Inggris, Potretnusantara.co.id – Premier League musim depan dipastikan terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun dihiasi duel taktik para pelatih senior, kini kursi manajer klub-klub besar justru dipenuhi wajah-wajah dari generasi yang sama. Bisa dibilang, ini bukan lagi Liga Inggris, melainkan reuni akbar kelahiran tahun 1980-an.
Lihat saja daftar pelatihnya. Manchester United dipimpin Michael Carrick (1981), Manchester City bersama Enzo Maresca (1980), Arsenal tetap dengan Mikel Arteta (1982), Chelsea mempercayakan tim kepada Xabi Alonso (1981), Liverpool menunjuk Andoni Iraola (1982), dan Tottenham bersama Roberto De Zerbi (1979). De Zerbi memang lahir 1979, tapi selisih setahun tidak cukup untuk membuatnya merasa lebih senior saat nongkrong bareng.
Kepergian Pep Guardiola dan Arne Slot seolah menjadi tanda bahwa satu era telah resmi ditutup. Kini tongkat estafet berpindah ke generasi yang tumbuh dengan kaset pita, Walkman, dan mungkin pernah berebut main PlayStation generasi pertama.
Yang menarik, sebagian besar dari mereka adalah mantan pemain yang dulu sama-sama berkeringat di lapangan dan kini saling adu kecerdasan di area teknis. Bedanya, dulu mereka berebut bola, sekarang mereka berebut siapa yang paling cepat membuat netizen lawan marah setelah menang 1-0 lewat gol menit ke-90.
Musim depan, persaingan Premier League bukan hanya soal perebutan trofi, tetapi juga soal pembuktian generasi. Siapa yang paling cerdas, siapa yang paling berani, dan siapa yang paling kuat menghadapi komentar suporter yang berubah dari memuji menjadi meminta pemecatan hanya dalam dua pekan.
Satu hal yang pasti, era lama sudah selesai. Premier League kini resmi memasuki zaman baru. Para “anak 80-an” telah mengambil alih panggung. Tinggal kita tunggu, siapa yang akan menjadi bos besar berikutnya, dan siapa yang lebih dulu mendengar kalimat paling menakutkan dalam sepak bola modern: “Kami masih percaya penuh kepada pelatih”.
Penulis: S PNs



















