LingkunganOpini

Dari Lorong ke Peradaban: Lahirnya Jamaah Ekologi di Makassar

×

Dari Lorong ke Peradaban: Lahirnya Jamaah Ekologi di Makassar

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin (Pemerhati Lingkungan Hidup, Pegiat Ecoenzym)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Di sebuah sudut Kota Makassar, pagi belum sepenuhnya matang. Matahari masih setengah hati menyinari lorong-lorong sempit, ketika sekelompok orang berkumpul tanpa seremonial. Tidak ada panggung, tidak ada baliho besar, tidak pula sambutan panjang. Hanya ember, sisa dapur, dan semangat yang tampak sederhana. Mereka bukan pejabat, bukan pula tokoh besar. Mereka adalah warga biasa—yang dalam bahasa baru, mulai kita kenal sebagai “jamaah ekologi”.

Istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi sesungguhnya ia lahir dari kesadaran yang sangat tua: bahwa manusia dan alam tidak pernah benar-benar terpisah. Kata jamaah mengandung makna kebersamaan yang hidup, bukan sekadar kumpulan, tetapi kesatuan rasa, arah, dan tujuan. Ketika ia bertemu dengan ekologi, maka lahirlah satu bentuk komunitas yang bukan hanya bergerak, tetapi juga percaya.

Makassar, dalam beberapa tahun terakhir, sedang mengalami satu gejala sosial yang menarik. Di tengah tekanan persoalan sampah, keterbatasan ruang hijau, dan laju urbanisasi yang tak terelakkan, muncul komunitas-komunitas kecil yang memilih untuk tidak menunggu. Mereka bergerak dari rumah ke rumah, dari lorong ke lorong, membangun kesadaran ekologis dari hal-hal yang paling dekat: sampah dapur, air limbah, dan kebiasaan sehari-hari.

Fenomena ini menemukan momentumnya di era Wali Kota Munafri Arifuddin. Di bawah arah kebijakan yang mulai memberi ruang pada inovasi pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat seperti biopori, maggot, hingga eco enzyme gerakan akar rumput ini seperti mendapat angin segar. Pemerintah tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya aktor, melainkan mulai membuka ruang kolaborasi dengan warga.

Namun, yang menarik, jamaah ekologi tidak tumbuh karena kebijakan semata. Ia justru lahir dari kegelisahan yang lebih dalam: rasa jenuh melihat lingkungan yang terus memburuk, dan kesadaran bahwa perubahan tidak akan datang jika hanya ditunggu. Kebijakan mungkin memberi arah, tetapi gerakan ini digerakkan oleh kesadaran.

Di banyak kelurahan, kita mulai melihat pola yang berulang. Sekelompok kecil warga memulai sering kali hanya dua atau tiga orang. Mereka belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Dari membuat eco enzyme, mengelola bank sampah, hingga mengedukasi tetangga. Perlahan, lingkaran itu membesar. Yang awalnya dianggap aneh, mulai dipahami. Yang awalnya ditertawakan, mulai diikuti.

Di titik inilah jamaah ekologi menunjukkan kekuatannya. Ia tidak bekerja dengan cara memaksa, tetapi dengan memberi contoh. Ia tidak mengandalkan instruksi, tetapi keteladanan. Dalam bahasa yang sederhana, mereka tidak banyak bicara tentang perubahan mereka menunjukkannya.

Lebih dari sekadar aktivitas lingkungan, jamaah ekologi juga membangun relasi sosial yang baru. Di tengah kota yang semakin individualistik, mereka menghadirkan kembali semangat gotong royong dalam bentuk yang lebih kontekstual. Sampah tidak lagi menjadi urusan pribadi, tetapi tanggung jawab bersama. Lingkungan tidak lagi dilihat sebagai latar, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

Dari sisi ekonomi, gerakan ini juga mulai menunjukkan dampaknya. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, perlahan berubah menjadi sumber daya. Bank sampah memberi insentif, eco enzyme membuka peluang pemanfaatan, dan berbagai inovasi lain menciptakan ekosistem ekonomi kecil yang berkelanjutan. Di sini, kepedulian lingkungan tidak lagi bertentangan dengan kebutuhan hidup keduanya justru saling menguatkan.

Namun, seperti semua gerakan sosial, jamaah ekologi juga menghadapi tantangan. Tidak semua orang mudah berubah. Ada resistensi, ada kejenuhan, ada pula godaan untuk berhenti di tengah jalan. Selain itu, ada risiko bahwa gerakan ini menjadi sekadar tren ramai di awal, lalu perlahan meredup tanpa jejak yang berarti.

Di sinilah pentingnya menjaga ruh dari jamaah ekologi itu sendiri. Bahwa ia bukan sekadar program, bukan pula proyek sesaat, tetapi sebuah cara pandang. Ia menuntut konsistensi, kesabaran, dan keikhlasan nilai-nilai yang sering kali tidak terlihat, tetapi justru menjadi fondasi dari setiap perubahan yang bertahan lama.

Pemerintah, dalam hal ini, memiliki peran strategis untuk memastikan gerakan ini tidak berjalan sendiri. Dukungan kebijakan, fasilitasi, hingga penguatan kapasitas komunitas menjadi kunci agar jamaah ekologi tidak hanya tumbuh, tetapi juga bertahan. Kolaborasi yang sehat antara pemerintah dan warga akan menentukan apakah gerakan ini menjadi arus besar atau sekadar riak sesaat.

Makassar hari ini mungkin belum sepenuhnya bersih. Sampah masih menjadi persoalan, dan tantangan lingkungan masih terbentang panjang. Namun, di balik itu semua, ada sesuatu yang mulai tumbuh perlahan, tetapi pasti. Sebuah kesadaran kolektif yang bergerak dari bawah, dari warga biasa yang memilih untuk peduli.
Jamaah ekologi adalah tanda bahwa harapan itu masih ada.

Ia tidak datang dalam bentuk yang megah, tetapi dalam tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa. Dan yang paling penting, ia mengingatkan kita bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari kekuasaan, tetapi dari kesadaran.

Di kota yang terus bergerak seperti Makassar, jamaah ekologi adalah jeda yang memberi makna. Ia mengajak kita untuk tidak hanya hidup di kota, tetapi juga merawatnya. Karena pada akhirnya, kota bukan hanya tentang bangunan dan jalanan, tetapi tentang bagaimana manusia di dalamnya memilih untuk hidup dan menjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *