Polewali Mandar, Potretnusanatara.co.id – 22 tahun Sulawesi Barat berdiri sebagai provinsi, tetapi bagi sebagian warga, persoalan dasar masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Sulawesi Barat pada 22 September 2026, suara warga justru mengarah pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, akses kesehatan dan pendidikan yang sulit di wilayah terpencil, gagal panen akibat serangan hama tikus, hingga jalan rusak dan permukiman yang terancam banjir karena minimnya drainase.
Bagi masyarakat, ukuran kesejahteraan tidak cukup dilihat dari kemeriahan perayaan ulang tahun daerah. Pembangunan justru dirasakan dari seberapa mudah warga mendapatkan layanan dasar, mengolah lahan tanpa dihantui gagal panen, serta bepergian melalui jalan yang layak.
Salah seorang warga Campalagian, Suriani, menilai perhatian pemerintah terhadap masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau masih perlu diperkuat, terutama dalam sektor kesehatan dan pendidikan.
Menurutnya, persoalan di wilayah tersebut bukan semata-mata jarak menuju pusat perkotaan. Lebih jauh, keterbatasan akses membuat sebagian masyarakat kesulitan memperoleh layanan dasar.
“Kesulitan yang dialami masyarakat pada wilayah 3T bukan sekadar untuk mengakses pusat perkotaan sebagai sarana perbelanjaan, tetapi lebih dari itu. Akses layanan kesehatan yang sulit dijangkau dan sarana dan prasarana pendidikan yang perlu menjadi perhatian,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).
Suriani menyebut sejumlah wilayah di Sulawesi Barat masih menghadapi persoalan akses. Di Polewali Mandar, ia menyinggung Tutar, Sumarrang, dan Alu. Sementara di Majene, Malunda-Ulumanda, serta Tapalang Kopeang di Mamuju juga disebut menghadapi tantangan serupa.
Ia berharap momentum HUT Sulbar menjadi ruang evaluasi pembangunan, bukan sekadar perayaan tahunan.
Menurutnya, pemerintah perlu melihat ketimpangan akses antara wilayah yang relatif mudah dijangkau dengan daerah yang masih menghadapi keterbatasan layanan dasar.
“Pada berbagai wilayah yang berada di Sulawesi Barat, seperti di Kabupaten Polewali Mandar yakni Tutar, Sumarrang dan Alu, kemudian di Majene yakni Malunda-Ulumanda, serta wilayah Mamuju seperti Tapalang Kopeang, persoalan akses masih menjadi tantangan,” ungkapnya.
Persoalan lain datang dari sektor pertanian. Ramli, seorang petani, mengaku serangan hama tikus masih menjadi ancaman serius terhadap produksi sawahnya.
Bukan sekali. Ia menyebut telah dua kali mengalami gagal panen akibat serangan hama tersebut.
“Sudah dua kali gagal panen, karena hama tikus menyerang sawah,” katanya.
Menurut Ramli, persoalan hama bukan sekadar ancaman terhadap hasil produksi, tetapi juga menyentuh penghidupan petani. Karena itu, ia berharap pemerintah memberi dukungan yang lebih konkret untuk mengendalikan serangan hama.
“Kami sebagai petani tentu ingin sejahtera. Makanya kami berharap ada perhatian pemerintah, terutama soal pestisida pemberantas hama,” ungkapnya.
Di Desa Rumpa, Kecamatan Mapilli, keluhan warga beralih pada infrastruktur dasar.
Lukman, warga Dusun Ca’bulung, mengatakan jalan di wilayahnya telah lama mengalami kerusakan. Hingga kini, menurut dia, belum ada perbaikan yang memadai.
“Sudah lama mi rusak jalannya di sini, tapi belum ada perbaikan jalan dari desa maupun pemerintah daerah,” ujarnya.
Masalah tidak berhenti pada jalan. Ketika hujan deras turun, warga juga harus berhadapan dengan genangan karena tidak tersedianya drainase yang memadai.
“Ini juga kalau hujan deras pasti banjir. Bagaimana tidak banjir karena tidak ada drainase,” keluhnya.
Bagi Lukman, HUT Sulawesi Barat seharusnya menjadi momentum pemerintah melihat kembali persoalan yang dihadapi masyarakat hingga ke tingkat dusun.
Ia berharap peringatan ulang tahun provinsi tidak hanya berhenti pada panggung seremoni, tetapi diikuti dengan perhatian terhadap kebutuhan dasar warga.
Sebab, bagi masyarakat di wilayah yang masih menghadapi jalan rusak, ancaman gagal panen, banjir, serta keterbatasan akses kesehatan dan pendidikan, pembangunan bukan sekadar angka dan perayaan. Pembangunan dirasakan ketika persoalan-persoalan tersebut mulai mendapat penyelesaian.(*/ifn)














