LingkunganOpini

Pisai Sampata’, Tanami Tanata’: Revolusi Sunyi dari Lorong Kota

×

Pisai Sampata’, Tanami Tanata’: Revolusi Sunyi dari Lorong Kota

Sebarkan artikel ini

Oleh: Fadly Padi

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Saya selalu percaya bahwa kota yang sehat bukanlah kota yang paling banyak gedungnya, melainkan kota yang masih memberi ruang bagi kehidupan untuk tumbuh.

Hari ini kita hidup di zaman ketika kota berkembang sangat cepat, tetapi tanah semakin sedikit. Beton terus mengambil ruang hijau. Lorong-lorong makin padat. Sementara setiap rumah menghasilkan sampah setiap hari tanpa pernah benar-benar selesai kita pikirkan ke mana akhirnya.

Makassar sedang menghadapi itu.
Kita bicara tentang ribuan ton sampah menuju TPA setiap hari. Kita bicara tentang drainase yang tersumbat plastik. Kita bicara tentang banjir, panas kota, harga pangan yang naik, dan masyarakat urban yang perlahan kehilangan hubungan dengan alam.

Padahal sesungguhnya persoalan sampah dan pangan saling berkaitan.
Karena itu saya memandang gerakan Pisai Sampata’, Tanami Tanata’ bukan sekadar program lingkungan. Ini adalah gerakan kebudayaan kota. Gerakan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, tanah, dan kehidupan sehari-hari.

Sampah bukan akhir.
Sampah adalah awal.

Selama ini kita terlalu terbiasa membuang. Semua dicampur, lalu diangkut pergi sejauh mungkin dari rumah. Kita merasa masalah selesai ketika sampah hilang dari depan mata.

Padahal sebenarnya masalah baru saja dipindahkan ke tempat lain.
Di sinilah pentingnya memulai perubahan dari rumah tangga. Dari dapur. Dari meja makan.

Kulit buah, sisa sayur, ampas kopi, sisa nasi semuanya bukan musuh lingkungan. Itu bahan organik yang bisa kembali menjadi tanah. Bisa menjadi pupuk. Bisa menjadi sumber kehidupan baru.

Ketika masyarakat mulai memilah sampah organik dan anorganik, sesungguhnya mereka sedang membangun kesadaran ekologis. Mereka mulai memahami bahwa bumi tidak mampu terus-menerus menanggung budaya buang tanpa tanggung jawab.

Gerakan “Satu Rumah Satu Komposter” menurut saya bukan hanya soal teknis pengolahan sampah. Ini soal pendidikan karakter lingkungan. Soal bagaimana keluarga kembali belajar menghargai siklus alam.
Apa yang kita makan hari ini harus bisa kembali memberi makan tanah.

Di tingkat berikutnya, TPS3R harus menjadi ruang produksi sosial masyarakat, bukan sekadar tempat transit sampah.

Kita punya banyak potensi di sana. Sampah organik pasar bisa diolah menjadi kompos. Budidaya maggot BSF bisa menjadi solusi cepat untuk limbah organik sekaligus menghasilkan kasgot berkualitas tinggi. Sampah anorganik bisa masuk ke bank sampah dan kembali ke warga dalam bentuk nilai ekonomi.

Saya membayangkan TPS3R bukan tempat yang kotor dan dijauhi masyarakat, tetapi pusat edukasi lingkungan dan ekonomi sirkular di tingkat warga.

Karena kota masa depan adalah kota yang mampu mengelola sumber dayanya sendiri.

Bukan kota yang terus memindahkan masalahnya.

Lalu semua itu bermuara pada satu hal penting: urban farming.

Bagi saya, urban farming bukan sekadar menanam sayur di kota. Urban farming adalah cara masyarakat kota mengambil kembali kedaulatannya terhadap pangan.

Ketika lorong-lorong mulai menanam cabai, tomat, kangkung, dan sawi, sesungguhnya yang tumbuh bukan hanya tanaman. Yang tumbuh adalah optimisme. Yang tumbuh adalah solidaritas sosial. Yang tumbuh adalah kesadaran bahwa kota tidak harus sepenuhnya bergantung pada rantai distribusi besar.

Kita bisa mulai dari hal kecil.
Dari polybag.
Dari botol plastik bekas.
Dari dinding rumah.
Dari atap lorong.

Saya sering melihat bagaimana ruang sempit yang sebelumnya kumuh berubah menjadi ruang hidup ketika warga mulai menanam. Anak-anak ikut menyiram tanaman. Ibu-ibu mulai bertukar bibit. Lorong yang tadinya panas menjadi lebih teduh dan produktif.

Di situ saya percaya bahwa menanam sebenarnya bukan hanya aktivitas pertanian.
Menanam adalah cara merawat harapan.

Gerakan Tanami Tanata’ lahir dari keyakinan sederhana bahwa kota harus kembali dekat dengan tanahnya sendiri.

Sebab kota yang kehilangan tanah akan kehilangan keseimbangannya.

Kota yang kehilangan pohon akan kehilangan napasnya.

Dan kota yang kehilangan budaya merawat lingkungan perlahan akan kehilangan masa depannya.

Makassar punya energi sosial yang kuat. Kita punya budaya gotong royong warga yang masih hidup. Tinggal bagaimana energi itu diarahkan menjadi gerakan ekologis bersama.

Bayangkan jika setiap rumah memilah sampah.
Setiap lorong punya komposter.
Setiap RW punya kebun pangan kecil.
Dan setiap TPS3R menjadi pusat ekonomi sirkular masyarakat.
Maka kita tidak hanya sedang mengurangi sampah.
Kita sedang membangun kota yang lebih mandiri, sehat, dan manusiawi.

Saya percaya masa depan kota tidak hanya dibangun oleh infrastruktur besar, tetapi juga oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Memilah sampah.
Membuat kompos.
Menanam cabai.
Menyiram tanaman di depan rumah.

Hal-hal sederhana itu mungkin terlihat kecil. Tetapi dari situlah budaya baru lahir.
Budaya merawat.
Budaya menjaga.
Budaya hidup lebih selaras dengan alam.

Karena pada akhirnya, kota yang baik bukan kota yang bebas sampah semata.
Tetapi kota yang mampu mengubah sampah menjadi kehidupan.

Pisai Sampata’…Tanami Tanata’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *