Oleh: Muhammad Fadhil (Pendamping SDM PKH Kementerian Sosial Republik Indonesia)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti pada seremonial, lantunan shalawat, atau sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana akhlak Rasulullah SAW telah hadir dalam kehidupan kita, terutama dalam kepedulian terhadap sesama?
Maulid Nabi dapat dimaknai sebagai ruang refleksi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW dalam kehidupan sosial: kasih sayang, kepedulian, persaudaraan, keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta keberpihakan kepada kelompok yang lemah.
Sejumlah penelitian mutakhir juga menunjukkan bahwa tradisi Maulid tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi dapat menjadi ruang pembentukan karakter, solidaritas, gotong royong, dan integrasi sosial masyarakat. Penelitian mengenai Maulid di berbagai daerah di Indonesia menemukan adanya praktik berbagi, kerja sama, penghormatan terhadap sesama, serta penguatan hubungan sosial melalui kegiatan keagamaan tersebut. (Jiip)
Rasulullah SAW dan Kepedulian Sosial
Rasulullah SAW bukan hanya dikenal sebagai pemimpin umat, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Beliau hadir di tengah masyarakat, memperhatikan anak yatim, orang miskin, tetangga, kaum lemah, serta mereka yang membutuhkan pertolongan.
Allah SWT berfirman:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat ini memberikan gambaran penting tentang karakter sosial dalam Islam: mendahulukan kepentingan orang lain, berbagi dalam keterbatasan, dan membebaskan diri dari sifat kikir.
Karena itu, memaknai Maulid Nabi hari ini berarti menghidupkan kembali nilai kemanusiaan yang diajarkan Rasulullah SAW: peduli, berbagi, menolong, menghormati, menjaga martabat, dan tidak membiarkan orang lain menghadapi kesulitan seorang diri.
Al-Ma’un: Ukuran Kesalehan Sosial
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat kuat melalui Surah Al-Ma’un:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan memberikan bantuan.”
(QS. Al-Ma’un: 1–7)
Pesannya sangat jelas: kesalehan tidak cukup hanya terlihat dalam ibadah ritual, tetapi harus tercermin dalam kepedulian sosial.
Surah Al-Ma’un memperlihatkan hubungan yang erat antara ibadah dan tanggung jawab sosial. Orang yang memiliki kesalehan spiritual semestinya memiliki kepekaan terhadap penderitaan manusia di sekitarnya.
Kajian terbaru mengenai nilai sosio-emosional Surah Al-Ma’un menunjukkan bahwa nilai kepedulian, berbagi, dan pengendalian diri memiliki relevansi dengan pembentukan kesejahteraan psikologis dan kehidupan sosial. Sementara penelitian lain pada 2025 mengenai implementasi Al-Ma’un dalam pelayanan sosial menunjukkan bagaimana nilai keagamaan dapat diterjemahkan menjadi praktik kepedulian dan pelayanan kepada masyarakat. (E-Journal UMB)
Dengan demikian, Maulid Nabi tidak seharusnya hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengukur kembali kualitas kepedulian sosial kita.
Memuliakan Tetangga adalah Bagian dari Iman
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya memuliakan tetangga.
Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari, no. 6019) (Sunnah)
Hadis ini menunjukkan bahwa keimanan memiliki konsekuensi sosial. Hubungan seseorang dengan Allah tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari bagaimana ia memperlakukan manusia di sekitarnya.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi menjadi relevan ketika mampu mengubah cara kita memperlakukan tetangga, keluarga, teman, masyarakat dan kelompok yang membutuhkan perhatian.
Maulid bukan hanya tentang mengingat kelahiran Nabi, tetapi tentang menghadirkan akhlak Nabi dalam kehidupan.
Menolong Orang yang Sedang Menghadapi Kesulitan
Rasulullah SAW memberikan perhatian besar kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan.
Beliau bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari berbagai kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan satu kesusahannya dari berbagai kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
(HR. Muslim, no. 2699a) (Sunnah)
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan sosial hari ini.
