Opini

Dari Altar Kesadaran Menuju Lorong Hijau: Membumikan Pertobatan Ekologis di Kota Makassar

×

Dari Altar Kesadaran Menuju Lorong Hijau: Membumikan Pertobatan Ekologis di Kota Makassar

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin
Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ketika Bumi Memanggil Manusia untuk Berubah. Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim global, berkurangnya keanekaragaman hayati, dan persoalan sampah perkotaan yang semakin kompleks, dunia sesungguhnya tidak hanya membutuhkan seperangkat regulasi lingkungan yang bersifat administratif. Kita memerlukan transformasi yang lebih mendasar, yakni perubahan cara pandang, pola hidup, dan kesadaran manusia terhadap relasinya dengan alam.

Transformasi tersebut dapat dipahami melalui konsep pertobatan ekologis (ecological conversion), yaitu proses perubahan batin dan perilaku yang mendorong manusia untuk kembali membangun hubungan yang lebih sehat dengan lingkungan hidup.

Pertobatan ekologis bukan sekadar mengikuti tren gaya hidup hijau atau perilaku ramah lingkungan yang bersifat simbolik. Ia merupakan panggilan moral untuk memperbaiki relasi manusia dengan bumi yang semakin mengalami tekanan akibat berbagai aktivitas eksploitasi.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana konsep yang bersifat filosofis dan spiritual ini dapat diwujudkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, khususnya di wilayah perkotaan.
Jawabannya dapat ditemukan di lorong-lorong Kota Makassar, ketika kesadaran individual mulai bertransformasi menjadi gerakan kolektif melalui pengelolaan sampah dan ketahanan pangan berbasis komunitas.

Dari Kesadaran Menuju Perubahan

Untuk memahami makna pertobatan ekologis, penting untuk membedakan antara mengetahui dan mengalami perubahan. Seseorang dapat memahami persoalan lingkungan, tetapi belum tentu mengubah perilakunya. Karena itu, proses ini setidaknya melalui tiga tahapan.

Pertama, kesadaran ekologis. Tahap ini muncul ketika manusia mulai meninggalkan cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segala hal. Sebaliknya, manusia mulai melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung satu sama lain.

Kedua, munculnya empati ekologis atau ecological grief. Kesadaran akan memiliki makna apabila menyentuh dimensi emosional manusia. Rasa sedih ketika melihat sungai tercemar, udara yang semakin buruk, atau tumpukan sampah yang menggunung sesungguhnya dapat menjadi titik awal lahirnya tanggung jawab moral.

Ketiga, pertobatan ekologis itu sendiri. Berasal dari kata Yunani metanoia, pertobatan berarti perubahan arah secara menyeluruh. Dalam konteks lingkungan, hal itu berarti komitmen untuk mengubah pola konsumsi dan cara memperlakukan sumber daya alam.

Perubahan Dimulai dari Rumah

Pertobatan ekologis tidak menuntut manusia untuk meninggalkan modernitas. Sebaliknya, ia mengajak manusia untuk hidup lebih sadar dan bijaksana.
Di tingkat rumah tangga, perubahan tersebut dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana tetapi memiliki dampak luas.

Dalam pengelolaan pangan, misalnya, keluarga dapat merencanakan kebutuhan belanja secara lebih terukur untuk mengurangi sampah makanan (food waste). Menghabiskan makanan yang tersedia di meja makan bukan hanya bentuk kedisiplinan, melainkan juga penghargaan terhadap alam dan kerja para petani.

Perubahan juga dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kebiasaan membawa wadah atau tas belanja yang dapat digunakan kembali menjadi langkah sederhana untuk mengurangi budaya konsumsi sekali pakai.

Hal serupa berlaku pada penggunaan energi dan air. Mematikan keran saat tidak digunakan serta mengurangi pemborosan energi listrik merupakan bentuk tanggung jawab terhadap sumber daya yang tersedia.

Perubahan tersebut sesungguhnya menandai pergeseran cara hidup, dari pola konsumsi berlebihan menuju pola hidup yang lebih sederhana dan berorientasi pada kecukupan.

Jika sebelumnya masyarakat cenderung membeli barang berdasarkan dorongan sesaat tanpa mempertimbangkan dampak ekologisnya, maka pertobatan ekologis mengajak manusia untuk hidup secara lebih bijak, merasa cukup terhadap kebutuhan yang dimiliki, serta memahami bahwa setiap tindakan individu memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.

Makassar dan Gerakan dari Lorong

Gagasan tentang pertobatan ekologis menemukan bentuk nyatanya di Kota Makassar melalui gerakan integrasi pertanian perkotaan (urban farming) dengan pengelolaan sampah dari sumbernya.

Menariknya, gerakan ini turut mendapat dukungan dari tokoh seni asal Makassar, Fadly Padi. Sebagai figur publik, ia memanfaatkan pengaruh yang dimiliki untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dan mengedukasi masyarakat.

Dalam praktiknya, sampah organik rumah tangga seperti sisa sayur, buah, dan makanan tidak lagi dibuang begitu saja. Sampah tersebut diolah menjadi kompos atau eco-enzyme yang kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan.

Melalui pendekatan ini, setidaknya terdapat tiga manfaat utama yang dapat dirasakan.

Pertama, memutus alur sampah sejak dari sumbernya. Selama ini sebagian besar sampah rumah tangga berakhir di Tempat Pembuangan Akhir Tamangapa dan menambah beban lingkungan. Pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga dapat mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke TPA.

Kedua, memulihkan hubungan masyarakat dengan pangan. Pemanfaatan pekarangan dan ruang-ruang lorong untuk menanam cabai, sawi, atau tomat memungkinkan masyarakat lebih dekat dengan proses produksi pangan yang mereka konsumsi.

Ketiga, memperkuat solidaritas sosial masyarakat. Karakter masyarakat Makassar yang tumbuh dalam budaya lorong dan gotong royong menjadi modal sosial yang penting dalam memperkuat gerakan lingkungan.

Lorong-lorong yang sebelumnya hanya menjadi ruang lalu lintas warga perlahan berkembang menjadi ruang hijau bersama, tempat masyarakat saling berbagi bibit, pengetahuan, dan pengalaman.

Menjaga Bumi dari Ruang Terdekat

Gerakan integrasi pertanian perkotaan dan pengelolaan sampah berbasis sumber di Makassar menunjukkan bahwa pertobatan ekologis bukan sekadar gagasan ideal yang sulit diwujudkan. Ia dapat hadir dalam tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan kolektif.

Menyelamatkan lingkungan tidak selalu harus menunggu kesepakatan global atau kebijakan besar. Langkah itu dapat dimulai dari ruang terdekat: dari dapur rumah, dari kebiasaan memilah sampah, atau dari sebutir benih yang ditanam di pekarangan.

Sebab ketika manusia merawat tanah tempat ia berpijak, sesungguhnya ia sedang merawat masa depan kehidupan itu sendiri.

Ekologi yang pulih pada akhirnya bukan hanya lahir dari teknologi atau kebijakan, melainkan juga dari manusia yang bersedia mengubah dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *