Polewali Mandar, Potretnusanatara.co.id – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, mulai memukul usaha nelayan tambak. Sejumlah empang warga di Dusun Garassi, Desa Nepo, Kecamatan Wonomulyo, mengalami kekeringan hingga menyebabkan ribuan bibit ikan bandeng mati.
Salah seorang nelayan, Bande, mengaku kehilangan sekitar 10.000 ekor bibit ikan bandeng akibat empangnya kekurangan air. Kondisi tersebut membuat dirinya mengalami kerugian yang ditaksir mencapai nilai produksi sekitar satu ton ikan bandeng jika dipanen.
“Karena kemarau banyak empang yang kekeringan. Itu bisa dilihat di sepanjang jalan ke Garassi,” ujar Bande kepada Mesakada.com, Minggu (20/9/2026).
Menurut Bande, kekeringan terjadi sejak musim kemarau melanda wilayah Polman dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat air di sejumlah empang menyusut hingga tidak mampu menopang budidaya ikan bandeng.
Ia mengatakan, bibit bandeng yang dipeliharanya banyak yang mati akibat kondisi empang yang mengering.
“Mati semua na ada sekitar 10.000 bibit ikan. Kalau ditafsir kerugian sampai 1 ton ikan bandeng kalau dijual. Na harganya bibit ikan bandeng Rp1.000 per ekornya,” katanya.
Tak hanya kekeringan, nelayan di wilayah tersebut juga menghadapi persoalan lain. Angin kencang dan ombak besar membuat aktivitas menangkap ikan di laut ikut terganggu.
Bande mengaku lebih jarang melaut karena kondisi cuaca yang tidak menentu. Ia memilih tidak memaksakan diri pergi ke laut ketika angin bertiup kencang dan gelombang tinggi.
Menurutnya, melaut dalam kondisi tersebut berisiko bagi keselamatan dirinya maupun nelayan lainnya.
“Jarang sekali bisa ke laut karena angin kencang dan ombak besar jadi agak susah dapat ikan laut,” kata dia.
Kondisi kemarau yang disertai angin kencang tersebut membuat nelayan di Garassi harus menghadapi tekanan dari dua sisi, yakni berkurangnya hasil budidaya di empang dan terbatasnya aktivitas menangkap ikan di laut.
Bagi nelayan seperti Bande, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada hasil tangkapan dan budidaya, tetapi juga menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.(*)