Membantu orang lain bukan hanya tentang memberikan uang. Membantu dapat berarti membuka akses, memberikan informasi, mendampingi, mendengarkan keluhan, memberikan waktu, menghubungkan seseorang dengan layanan yang dibutuhkan, atau membantu seseorang keluar dari persoalan yang sedang dihadapinya.
Dalam konteks pelayanan sosial, prinsip ini menjadi sangat penting.
Kepedulian Sosial Bukan Sekadar Materi
Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa kepedulian sosial bukan sekadar memberikan materi.
Kepedulian dapat berupa perhatian, waktu, tenaga, senyuman, nasihat, perlindungan, penghormatan, hingga keberanian membela mereka yang lemah.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena sifat pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim, no. 2588) (Sunnah)
Hadis ini menegaskan bahwa kepedulian, kemurahan hati dan kerendahan hati bukanlah sesuatu yang mengurangi kemuliaan manusia. Justru sebaliknya, ia menjadi jalan menuju kemuliaan.
Maulid dan Penguatan Solidaritas Masyarakat
Penelitian-penelitian terbaru memperlihatkan bahwa perayaan Maulid di berbagai daerah Indonesia dapat menjadi ruang aktualisasi nilai sosial.
Penelitian Salsabillah, Elmustian, dan Mustafa (2024), misalnya, menemukan bahwa tradisi Badikiar pada peringatan Maulid Nabi mengandung nilai kerja sama, saling membantu, kepedulian, kebersamaan, silaturahmi dan kedermawanan. (Jiip)
Penelitian Heridianto (2025) juga menunjukkan bahwa perayaan keagamaan, termasuk Maulid Nabi, dapat memperkuat solidaritas masyarakat melalui aktivitas kolektif seperti berbagi makanan, doa bersama dan saling memberikan dukungan. (Civiliza)
Sementara penelitian mengenai Maulid sebagai media integrasi sosial masyarakat Melayu Sambas dan Madura menunjukkan bahwa tradisi Maulid dapat memiliki fungsi dalam memperkuat hubungan sosial dan integrasi masyarakat. (Jurnal Shalahuddin Al-Ayyubi)
Artinya, Maulid mempunyai potensi besar untuk menjadi lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Ia dapat menjadi ruang pendidikan sosial dan praktik nyata kepedulian terhadap sesama.
Dalam Konteks Pelayanan Sosial
Dalam konteks kehidupan Indonesia hari ini, nilai tersebut sangat relevan.
Kita masih menemukan keluarga yang hidup dalam keterbatasan, anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan, masyarakat yang membutuhkan pelayanan, serta kelompok rentan yang memerlukan perhatian dan perlindungan.
Di sinilah nilai keteladanan Rasulullah SAW menemukan ruangnya.
Sebagai pendamping sosial, misalnya, tugas tidak hanya berbicara tentang data, program, administrasi atau bantuan sosial. Di balik setiap data terdapat manusia, keluarga, harapan dan masa depan.
Seorang penerima manfaat bukan sekadar angka dalam sebuah sistem. Ia adalah manusia yang memiliki martabat dan cita-cita.
Karena itu, pelayanan sosial harus dilakukan dengan hati.
Data harus akurat, tetapi kepedulian juga harus kuat. Program harus tepat sasaran, tetapi pendekatan kepada masyarakat juga harus penuh penghormatan.
Pendampingan bukan sekadar menyelesaikan administrasi, melainkan juga memastikan masyarakat memperoleh informasi, akses, kesempatan dan pelayanan secara bermartabat.
Nilai tersebut sejalan dengan semangat QS. Al-Ma’un yang menempatkan kepedulian terhadap kelompok rentan sebagai bagian penting dari keberagamaan.
Menjaga Martabat Orang yang Dibantu
Menolong orang lain tidak boleh membuat mereka merasa rendah.
Kepedulian harus menjaga harga diri.
Jangan menjadikan kesulitan seseorang sebagai bahan tontonan atau konten semata. Jangan pula menjadikan bantuan sosial sebagai ruang untuk mempermalukan penerima manfaat.
