AgamaEkonomiNewsPendidikanReligi

LTOS KSEI SEA UIN Palopo Dorong Lahirnya Kader Profesional, Inovatif, Dan Berdampak

×

LTOS KSEI SEA UIN Palopo Dorong Lahirnya Kader Profesional, Inovatif, Dan Berdampak

Sebarkan artikel ini

Palopo, Potretnusantara.co.id – Departemen Sumber Daya Insani Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) SEA UIN Palopo menyelenggarakan Leadership Training of SEA (LTOS) dengan mengusung tema “Cultivating Amanah Leadership: Membangun Kader yang Profesional, Inovatif, dan Berdampak”, di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Palopo, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan ini menjadi salah satu ruang pembinaan kader KSEI SEA untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, membangun karakter amanah, serta menumbuhkan kesadaran peserta agar mampu menjadi generasi yang profesional, inovatif, dan memberikan dampak positif bagi organisasi maupun masyarakat.

Hadir sebagai narasumber, Dr. Muhammad Alwi, S.Sy., M.E.I., yang memberikan penguatan mengenai keterkaitan antara kepemimpinan, dakwah, dan pembangunan peradaban ekonomi Islam. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau kemampuan mengarahkan orang lain, tetapi juga menyangkut tanggung jawab untuk memberikan manfaat.

Menurutnya, seorang pemimpin pada hakikatnya merupakan agen dakwah, karena setiap keputusan, kebijakan, dan sikap seorang pemimpin dapat memengaruhi orang lain serta membentuk budaya dalam sebuah organisasi. Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan berbicara dan visi, tetapi harus memiliki integritas dan keteladanan.

“Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan berbicara. Ia harus memiliki integritas. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki visi, Ia harus memiliki keteladanan”, ujarnya.

Lebih lanjut, Dr. Muhammad Alwi menjelaskan bahwa terdapat sejumlah karakter penting yang perlu dimiliki seorang pemimpin dalam perspektif ekonomi Islam, yaitu visi, amanah, kompetensi, keadilan, dan kemampuan memberikan manfaat.

Pemimpin harus mampu melihat masa depan, menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya, memiliki ilmu dan keterampilan, mengambil keputusan secara adil, serta memastikan kepemimpinannya memberikan dampak positif bagi orang lain.

Dalam konteks tema LTOS, nilai amanah menjadi salah satu fondasi utama kepemimpinan. Jabatan, kekuasaan, bahkan ilmu yang dimiliki seseorang dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, kepemimpinan tidak seharusnya dipahami sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan pribadi, melainkan sebagai ruang untuk memberikan kontribusi dan kemaslahatan.

Selain karakter, peserta juga didorong untuk memahami pentingnya kompetensi dalam kepemimpinan. Niat baik saja tidak cukup untuk menjalankan tanggung jawab kepemimpinan. Seorang kader perlu membekali diri dengan ilmu, keterampilan, kemampuan manajemen, pemanfaatan teknologi, serta kemampuan membaca perubahan zaman.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Menurut materi yang disampaikan, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi perlu mampu memanfaatkannya untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak untuk memperluas cara pandang mengenai dakwah. Dakwah tidak hanya dipahami sebagai aktivitas menyampaikan pesan keagamaan melalui mimbar, tetapi juga dapat diwujudkan melalui perilaku, aktivitas ekonomi, kepemimpinan, bisnis, dan berbagai bentuk kontribusi sosial.

“Dakwah yang paling kuat bukan hanya dakwah yang terdengar, tetapi dakwah yang terlihat dan dirasakan manfaatnya”, lanjutnya.

Perspektif tersebut menempatkan kader muda bukan hanya sebagai anggota organisasi, tetapi sebagai calon pemimpin yang diharapkan mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Kepemimpinan yang dibangun tidak berhenti pada pencapaian personal, tetapi diarahkan pada pemberdayaan, kemandirian, produktivitas, dan kemaslahatan masyarakat.

Dr. Muhammad Alwi juga menekankan bahwa masa depan ekonomi Islam memiliki keterkaitan erat dengan peran generasi muda. Mereka ditantang untuk bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen, dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan pekerjaan, serta dari penerima manfaat menjadi pihak yang mampu memberikan manfaat.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan pembinaan kader melalui LTOS. Kader diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan organisatoris, tetapi juga mempunyai keberanian untuk menciptakan gagasan, melakukan inovasi, serta mengambil peran nyata dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Pada bagian refleksi, peserta diajak untuk mempertanyakan kembali makna kepemimpinan bagi diri mereka masing-masing, apakah kepemimpinan hanya akan digunakan untuk mengejar posisi atau menjadi sarana menghadirkan solusi, apakah ilmu hanya akan menjadi gelar akademik atau digunakan untuk membantu masyarakat, serta apakah kemampuan yang dimiliki hanya menghasilkan keuntungan pribadi atau juga memberikan manfaat bagi orang lain.

Kegiatan LTOS diharapkan dapat menjadi momentum bagi kader KSEI SEA UIN Palopo untuk membangun karakter kepemimpinan yang tidak hanya cakap secara organisatoris, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Profesionalitas, inovasi, dan kebermanfaatan diharapkan menjadi bagian dari karakter kader dalam menjalankan setiap amanah organisasi.

Kepemimpinan yang baik bukan diukur semata-mata dari seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan. Sebagaimana pesan dalam materi LTOS, generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton sejarah, tetapi harus berani menjadi pelaku sejarah dan pembangun peradaban.

Melalui LTOS bertema “Cultivating Amanah Leadership: Membangun Kader yang Profesional, Inovatif, dan Berdampak”, Departemen Sumber Daya Insani KSEI SEA UIN Palopo menegaskan pentingnya membangun kader yang mampu memadukan amanah, kompetensi, inovasi, integritas, dan kebermanfaatan sebagai fondasi dalam menjalankan kepemimpinan.

Dengan demikian, kader KSEI SEA diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai generasi yang mampu menghadirkan nilai-nilai ekonomi Islam dalam kehidupan sosial, membangun kemandirian, dan mengambil bagian dalam mewujudkan peradaban yang lebih adil dan berkemaslahatan.

Penulis: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *