News

Ketika Lapas Menjadi Ruang Tumbuh

×

Ketika Lapas Menjadi Ruang Tumbuh

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin (Pemerhati Persampahan Kota Makassar, Pegiat Ecoenzym)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Di sebuah ruang yang selama ini lebih sering kita bayangkan sebagai tempat penebusan kesalahan, sesuatu yang lain sedang tumbuh pelan, tapi pasti. Bukan sekadar tanaman di atas bedeng tanah, melainkan harapan yang disemai ulang. Di Lapas Kelas I Makassar, tanah tak lagi hanya menjadi pijakan yang dingin, tetapi berubah menjadi ruang belajar tentang hidup yang berkelanjutan.

Hari ini, Senin 27 April 2026, Yayasan Butta Porea Indonesia menerima penghargaan sebagai mitra kerja dalam peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62. Sebuah seremoni yang barangkali bagi sebagian orang hanya sekadar agenda tahunan. Namun, di balik plakat dan tepuk tangan, tersimpan cerita tentang bagaimana kolaborasi bisa mengubah cara kita memandang pemasyarakatan itu sendiri.

Selama ini, penjara sering dipersepsikan sebagai titik akhir tempat di mana kebebasan berhenti dan masa depan terasa menggantung. Tetapi pendekatan yang dibangun melalui kerja sama antara Yayasan Butta Porea Indonesia dan Lapas Kelas I Makassar justru memperlihatkan hal sebaliknya: bahwa bahkan di ruang terbatas, manusia tetap bisa bertumbuh.

Melalui program Integrated Urban Farming di Kebun Asimilasi dan Edukasi, warga binaan tidak hanya diajak bercocok tanam. Mereka diajak memahami proses. Dari tanah yang diolah, benih yang ditanam, hingga panen yang dinikmati, semuanya menjadi siklus pembelajaran tentang kesabaran, tanggung jawab, dan harapan. Di sana, waktu tidak lagi hanya dihitung sebagai masa hukuman, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun kembali makna diri.

Yang menarik, pendekatan ini tidak berhenti pada produksi pangan. Ia meluas ke cara memandang lingkungan. Konsep Zero Waste yang diterapkan di dalam lapas adalah sebuah lompatan cara berpikir. Sampah tidak lagi dilihat sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang bisa diolah. Plastik didaur ulang, sisa makanan diubah menjadi pakan melalui budidaya maggot sebuah solusi sederhana namun berdampak nyata.

Lebih dari itu, ada dimensi kesadaran yang dibangun: bahwa setiap hal yang kita buang, sesungguhnya masih menyimpan nilai. Dan barangkali, kesadaran ini juga sedang bekerja pada diri para warga binaan bahwa masa lalu mereka bukan akhir dari segalanya.

Di sisi lain, penerapan Environmental Hygiene melalui penggunaan eco enzyme menghadirkan pendekatan yang nyaris filosofis. Limbah organik yang difermentasi menjadi cairan pembersih alami bukan hanya soal inovasi teknis. Ia adalah simbol bahwa sesuatu yang dianggap sisa pun bisa dimurnikan kembali menjadi sesuatu yang berguna. Sebuah metafora yang terasa begitu dekat dengan semangat pemasyarakatan itu sendiri.

Kita sering berbicara tentang pembinaan, tetapi jarang bertanya: pembinaan seperti apa yang benar-benar memanusiakan? Program yang dijalankan di Lapas Kelas I Makassar ini memberi satu jawaban sederhana bahwa manusia perlu dilibatkan, dipercaya, dan diberi ruang untuk berkontribusi. Bahkan di balik tembok tinggi sekalipun.

Peran Yayasan Butta Porea Indonesia menjadi penting karena menghadirkan jembatan. Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk pengelolaan dana CSR yang terarah, gagasan tidak berhenti sebagai wacana. Ia menjelma menjadi praktik yang konkret, terukur, dan berdampak. Di sini, kolaborasi tidak lagi menjadi jargon, tetapi kerja nyata yang bisa dirasakan.

Kehadiran figur-figur lokal seperti Andi Pangerang Nur Akbar dan Andi Fadly Arifuddin (Fadly Padi) menunjukkan bahwa perubahan sering kali tidak datang dari tempat yang jauh. Ia tumbuh dari kepedulian yang dekat, dari orang-orang yang memilih untuk tidak tinggal diam.

Penghargaan yang diberikan tentu penting. Tetapi yang lebih penting adalah apa yang diwakilinya: pengakuan bahwa pendekatan pemasyarakatan berbasis lingkungan dan kemandirian adalah jalan yang layak untuk diperluas.

Di tengah berbagai tantangan sosial dan lingkungan yang kita hadapi hari ini, model seperti ini menjadi relevan. Lapas tidak lagi hanya dilihat sebagai institusi tertutup, tetapi sebagai bagian dari ekosistem sosial yang bisa memberi kontribusi nyata. Ia bisa menjadi pusat edukasi, laboratorium kehidupan, bahkan inspirasi bagi masyarakat luas.

Barangkali, inilah saatnya kita mengubah cara pandang. Bahwa pemasyarakatan bukan tentang menghukum semata, melainkan tentang mengembalikan—mengembalikan manusia pada dirinya yang lebih baik.

Dan di Makassar, di balik pagar yang sering kita bayangkan kaku dan dingin itu, harapan sedang ditanam. Tidak selalu terlihat, tetapi terus tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *