Daerah

Panen 10,4 Ton per Hektare, PM-AAS Buka Harapan Baru Pertanian Soppeng

×

Panen 10,4 Ton per Hektare, PM-AAS Buka Harapan Baru Pertanian Soppeng

Sebarkan artikel ini

Soppeng, Potretnusantara.co.id – Uji terap sistem budidaya padi modern melalui program Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Soppeng menunjukkan hasil menjanjikan. Pada musim hujan, produktivitas padi varietas Inpago 8 dan Inpago 12 mencapai 10,4 ton gabah per hektare.

Capaian tersebut terungkap dalam Panen Perdana Uji Terap Budidaya Padi Modern PM-AAS di Lajaroko, Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Soppeng, Rabu (19/8/2026).





Panen perdana itu dihadiri Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng bersama Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA.

Uji terap PM-AAS dilaksanakan pada lahan sekitar 20 hektare yang dikelola kelompok tani setempat. Program ini merupakan hasil sinergi pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Soppeng, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), penyuluh pertanian, serta kelompok tani.

Dalam laporan panitia pelaksana yang disampaikan Dr. Nuning Agro Subekti, uji terap dilakukan selama dua musim tanam.

Pada musim hujan, varietas Inpago 8 dan Inpago 12 menghasilkan sekitar 10,4 ton per hektare. Sedangkan pada musim kemarau I, varietas Inpago 12 dan Inpari 50 mampu mencapai sekitar 10,2 ton per hektare.

Produktivitas tersebut dinilai signifikan karena tanaman menghadapi tantangan kekeringan serta serangan hama dan penyakit yang lebih berat pada musim kemarau.

Menurut Nuning, hasil itu menunjukkan sistem produksi padi modern berpotensi mempertahankan produktivitas tinggi meski berada dalam kondisi lingkungan yang menantang.

Ia menegaskan, modernisasi pertanian tidak hanya berbicara mengenai penggunaan alat dan mesin pertanian, tetapi mencakup sistem terpadu mulai dari penggunaan varietas unggul, pengelolaan air, pemupukan presisi, pengendalian hama dan penyakit, mekanisasi hingga penanganan pascapanen.

“Panen ini bukan akhir, tetapi menjadi awal untuk terus menyempurnakan sistem pertanian agar lebih produktif, efisien, adaptif, dan menguntungkan petani,” jelasnya.

Nuning mengatakan uji terap tersebut menjadi cikal bakal pengembangan Pertanian Modern–Sistem Pertanian Maju (PM-AAS) oleh Kementerian Pertanian.

Teknologi yang diterapkan selanjutnya akan dievaluasi secara menyeluruh. Evaluasi tidak hanya berdasarkan produktivitas panen, tetapi juga efisiensi biaya, kebutuhan tenaga kerja, penggunaan air hingga tingkat keuntungan yang diperoleh petani.

Ia juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Soppeng, BRMP Sulawesi Selatan, penyuluh, Tim ICARE, serta kelompok tani yang terlibat dalam pelaksanaan uji terap.

Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan, Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA, mengatakan panen perdana di Soppeng bukan sekadar momentum memanen padi, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk membangun pertanian Indonesia yang lebih modern.

Menurutnya, Kementerian Pertanian terus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, kenaikan biaya produksi serta serangan hama dan penyakit.

Dalam konteks itu, BRMP berperan menjembatani hasil pengembangan teknologi agar dapat diterapkan langsung di lahan petani.

“Panen ini bukan sekadar memanen padi, tetapi juga memanen pembelajaran untuk membangun pertanian Indonesia yang lebih modern,” ujarnya.

Ia menilai capaian produktivitas yang tetap tinggi di tengah kekeringan serta serangan hama dan penyakit memperlihatkan potensi PM-AAS dalam mengintegrasikan ketangguhan tanaman, efisiensi penggunaan air, mekanisasi dan teknologi digital.

Haris bahkan menyebut Soppeng berpotensi menjadi laboratorium hidup pertanian modern, tempat teknologi diuji, dipelajari, dievaluasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan petani serta kondisi agroekosistem setempat.

Namun, menurutnya, keberhasilan pertanian modern tidak cukup hanya diukur dari tingginya hasil panen. Efisiensi biaya, penghematan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan petani juga harus menjadi indikator utama.

Karena itu, teknologi yang dikembangkan harus mudah diterapkan, menguntungkan petani dan sesuai dengan kondisi lokal. Keberhasilan PM-AAS juga membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, penyuluh, dunia usaha dan petani.

Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng mengatakan panen perdana PM-AAS menjadi penanda bahwa pertanian Soppeng mulai bergerak menuju sistem budidaya yang lebih maju.

Menurutnya, penerapan PM-AAS merupakan langkah strategis untuk mendorong transformasi budidaya padi sekaligus memberikan harapan baru bagi petani.

Teknologi pertanian modern diharapkan mampu melahirkan model budidaya yang lebih efektif, efisien dan adaptif terhadap kondisi agroekosistem lokal.

“Uji terap ini juga harus menjadi sarana pembelajaran bagi petani agar mampu mengadopsi teknologi pertanian modern secara menyeluruh dan berkelanjutan,” kata Bupati.

Suwardi berharap penerapan PM-AAS tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menekan biaya produksi, meningkatkan efisiensi usaha tani dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani.

Pemkab Soppeng, lanjutnya, berkomitmen mendukung pengembangan pertanian modern melalui penguatan kelembagaan petani, peningkatan sarana dan prasarana pertanian serta penguatan sinergi dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Selain panen perdana, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penyerahan bibit padi unggul Inpari 32 FS kepada dua kelompok tani sebagai dukungan terhadap pengembangan budidaya padi modern di Soppeng.

Kegiatan turut dihadiri jajaran pemerintah pusat dan daerah, unsur Forkopimda Kabupaten Soppeng, DTPHPKP Kabupaten Soppeng, Camat Marioriawa dan unsur Muspika, para kepala desa/lurah se-Kecamatan Marioriawa, BRMP, penyuluh pertanian, KTNA, Gapoktan, pengelola UPJA, Brigade Pangan, PT Araindo Smart Tani, Tim Competitive Grants (CG) ICARE BRMP Tanaman Pangan serta kelompok tani.

Dengan capaian produktivitas hingga 10,4 ton per hektare, uji terap PM-AAS di Soppeng kini tidak hanya menjadi ajang pembuktian teknologi budidaya modern, tetapi juga menjadi pijakan untuk menguji apakah modernisasi pertanian mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya dan memperbesar keuntungan petani.















Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *