Makassar, Potretnusantara.co.id – Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap krisis pangan akibat konflik geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok, solusi sering kali dibayangkan dalam skala besar: investasi raksasa, teknologi tinggi, dan industrialisasi pertanian. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa fondasi pangan dunia justru ditopang oleh kekuatan yang kerap luput dari perhatian petani kecil.
Data hingga awal 2026 menunjukkan bahwa pertanian rumah tangga dan skala kecil dengan luas lahan di bawah lima hektar berkontribusi sekitar 30 hingga 35 persen terhadap pasokan pangan global. Bahkan, petani dengan lahan kurang dari dua hektar hanya menguasai sekitar 12 persen lahan pertanian dunia, tetapi mampu menghasilkan sekitar 30 hingga 34 persen pangan.
“Ini menunjukkan adanya paradoks produktivitas, di mana lahan yang sempit justru diolah lebih intensif dan efisien,” tulis Andi Pangerang Nur Akbar dalam opininya, Selasa (28/4/2026).
Kontribusi tersebut semakin signifikan di kawasan Asia dan Afrika Sub-Sahara. Di wilayah ini, petani kecil memasok hingga 60 persen kebutuhan pangan lokal, mulai dari beras, jagung, hingga umbi-umbian dan kacang-kacangan.
Secara global, terdapat sekitar 570 juta unit usaha pertanian, dengan 84 hingga 85 persen di antaranya merupakan pertanian kecil. Meski demikian, mereka hanya mengelola sekitar 9 hingga 12 persen dari total lahan pertanian dunia. Ketimpangan ini mencerminkan bahwa persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga distribusi sumber daya.
Di sisi lain, kota yang selama ini dipandang sebagai konsumen utama mulai mengalami pergeseran peran. Urban farming atau pertanian perkotaan berkembang sebagai respons terhadap kerentanan sistem pangan. Namun, pendekatan ini dinilai belum cukup jika berdiri sendiri.
“Urban farming akan lebih berdampak jika diintegrasikan dengan pengelolaan sampah, sehingga membentuk ekosistem yang berkelanjutan,” lanjut Andi.
Integrasi tersebut memungkinkan sampah organik rumah tangga diolah menjadi kompos atau eco enzyme yang kemudian dimanfaatkan kembali sebagai nutrisi tanaman. Siklus ini menciptakan sistem yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah lingkungan.
Di Makassar, inisiatif ini mulai berkembang melalui gerakan berbasis komunitas. Lorong-lorong permukiman yang sebelumnya identik dengan limbah kini mulai bertransformasi menjadi ruang produksi pangan. Warga terlibat dalam pengelolaan bank sampah, pembuatan biopori, hingga pengembangan kebun lorong.
“Ini adalah bentuk adaptasi kota terhadap praktik yang sejak lama dilakukan petani kecil di desa, yakni memanfaatkan sumber daya lokal dan meminimalkan limbah,” jelasnya.
Meski demikian, gerakan ini dinilai masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal konsistensi dan dukungan sistem. Banyak program masih bersifat percontohan atau seremonial, tanpa keberlanjutan yang kuat.
Menurut Andi, perubahan perilaku menjadi kunci utama keberhasilan. Kebiasaan memilah dan mengolah sampah serta menanam secara mandiri membutuhkan disiplin yang tidak mudah.
“Tanpa dukungan kebijakan, insentif ekonomi, dan penguatan komunitas, gerakan ini akan tetap terfragmentasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa masa depan ketahanan pangan tidak semata ditentukan oleh skala besar produksi, melainkan oleh konsistensi dalam mengelola sumber daya kecil secara berkelanjutan.
“Pada akhirnya, masa depan pangan dunia tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling besar, tetapi oleh siapa yang paling konsisten merawat yang kecil,” pungkasnya.














