Oleh: Adam Ali
Opini, Potretnusanatara.co.id – Agustus 2025 menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Ia bukan hanya tentang demonstrasi yang memenuhi ruang publik, tetapi tentang munculnya kesadaran bahwa ada persoalan yang tidak bisa terus dibiarkan tanpa jawaban.
Jalanan menjadi tempat rakyat menyampaikan kegelisahan karena banyak yang merasa suara mereka semakin jauh dari ruang pengambilan keputusan. Tekanan ekonomi, persoalan ketimpangan, kebijakan yang diperdebatkan, hingga kekecewaan terhadap lembaga perwakilan menjadi bagian dari keresahan yang mendorong lahirnya berbagai gerakan.
Namun satu hal yang perlu dipahami, perubahan besar tidak pernah lahir dari satu momentum saja.
Reformasi 1998 mengajarkan bahwa perubahan bukan hasil dari satu hari aksi, bukan pula hasil dari satu kelompok yang bergerak sendiri. Reformasi adalah perjalanan panjang yang dibangun dari proses bertahun-tahun, konsistensi gerakan mahasiswa, keberanian masyarakat sipil, diskusi yang terus hidup, kritik yang tidak berhenti, serta kemampuan merawat kesadaran kolektif di tengah berbagai tekanan.
Mereka yang bergerak pada masa itu memahami bahwa perjuangan tidak selalu berada dalam sorotan. Ada masa ketika gerakan harus bertahan, memperkuat jaringan, memperluas kesadaran, dan mempersiapkan momentum. Pelajaran itulah yang harus menjadi refleksi setelah Agustus 2025.
Sebuah gerakan tidak boleh hanya kuat ketika kemarahan publik sedang tinggi. Gerakan harus mampu bertahan setelah perhatian media berkurang. Sebab tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menghadirkan massa dalam satu hari, tetapi bagaimana menjaga agar kesadaran tetap hidup dalam waktu yang panjang.
Berbagai persoalan yang muncul setelahnya seharusnya tidak dilihat sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Kasus korupsi yang melibatkan pejabat, perilaku sebagian elite yang mempertontonkan gaya hidup mewah di tengah kesulitan masyarakat, rendahnya kepercayaan publik terhadap lembaga perwakilan, hingga perdebatan mengenai ruang sipil dan kekuasaan, semuanya harus menjadi alasan untuk memperkuat kesadaran masyarakat.
Persoalan-persoalan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan memperbaiki demokrasi belum selesai.
Sebab tujuan gerakan bukan sekadar mencari siapa yang salah, tetapi memastikan sistem yang memungkinkan persoalan tersebut terjadi terus diperbaiki.
Namun kritik yang kuat membutuhkan gerakan yang kuat pula. Gerakan tidak boleh hanya hadir ketika ada persoalan, kemudian menghilang ketika keadaan mulai tenang. Konsolidasi harus terus dibangun melalui pendidikan politik, kajian, diskusi publik, dan pengawalan kebijakan.
Sebab kekuasaan sering kali tidak berubah hanya karena satu kali tekanan. Kekuasaan berubah ketika masyarakat memiliki kesadaran yang terus dirawat dan gerakan yang mampu bertahan.
Peristiwa meninggalnya Affan Kurniawan juga harus menjadi refleksi bahwa perjuangan demokrasi memiliki harga yang tidak ringan. Setiap peristiwa yang menyentuh rasa keadilan publik harus menjadi pengingat bahwa demokrasi membutuhkan pengawalan dari masyarakat.
Begitu pula dengan kasus dugaan penyiraman terhadap aktivis HAM Andrie Yunus. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa ruang bagi masyarakat sipil untuk bersuara harus terus dijaga. Demokrasi tidak akan sehat apabila kritik dianggap sebagai ancaman.
Menjelang 81 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini tidak hanya membutuhkan perayaan, tetapi juga perenungan. Apakah kita hanya akan mengingat Reformasi 1998 sebagai cerita masa lalu, atau mampu mengambil semangatnya untuk menghadapi persoalan hari ini
Reformasi mengajarkan bahwa perubahan tidak datang karena masyarakat marah sesaat. Perubahan datang karena ada kelompok masyarakat yang mampu menjaga semangat, merawat jaringan, memperkuat konsolidasi, dan tetap bekerja meskipun hasil belum terlihat.
Maka persoalan-persoalan hari ini bukan alasan untuk berhenti, kegagalan gerakan sebelumnya bukan alasan untuk meninggalkan perjuangan.
Justru semua itu harus menjadi alasan untuk memperbaiki cara bergerak.
Karena gerakan yang besar bukan hanya gerakan yang mampu membuat suara terdengar, tetapi gerakan yang mampu menjaga suara tersebut tetap hidup.
Bangun kesadaran kolektif. Rawat gerakan, kuatkan konsolidasi, dan pastikan perjuangan tidak berhenti sebagai kemarahan sesaat, tetapi menjadi energi panjang untuk memperbaiki arah demokrasi bangsa.















