Jakarta, Potretnusantara.co.id – Wakil Menteri Agama, Romo H.R. Muhammad Syafii, menyebut pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan pesantren memiliki berbagai keunggulan. Program tersebut dinilai mampu menyesuaikan dengan kultur santri sekaligus mendorong kemandirian pesantren dalam pengelolaan layanan gizi.
Romo Syafii mengatakan program MBG mendapat respons positif dari masyarakat dan kalangan pesantren.
“Faktanya di lapangan program ini ditunggu masyarakat. Pesantren dan satuan pendidikan keagamaan merasakan langsung manfaat program MBG,” ujar Romo Syafii dalam kegiatan koordinasi percepatan Program MBG pada pondok pesantren bersama Badan Gizi Nasional dan Kantor Staf Presiden di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, salah satu keunggulan penerapan MBG di pesantren terletak pada pola layanan yang lebih adaptif terhadap tradisi dan budaya santri. Bentuk dapur, pola penyajian makanan, hingga jadwal makan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pesantren dengan tetap memenuhi standar sanitasi dan higienitas Badan Gizi Nasional (BGN).
Sementara itu, Ketua Umum Relawan Muda Pro Prabowo, Rudi Sahabuddin, menilai pelaksanaan Program MBG di pesantren merupakan langkah strategis yang tidak hanya mendukung pemenuhan gizi santri, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar.
“Program Makan Bergizi Gratis di pesantren merupakan langkah strategis yang sangat tepat karena tidak hanya menyentuh aspek pemenuhan gizi santri, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar,” ujar Rudi Sahabuddin pada awak media, Rabu (13/5/2026).
Menurut Rudi, fleksibilitas pelaksanaan MBG di lingkungan pesantren menjadi keunggulan tersendiri karena mampu menyesuaikan dengan kultur dan tradisi santri tanpa mengabaikan standar kesehatan serta kualitas pangan.
“Kami melihat kebijakan yang adaptif seperti ini akan membuat program lebih mudah diterima dan dijalankan secara maksimal di lingkungan pesantren. Tradisi seperti puasa Senin-Kamis maupun pola makan khas pesantren tetap bisa berjalan berdampingan dengan program MBG,” katanya.
Ia juga menilai keterlibatan pesantren dalam pengelolaan dapur MBG dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, khususnya pelaku usaha kecil dan petani lokal.
“Ketika satu dapur membutuhkan ribuan telur, sayur, tempe, dan bahan pangan lainnya setiap hari, maka akan ada perputaran ekonomi yang besar di tingkat bawah. Ini bukan hanya program makan gratis, tetapi juga penguatan ekonomi kerakyatan,” tegasnya.
Rudi berharap percepatan implementasi Program MBG di pesantren terus dikawal agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh para santri dan masyarakat.
“Kami mendukung penuh percepatan program ini karena dampaknya sangat nyata, baik untuk peningkatan kualitas generasi muda maupun pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.













