LingkunganOpini

Berani Memulai, Beruntung Kemudian

×

Berani Memulai, Beruntung Kemudian

Sebarkan artikel ini

Tamangapa, Sampah, dan Keberanian Sebuah Kota Mengubah Kebiasaan

Oleh: Mashud Azikin

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – “Siapa yang berani, maka dia yang mulai. Siapa yang mulai, maka dia beruntung. Yang beruntung adalah orang-orang berani”.

Ada kalimat yang terdengar seperti motivasi. Ada pula kalimat yang, jika ditempatkan pada persoalan yang tepat, berubah menjadi kritik.

Kalimat itu saya kira cocok untuk Makassar hari ini.

Terutama ketika kita membicarakan sampah.

Sebab selama bertahun-tahun kita mempunyai kebiasaan yang hampir dianggap sebagai hukum alam: sampah dibuang, petugas mengangkut, truk berjalan, lalu Tamangapa menerima.

Selesai?

Tidak.

Di Tamangapa, sesuatu yang kita sebut “selesai” justru berubah menjadi persoalan baru.

Sampah organik membusuk. Plastik bertahan. Lindi mengalir. Gas terbentuk. Gunungan bertambah. Armada harus terus bergerak. Anggaran terus keluar.

Kita sebenarnya tidak pernah menyelesaikan sampah.

Kita hanya memindahkan masalah dari halaman rumah ke tempat yang lebih jauh dari pandangan mata.

Dan Tamangapa menjadi tempat di mana seluruh ilusi itu berkumpul.


Tamangapa Bukan Sekadar TPA

Ada kecenderungan untuk melihat TPA Tamangapa sebagai persoalan teknis: kapasitas, alat berat, armada, lahan, pengelolaan lindi, dan sebagainya.

Semua itu penting.

Tetapi Tamangapa juga merupakan persoalan kebudayaan.

Ia adalah hasil dari cara kita memperlakukan benda setelah kita selesai menggunakannya.

Sebuah kota sebenarnya dapat dibaca dari sampahnya.

Dari sampah kita bisa mengetahui bagaimana masyarakat mengonsumsi.

Dari komposisi sampah kita dapat membaca pola hidup.

Dari cara sampah dikelola, kita bisa melihat kualitas kebijakan publik.

Dan dari cara warga memperlakukan sampah, kita dapat melihat seberapa jauh kesadaran ekologis telah tumbuh.

Karena itu, ketika sampah menumpuk di TPA, jangan buru-buru menyalahkan TPA.

Boleh jadi masalah sebenarnya telah dimulai jauh sebelum truk pengangkut berangkat.

Di dapur.

Di pasar.

Di restoran.

Di sekolah.

Di kantor.

Di tempat kita pertama kali mencampurkan semuanya ke dalam satu kantong.


1 Agustus dan Berakhirnya Kenyamanan Lama

Tanggal 1 Agustus 2026 semestinya tidak hanya dibaca sebagai tanggal administratif.

Ia harus dibaca sebagai tanda bahwa paradigma lama sedang memasuki batas akhirnya.

Penghentian praktik open dumping dan dorongan pengelolaan sampah organik dari sumber memaksa kita mengubah pertanyaan.

Bukan lagi:

“Ke mana sampah ini akan dibuang?”

Tetapi:

“Apa yang bisa kita lakukan agar sampah ini tidak perlu dibuang?”

Perubahan pertanyaan itu kelihatannya kecil.

Sesungguhnya sangat besar.

Sebab pertanyaan pertama berorientasi pada pembuangan.

Pertanyaan kedua berorientasi pada pengurangan.

Di antara keduanya terdapat perubahan paradigma.

Dan paradigma itulah yang sedang dibutuhkan Makassar.


Sampah Organik Jangan Dibawa Berjalan-Jalan

Ada ironi dalam sistem persampahan modern.

Kita mengangkut sesuatu yang sebagian besar sebenarnya bisa selesai di dekat sumbernya.

Sisa sayuran dari dapur dibungkus.

Kulit buah dibungkus.

Sisa makanan dibungkus.

Kemudian semuanya dibawa naik kendaraan.

Berjalan beberapa kilometer.

Masuk ke TPS.

Kemudian naik kendaraan lagi.

Berjalan lagi.

Lalu berakhir di TPA.

Kita menggunakan bahan bakar, tenaga manusia, kendaraan dan anggaran untuk memindahkan sesuatu yang sebenarnya dapat diolah menjadi kompos, pupuk organik, eco-enzyme, pakan maggot, biogas atau produk lain yang memiliki manfaat.

Bukankah ini sebuah pemborosan?

Sampah organik sesungguhnya bukan sekadar sampah.

Ia adalah bahan baku yang salah tempat.

Ketika berada di dapur dan belum diolah, ia dianggap sampah.

Ketika masuk komposter, ia menjadi bahan organik.

Ketika menjadi kompos, ia menjadi nutrisi.

Ketika digunakan untuk urban farming, ia menjadi pangan.

Di sinilah ekonomi sirkular menemukan bentuknya yang paling sederhana.

Bukan di ruang seminar.

Tetapi di halaman rumah.


Keberanian Pertama Adalah Memilah

Persoalannya kemudian sederhana sekaligus rumit.

Kita tahu apa yang harus dilakukan.

Tetapi apakah kita berani memulainya?

Memilah sampah membutuhkan keberanian kecil.

Tidak heroik.

Tidak masuk televisi.

Tidak mendapatkan penghargaan.

Hanya dua atau tiga wadah di dapur.

Organik.

Anorganik.

