuk menata masa depan yang lebih selaras dan sejahtera.
Di tengah peringatan tersebut, kalangan akademik turut menyuarakan apresiasi dan harapan. Ketua Ikatan Alumni (IKA) Universitas Sulawesi Tenggara (UNSULTRA) Kendari, Dr. Abdul Rahman, SH., MH., menyampaikan pesan yang menekankan pentingnya menjaga harmoni sebagai fondasi pembangunan daerah.
Dalam pernyataan resminya, ia menggarisbawahi bahwa tema “Harmoni Sultra” bukan sekadar ungkapan seremonial, melainkan napas kolektif yang perlu dirawat bersama.
“Dirgahayu Sulawesi Tenggara. Di usia ke-62 ini, mari kita rawat ‘Harmoni Sultra’ dalam bingkai keberagaman yang kokoh,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, harmoni merupakan simpul yang menyatukan pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam satu gerak pembangunan. Dalam jalinan itulah, perbedaan tidak menjadi sekat, melainkan kekuatan untuk melangkah lebih jauh.
Alumni UNSULTRA, lanjutnya, memiliki tanggung jawab moral sebagai bagian dari ekosistem intelektual daerah untuk turut berkontribusi nyata. Peran tersebut tidak hanya hadir dalam ruang akademik, tetapi juga dalam dinamika sosial dan pembangunan.
“Kita berharap, di usia ke-62 ini, Sulawesi Tenggara semakin produktif menuju kesejahteraan bersama. Ini adalah komitmen kita sebagai alumni dan warga Sultra,” tambahnya.
Pernyataan ini menegaskan posisi IKA UNSULTRA sebagai mitra strategis dalam mengawal pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Semangat kolaborasi menjadi kunci untuk menjawab berbagai tantangan, sekaligus membuka jalan bagi kemajuan yang merata.
Peringatan hari jadi ke-62 ini pun akan menjadi titik temu antara capaian masa lalu dan ikhtiar masa depan. Di bawah langit yang sama, Sulawesi Tenggara terus belajar merawat harmoni agar setiap langkah pembangunan berujung pada kesejahteraan seluruh masyarakatnya.
Penulis: Ikmal Saranani














