NasionalNews

Nama Prof. Nasaruddin Umar Menguat, Perebutan Arah Geopolitik PBNU Jelang Muktamar Mulai Terbaca

×

Nama Prof. Nasaruddin Umar Menguat, Perebutan Arah Geopolitik PBNU Jelang Muktamar Mulai Terbaca

Sebarkan artikel ini

JATIM, Potretnusantara.co.id – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, dinamika politik internal organisasi terbesar di Indonesia mulai menunjukkan arah. Di tengah menguatnya dukungan terhadap Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, sebagai calon Ketua Umum PBNU, muncul pula bocoran komposisi kepengurusan yang dinilai mencerminkan desain baru kepemimpinan NU lima tahun mendatang.

Tokoh Muda Nahdliyin Jawa Timur sekaligus Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), Gus Lilur, mengungkapkan bahwa konfigurasi yang diusulkan tidak semata menyusun nama-nama, tetapi menggambarkan upaya membangun keseimbangan antara otoritas ulama, kapasitas intelektual, dan kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan global.

Dalam skema tersebut, KH Said Aqil Siradj diproyeksikan mengisi posisi Rais Aam, didampingi KH Afifuddin Muhajir dan KH Marzuki Mustamar sebagai Wakil Rais Aam. Sementara KH Abdus Salam Shohib diusulkan sebagai Katib Aam. Adapun jajaran Tanfidziyah dipimpin KH Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum, didampingi Nusron Wahid dan Alissa Wahid sebagai Wakil Ketua Umum, KH Yusuf Chudlori sebagai Sekretaris Jenderal, serta KH Imam Jazuli sebagai Bendahara Umum.

Lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan, peta tersebut mencerminkan pertarungan gagasan mengenai arah strategis NU di tengah perubahan geopolitik dunia. Organisasi ini tidak lagi hanya dihadapkan pada isu keagamaan dan kebangsaan, tetapi juga dituntut merespons rivalitas kekuatan global, perkembangan teknologi digital, hingga menguatnya diplomasi peradaban yang menjadikan agama sebagai instrumen soft power.

Bagi banyak kalangan, sosok Nasaruddin Umar dinilai memiliki posisi yang relatif strategis karena dikenal memiliki jejaring dialog lintas agama dan pengalaman diplomasi internasional. Karakter tersebut dipandang dapat memperkuat peran NU sebagai aktor masyarakat sipil Indonesia yang berpengaruh dalam percaturan Islam moderat di tingkat global.

Meski demikian, Gus Lilur menegaskan bahwa susunan tersebut hanyalah aspirasi yang disampaikan NBI sebagai kontribusi pemikiran menjelang Muktamar NU 2026. Keputusan akhir mengenai kepemimpinan PBNU sepenuhnya berada di tangan peserta muktamar sesuai mekanisme organisasi.

Muktamar mendatang pada akhirnya tidak hanya akan menentukan siapa yang memimpin PBNU, tetapi juga menentukan wajah dan orientasi NU dalam menjawab tantangan Indonesia serta dinamika geopolitik dunia selama lima tahun ke depan.

Sumber: Detik Jatim.com

Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *