Opini

KAMI DIMINTA BERJUANG, TAPI TAK PERNAH DIBERI ARAH

×

KAMI DIMINTA BERJUANG, TAPI TAK PERNAH DIBERI ARAH

Sebarkan artikel ini

Catatan Seorang Anak yang Tumbuh Tanpa Ayah dan Menemukan Dirinya sebagai Pion dalam Dunia Aktivisme

Oleh: Andi Massakili





Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ada sebuah pertanyaan yang belakangan semakin sering muncul dalam kepala saya: sebenarnya saya sedang menuju ke mana? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, bahkan mungkin dianggap sebagai kegelisahan biasa yang dialami banyak anak muda. Namun bagi saya, pertanyaan tentang arah memiliki makna yang jauh lebih panjang. Sejak kecil, saya sudah terbiasa menjalani hidup dengan sebuah kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Saya kehilangan ayah ketika masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Pada usia ketika sebagian anak masih mengenal dunia melalui tangan dan arahan seorang ayah, saya justru harus belajar memahami bahwa ada seseorang yang tidak akan lagi berada di samping saya. Saat itu saya belum cukup dewasa untuk memahami sepenuhnya apa arti kehilangan. Namun perlahan saya mengerti bahwa ada satu tempat bertanya yang tidak lagi bisa saya datangi ketika saya takut, bingung, atau membutuhkan seseorang untuk menunjukkan jalan.

Sejak saat itu, saya dibesarkan oleh seorang ibu. Ia menjadi rumah sekaligus tempat saya belajar memahami kehidupan. Dari seorang ibu, saya belajar tentang keteguhan, tentang bagaimana seseorang tetap harus berdiri meskipun keadaan tidak selalu memberikan pilihan yang mudah, dan tentang bagaimana kehidupan harus terus berjalan meskipun ada bagian dari hati yang harus menerima kehilangan.

Namun, tumbuh tanpa ayah tetap meninggalkan ruang yang sulit dijelaskan. Bukan semata-mata tentang kehilangan seseorang di dalam rumah, melainkan tentang kehilangan figur yang dalam bayangan seorang anak seharusnya menjadi tempat bertanya ketika dunia mulai terasa terlalu rumit.

Mungkin karena pengalaman itulah, ketika beranjak dewasa saya mulai mencari sosok-sosok yang dapat memberikan arah. Saya menemukannya melalui organisasi, lingkungan pertemanan, dunia perjuangan, dan orang-orang yang saya anggap lebih dahulu memahami kehidupan. Saya berharap dapat belajar dari pengalaman mereka, bukan hanya tentang bagaimana memperjuangkan sesuatu, tetapi juga bagaimana mempersiapkan masa depan.

Dari sana saya masuk lebih jauh ke dunia aktivisme. Saya belajar bahwa memperjuangkan sesuatu membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kesediaan untuk berada di tengah persoalan. Saya belajar menyampaikan aspirasi, berdiskusi, membangun jaringan, turun ke lapangan, dan menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu mudah. Bagi saya, aktivisme bukan sekadar berada di tengah keramaian, tetapi tentang keyakinan bahwa seseorang harus berani mengambil bagian ketika melihat sesuatu yang menurutnya tidak benar.

Namun semakin lama berada di dalamnya, semakin sering muncul kegelisahan yang sulit saya abaikan. Saya mulai bertanya apakah selama ini saya benar-benar sedang dipersiapkan untuk tumbuh, atau hanya sedang dipersiapkan untuk terus bergerak. Pertanyaan itu bukan lahir karena saya membenci dunia aktivisme. Justru karena saya masih percaya pada perjuangan itulah saya merasa perlu bertanya tentang ke mana semua ini akan membawa saya.

Sejak kecil saya kehilangan seorang ayah yang seharusnya menjadi penunjuk arah. Ketika dewasa saya mencari arah itu melalui orang-orang yang saya anggap lebih berpengalaman, melalui perjuangan, melalui organisasi, melalui jalan aktivisme. Tetapi ironisnya, di tengah perjalanan itu saya justru sering merasa hanya dibutuhkan untuk bergerak, bukan dipersiapkan untuk tumbuh.

Saya percaya kegelisahan seperti ini tidak hanya dimiliki oleh saya. Banyak anak muda masuk ke dalam organisasi dengan membawa idealisme, tenaga, waktu, dan keberanian. Mereka bersedia hadir ketika dibutuhkan, membantu ketika ada persoalan, dan ikut bergerak ketika sebuah perjuangan harus dikawal. Mereka melakukannya karena percaya bahwa apa yang sedang dijalani merupakan bagian dari proses menuju sesuatu yang lebih besar.

Namun persoalannya, tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mengetahui apa sebenarnya sesuatu yang lebih besar itu.

Mereka diajak berjuang, tetapi tidak selalu diajak memahami arah perjuangan. Mereka diberikan tanggung jawab, tetapi tidak selalu diberikan ruang untuk memahami bagaimana tanggung jawab itu dapat membentuk dirinya. Mereka diajarkan untuk bergerak mengikuti instruksi, tetapi belum tentu diberikan kesempatan yang cukup untuk belajar mengambil keputusan.

Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih besar dalam kehidupan organisasi dan aktivisme. Kita sering berbicara tentang kaderisasi, regenerasi, loyalitas, dan perjuangan, tetapi terkadang lupa bahwa inti dari semuanya adalah manusia. Anak muda yang bergabung dalam organisasi bukan sekadar tambahan tenaga, bukan sekadar massa ketika dibutuhkan, dan bukan pula sekadar orang yang dapat diminta hadir ketika sebuah kegiatan harus disukseskan.

Mereka adalah manusia yang sedang membangun dirinya.

Mereka memiliki cita-cita, kegelisahan, kebutuhan untuk belajar, dan masa depan yang harus dipikirkan.

Karena itu, pengalaman dari mereka yang lebih dahulu berjalan seharusnya tidak berhenti pada pemberian instruksi. Pengalaman semestinya diturunkan melalui proses belajar, diskusi, kesempatan mengambil keputusan, bahkan melalui ruang untuk melakukan kesalahan dan memperbaikinya. Sebab jika generasi muda hanya terus diajarkan untuk mengikuti, kapan mereka akan belajar menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri?

Saya mulai memahami bahwa ada perbedaan antara loyalitas dan kehilangan arah. Loyalitas adalah kesediaan untuk berdiri bersama nilai dan perjuangan yang diyakini. Sementara kehilangan arah terjadi ketika seseorang terlalu lama mengikuti langkah orang lain sampai lupa bertanya apakah jalan tersebut memang menuju tempat yang ingin ia tuju.

Menjadi bagian dari sebuah perjuangan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir. Menghormati orang-orang yang lebih dahulu berjalan tidak berarti menyerahkan seluruh keputusan hidup kepada mereka. Begitu pula menjadi bagian dari organisasi tidak berarti seseorang harus mengubur cita-cita pribadinya.

Organisasi seharusnya menjadi tempat seseorang menemukan kemampuan dan identitasnya, bukan tempat seseorang kehilangan dirinya karena terlalu lama menjadi pelaksana dari kehendak orang lain.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua yang saya lakukan selama ini sia-sia. Justru dunia aktivisme telah memberikan banyak pengalaman yang membentuk diri saya. Saya bertemu dengan banyak orang, belajar memahami persoalan masyarakat, belajar berbicara di hadapan publik, belajar mengelola konflik, bekerja dalam tekanan, dan memahami bahwa perubahan membutuhkan keberanian untuk memulai.

Semua itu adalah bagian penting dari perjalanan hidup saya.

Tetapi pengalaman juga mengajarkan saya untuk mulai memikirkan diri sendiri. Ada masa ketika saya merasa bangga karena selalu menjadi orang yang siap ketika dibutuhkan. Ketika ada persoalan, saya hadir. Ketika ada kegiatan, saya membantu. Ketika ada perjuangan yang harus dikawal, saya ikut bergerak.

Namun pada suatu titik saya bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya sedang bertumbuh, atau hanya sedang digunakan untuk terus bergerak?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab dalam dunia aktivisme, mempertanyakan arah terkadang dapat dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan. Padahal menurut saya, seorang aktivis justru harus memiliki keberanian untuk bertanya. Jika kita berani mempertanyakan kebijakan, ketidakadilan, dan keputusan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat, mengapa kita tidak boleh mempertanyakan arah perjalanan kita sendiri?

Saya tidak ingin selamanya menjadi pion.

Bukan karena saya tidak mau berjuang, tetapi karena saya ingin memahami untuk apa saya berjuang. Saya ingin suatu hari ketika berdiri di tengah sebuah perjuangan, saya tidak hanya tahu siapa yang meminta saya berdiri, tetapi juga tahu alasan saya memilih untuk berdiri.

Saya ingin bergerak bukan karena takut kehilangan tempat, bukan karena ingin mendapatkan pengakuan, dan bukan semata-mata karena ingin dianggap loyal. Saya ingin bergerak karena memiliki keyakinan terhadap apa yang saya lakukan.

Mungkin inilah proses pendewasaan yang sedang saya jalani. Dari seorang anak yang kehilangan ayah, menjadi seseorang yang dibesarkan oleh ibu, kemudian tumbuh di tengah dunia organisasi dan aktivisme, saya akhirnya sampai pada satu kesadaran bahwa hidup tidak mungkin selamanya hanya tentang mencari orang yang menunjukkan jalan.

Ada saatnya kita harus belajar membaca kompas sendiri.

Saya mungkin belum menjadi siapa-siapa. Saya masih berjalan, masih mencari, dan masih belajar. Tetapi belum menjadi apa-apa bukan berarti tidak akan menjadi apa-apa. Mungkin saya hanya sedang berada di sebuah persimpangan yang membutuhkan keberanian untuk memilih jalan sendiri.

Karena itu, jika suatu hari saya dipercaya menjadi bagian dari orang-orang yang membimbing generasi setelah saya, saya tidak ingin hanya mengajarkan mereka bagaimana berjuang. Saya ingin mengajarkan bagaimana berpikir, mengambil keputusan, membangun kapasitas, dan berdiri dengan kaki sendiri.

Saya tidak ingin generasi setelah saya hanya menjadi orang-orang yang siap ketika dipanggil. Saya ingin mereka menjadi manusia yang mampu menentukan kapan harus maju, kapan harus berhenti, dan ke mana harus berjalan.

Sebab generasi muda tidak hanya membutuhkan orang yang mengatakan, “Ayo berjuang.” Mereka juga membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersama mereka dan bertanya, “Kamu ingin membawa hidupmu ke mana?”

Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh, bukan sekadar ruang untuk digunakan. Mereka membutuhkan teladan, bukan hanya instruksi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri, bukan selamanya menjadi bayang-bayang dari orang yang datang lebih dahulu.

Pada akhirnya, kami memang diminta berjuang. Kami diminta hadir ketika masyarakat membutuhkan. Kami diminta berdiri ketika keadaan mengharuskan. Tetapi kami juga memiliki hak untuk bertanya, untuk belajar, untuk tumbuh, dan untuk menentukan masa depan kami sendiri.

Kami bukan sekadar pion dalam papan permainan siapa pun.

Kami adalah manusia yang memiliki cita-cita, memiliki kegelisahan, memiliki kehidupan yang harus dibangun, dan memiliki jalan yang suatu hari harus kami tentukan sendiri.

Dan mungkin, setelah bertahun-tahun mencari seseorang yang bisa menunjukkan arah, saya akhirnya harus belajar mengatakan kepada diri sendiri:

Tidak apa-apa jika hari ini saya belum tahu harus ke mana. Yang penting, mulai sekarang saya belajar menentukan arahnya sendiri.















Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Oleh : Mulawarman (Jurnalis Senior) Opini Publik, Potretnusantara.co.id…