Bantuan seharusnya menghadirkan harapan, bukan rasa malu; menghadirkan kekuatan, bukan ketergantungan.
Dalam pelayanan sosial, prinsip ini sangat penting. Masyarakat yang membutuhkan bantuan tetap memiliki hak atas penghormatan, privasi, kesempatan dan martabat.
Karena itu, meneladani Rasulullah SAW berarti menghadirkan pelayanan yang ramah, amanah, manusiawi, profesional dan tidak diskriminatif.
Memulai Kepedulian dari Lingkungan Terdekat
Meneladani Rasulullah SAW tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kita dapat memulainya dari lingkungan terdekat.
Pertama, peduli terhadap orang di sekitar kita.
Mulailah bertanya: apakah tetangga kita sedang mengalami kesulitan? Apakah ada keluarga yang membutuhkan bantuan? Apakah ada anak yatim yang membutuhkan perhatian?
Kadang-kadang kita tidak perlu memberikan sesuatu yang besar. Sebuah kunjungan, perhatian dan kalimat yang menenangkan dapat menjadi kekuatan bagi seseorang.
Kedua, membantu sesuai kemampuan.
Tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama. Namun setiap orang memiliki sesuatu yang dapat diberikan.
Ada yang mampu memberikan uang.
Ada yang mampu memberikan makanan.
Ada yang mampu memberikan ilmu.
Ada yang mampu memberikan tenaga.
Ada yang mampu memberikan waktu.
Bahkan ada yang hanya mampu memberikan senyuman dan doa.
Semua dapat menjadi bentuk kepedulian apabila dilakukan dengan ikhlas.
Ketiga, menghormati martabat orang yang membutuhkan.
Membantu orang lain tidak boleh membuat mereka merasa rendah.
Keempat, menjadikan pekerjaan sebagai ladang pengabdian.
Bagi mereka yang bekerja di bidang pelayanan publik dan sosial, keteladanan Rasulullah SAW dapat diwujudkan dengan bekerja secara jujur, amanah, ramah dan profesional.
Melayani masyarakat dengan baik adalah bagian dari pengabdian.
Kelima, membangun budaya saling membantu.
Kepedulian tidak boleh hanya menjadi gerakan individu. Ia harus menjadi budaya masyarakat.
Dari keluarga, lingkungan RT/RW, sekolah, komunitas, lembaga sosial hingga pemerintah, semuanya dapat mengambil peran.
Sebab masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang tidak memiliki masalah, tetapi masyarakat yang tidak membiarkan orang yang sedang bermasalah berjalan sendirian.
Maulid sebagai Momentum Menghidupkan Kepedulian
Penelitian terbaru tentang Maulid Nabi juga semakin memperkuat gagasan bahwa perayaan tersebut dapat menjadi media pendidikan karakter, toleransi, gotong royong dan penguatan kehidupan sosial. Kajian 2024 mengenai Maulid dan pendidikan karakter menempatkan keteladanan Nabi sebagai sarana pembentukan akhlak generasi muda, sedangkan penelitian 2025 melihat Maulid sebagai living tradition yang mengandung nilai religiusitas, toleransi dan gotong royong. (Jurnal Pendidikan Tambusai)
Dengan demikian, Maulid dapat menjadi momentum untuk bertanya:
Apa yang telah kita warisi dari akhlak Rasulullah SAW?
Apakah kita sudah menjadi manusia yang lebih peduli?
Apakah kehadiran kita memberikan manfaat bagi orang lain?
Apakah orang yang bertemu dengan kita merasa mendapatkan ketenangan, pertolongan dan harapan?
Inilah barangkali cara paling sederhana untuk mengukur keberhasilan kita mencintai Rasulullah SAW.
Sebab mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan mengucapkan shalawat. Cinta kepada Rasulullah SAW harus diterjemahkan menjadi akhlak dan tindakan.
Jika Rasulullah SAW mengajarkan kepedulian, maka mari kita peduli.
Jika beliau mengajarkan kasih sayang, maka mari kita menyayangi.
Jika beliau mengajarkan pertolongan, maka mari kita membantu.
Jika beliau membela kaum lemah, maka mari kita hadir untuk mereka.
Dari Maulid Menuju Gerakan Kemanusiaan
Momentum Maulid Nabi hendaknya menjadi titik balik untuk memperkuat kepedulian sosial kita.
Maulid seharusnya melahirkan gerakan nyata: membantu anak yatim, memperhatikan keluarga miskin, mendampingi kelompok rentan, memperkuat pendidikan, menjaga tetangga, membangun gotong royong dan menghadirkan pelayanan sosial yang bermartabat.
Penelitian terbaru tentang fungsi sosial tradisi Maulid bahkan menunjukkan bahwa peringatan Maulid dapat memiliki fungsi sosial dalam membangun hubungan masyarakat dan menghidupkan nilai-nilai kebersamaan. (E-Journal Unhasy)
Karena itu, Maulid tidak cukup hanya menjadi agenda tahunan.
Maulid harus menjadi energi moral sepanjang tahun.
Bukan hanya pada bulan Rabiul Awal kita peduli, tetapi setiap hari.
Bukan hanya ketika menghadiri peringatan Maulid kita berbicara tentang Rasulullah, tetapi dalam setiap tindakan kita berusaha menghadirkan akhlak beliau.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh orang-orang pintar, tetapi juga oleh manusia-manusia yang memiliki hati yang peduli.
Dan masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang memiliki banyak sumber daya, tetapi masyarakat yang memiliki semangat untuk saling menguatkan.
Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar bertanya “kapan Nabi lahir?”, tetapi lebih jauh bertanya:
“Apa yang telah kita warisi dari akhlak beliau?”
Apakah kita sudah menjadi manusia yang lebih peduli?
Apakah kehadiran kita memberikan manfaat bagi orang lain?
Apakah masyarakat yang kita layani merasa dihormati?
Apakah orang yang sedang kesulitan merasa bahwa masih ada tangan yang bersedia membantu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keberagamaan harus melahirkan kepedulian.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah uswatun hasanah teladan terbaik bagi umat manusia.
Maka, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengenang beliau.
Cinta kepada Rasulullah harus melahirkan keteladanan.
Jika beliau mengajarkan kasih sayang, mari kita menghadirkan kasih sayang.
Jika beliau mengajarkan kepedulian, mari kita menjadi manusia yang peduli.
Jika beliau mengajarkan pertolongan, mari kita menjadi tangan yang membantu.
Jika beliau mengajarkan penghormatan kepada manusia, mari kita menjaga martabat setiap orang.
Jika beliau mengajarkan keberpihakan kepada kaum lemah, mari kita hadir bersama mereka.
Inilah makna Maulid yang sesungguhnya: mengubah kecintaan kepada Rasulullah SAW menjadi gerakan akhlak, kepedulian dan kemanusiaan.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Semoga kita tidak hanya menjadi umat yang banyak mengenang Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi umat yang mampu meneladani akhlaknya dan meneruskan kepeduliannya kepada sesama.
REFERENSI
- Salsabillah, F., Elmustian, E., & Mustafa, M. N. (2024). “Nilai-Nilai Tradisi Badikiar pada Peringatan Maulid Nabi di Desa Muaro Sentajo Kabupaten Kuantan Singingi.” JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(5), 4589–4599. DOI: 10.54371/jiip.v7i5.4408. Penelitian ini relevan karena menemukan nilai kerja sama, saling membantu, kepedulian dan kebersamaan dalam tradisi Maulid. (Jiip)
- Kalay, L. (2024). “Aktualisasi Nilai-nilai Pendidikan pada Perayaan Hari Besar Islam: Studi pada Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw di Desa Deme 1.” Pekerti: Journal Pendidikan Islam dan Budi Pekerti, 6(2), 105–111. Penelitian ini membahas Maulid sebagai media aktualisasi nilai pendidikan Islam. (Jurnal IAIN Sultan Amai Gorontalo)
- Hasby, M., Khairunnisa, F. I., Muhajirin, M., & Arifin, M. Z. (2024). “Maulid Nabi Muhammad Saw dan Pendidikan Karakter: Implementasi untuk Generasi Muda.” Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(3), 50552–50557. Kajian ini menekankan keteladanan Nabi, akhlak, kasih sayang, toleransi dan pembentukan karakter. (Jurnal Pendidikan Tambusai)
- Heridianto. (2025). “Exploring the Value of Mutual Cooperation in Religious Celebrations: A Case Study of the Celebration Maulid Nabi Muhammad SAW.” Indonesian Journal of Islamic Studies, 6(1), 7–12. DOI: 10.59525/ijois.v6i1.599. Penelitian ini mengaitkan perayaan keagamaan dengan solidaritas, gotong royong, kepedulian sosial dan empati. (Civiliza)
- Masruroh, S. A., dkk. (2025). “Fungsi Sosial Tradisi Maulid Nabi Perspektif KH. Hasyim Asy’ari.” Prosiding SAINSTEKNOPAK, 9, 251–260. Penelitian ini secara khusus membahas fungsi sosial tradisi Maulid. (E-Journal Unhasy)
- Buchori, M. S., & Lailiyah, I. (2025). “The Prophet’s Mawlid: Integration of Spiritual, Cultural, and Character Education Values in Indonesian Multicultural Society.” JIPI: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, 4(2), 55–69. DOI: 10.58788/jipi.v4i2.8154. Kajian ini menempatkan Maulid sebagai living tradition yang memiliki nilai religiusitas, toleransi dan gotong royong. (E-Journal Unira Malang)
- Fahrezi, S., & Junaidi. (2025). “Living Qur’an dan Etika Kepedulian Sosial: Implementasi Surah Al-Ma’un di Panti Asuhan An-Nur Medan Tembung.” Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat, 24(2), 265–286. DOI: 10.15408/refleksi.v24i2.49154. Penelitian ini sangat relevan untuk memperkuat bagian tentang Al-Ma’un dan kepedulian sosial. (Journal UIN Jakarta)
- Hamidah, N., Purnomo, H., Nashori, F., & Somantri, A. (2025). “Tinjauan Komprehensif tentang Nilai-Nilai Sosio-Emosional dalam Surah Al-Ma’un: Kontribusinya terhadap Kesejahteraan Psikologis Siswa Muslim.” Bayani, 5(2), 329–347. DOI: 10.52496/bayaniV.5I.2pp329-347. (E-Journal UMB)
- Saparudin, Yahya, M., & Hakim, M. A. (2026). “Makna Sosial dan Religius Tradisi Maulid Nabi pada Masyarakat Lombok Utara.” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(2). DOI: 10.23969/jp.v11i02.50569. Penelitian ini memperkuat argumentasi bahwa Maulid memiliki makna sosial dan berfungsi memperkuat hubungan sosial masyarakat. (Journal Universitas Pasundan)
- Faqih, T. A. (2026). “Transformasi Sosial Ekonomi dalam Perspektif Ma’na Cum Maghza pada QS. Al-Ma’un: Analisis Hermeneutika untuk Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Kontemporer.” Al-Muntaha: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Kajian ini menghubungkan QS. Al-Ma’un dengan kohesi sosial, dukungan terhadap kelompok kurang mampu, pemerataan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. (Jurnal Online UNSIQ)
SUMBER HADIS
- HR. Bukhari no. 6019 – tentang memuliakan tetangga dan berbuat baik kepada sesama. (Sunnah)
- HR. Muslim no. 2699a – tentang meringankan kesulitan orang lain dan pertolongan Allah kepada orang yang membantu saudaranya. (Sunnah)
- HR. Muslim no. 2588 – tentang sedekah, memaafkan dan tawaduk. (Sunnah)




