Residu.

Namun dari tindakan sederhana itu, sebenarnya kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.

Kita sedang memutus rantai.

Ketika sampah organik dipisahkan, ia tidak harus menjadi beban TPA.

Ketika plastik bernilai dipisahkan, ia bisa masuk bank sampah.

Ketika material yang dapat digunakan kembali dipisahkan, ia tidak menjadi residu.

Maka satu rumah yang memilah sesungguhnya sedang mengurangi beban sebuah kota.

Itulah sebabnya perubahan persampahan tidak boleh hanya dibebankan kepada petugas kebersihan.

Petugas adalah bagian dari sistem.

Tetapi sumber masalahnya ada di tempat sampah pertama kali diciptakan.

Rumah tangga.


Jangan Jadikan Petugas Kebersihan sebagai Pemadam Kebakaran

Ada paradoks yang selama ini kita pelihara.

Kita ingin kota bersih, tetapi memberikan sampah yang tercampur kepada petugas.

Kita ingin TPA tidak penuh, tetapi terus mengirim semua jenis sampah ke sana.

Kita ingin biaya persampahan murah, tetapi meminta armada mengangkut sampah semakin jauh dan semakin banyak.

Kemudian ketika persoalan muncul, petugas kebersihan yang paling mudah disalahkan.

Padahal mereka bukan penyebab utama.

Mereka adalah orang-orang yang setiap hari berhadapan dengan konsekuensi dari perilaku kita.

Karena itu, transformasi petugas kebersihan harus berjalan bersamaan dengan transformasi masyarakat.

Petugas bukan hanya pengangkut.

Mereka dapat menjadi penjaga sirkularitas kota.

Mereka bisa menjadi penghubung antara rumah tangga, TPS, bank sampah, pengolahan organik dan sistem residu.

Tetapi untuk itu, sistem harus memberikan mereka peran, perlindungan, fasilitas, pelatihan dan penghargaan yang layak.


Makassar Tidak Kekurangan Gagasan

Sesungguhnya Makassar tidak kekurangan gagasan.

Ada pemilahan.

Ada bank sampah.

Ada komposter.

Ada ember tumpuk.

Ada teba modern.

Ada biopori.

Ada biodigester.

Ada maggot.

Ada eco-enzyme.

Ada urban farming.

Ada berbagai komunitas yang selama bertahun-tahun bekerja dalam senyap.

Yang kurang sering kali bukan gagasan.

Yang kurang adalah skala dan konsistensi.

Sebuah inovasi tidak akan mengubah kota jika hanya berhenti sebagai proyek percontohan.

Komposter harus masuk ke rumah.

Pemilahan harus menjadi kebiasaan.

Bank sampah harus memiliki pasar.

Produk daur ulang harus memiliki nilai ekonomi.

Pengolahan organik harus memiliki rantai distribusi.

Dan kebijakan pemerintah harus mampu menjaga agar perubahan itu tidak berhenti setelah seremoni selesai.

Di sinilah keberanian pemerintah diuji.

Bukan pada saat membuat program.

Tetapi pada saat mempertahankannya.


Berani Mengubah Cara Berpikir

Kita terlalu sering membicarakan teknologi ketika berbicara tentang sampah.

Padahal teknologi paling penting sesungguhnya ada di kepala.

Cara berpikir.

Selama kita masih menganggap sampah sebagai sesuatu yang harus segera dijauhkan dari rumah, teknologi secanggih apa pun akan tetap kalah oleh volume konsumsi.

Tetapi jika kita mulai melihat sampah sebagai sumber daya, maka banyak persoalan akan menemukan jalan keluarnya.

Kulit buah menjadi bahan eco-enzyme.

Sisa makanan menjadi kompos.

Sampah organik menjadi energi.

Botol plastik menjadi bahan baku.

Kertas menjadi bahan daur ulang.

Lahan sempit menjadi kebun.

Dan rumah menjadi pusat produksi ekologis.

Itulah revolusi yang sesungguhnya.

Bukan revolusi yang berisik.

Melainkan revolusi yang berlangsung setiap pagi ketika seseorang memilih untuk tidak mencampurkan kulit pisang dengan plastik.


Siapa yang Mulai, Dia yang Beruntung

Kota yang mulai lebih dahulu akan memperoleh keuntungan lebih dahulu.

Bukan hanya keuntungan ekonomi.

Tetapi keuntungan ekologis.

Beban TPA berkurang.

Biaya pengangkutan dapat ditekan.

Usia layanan TPA dapat diperpanjang.

Emisi dapat dikurangi.

Material dapat kembali masuk ke rantai produksi.

Lapangan kerja hijau dapat tumbuh.

Dan masyarakat memiliki sumber ekonomi baru.

Tetapi ada keuntungan lain yang sering tidak dihitung dalam neraca APBD:

ketenangan ekologis.

Anak-anak dapat tumbuh tanpa menganggap gunungan sampah sebagai pemandangan biasa.

Warga tidak lagi menganggap bau sampah sebagai bagian normal kehidupan kota.

Sungai tidak lagi menjadi tempat pelarian sampah.

Dan lingkungan tidak terus-menerus membayar tagihan dari gaya hidup manusia.


Keberanian Tidak Selalu Dimulai dari Balai Kota

Kita sering membayangkan perubahan harus dimulai dari pemerintah.

Padahal pemerintah dan masyarakat seharusnya memulai secara bersamaan.

Pemerintah membuat kebijakan.

Masyarakat menjalankan.

Pemerintah menyediakan sistem.

Masyarakat mengubah kebiasaan.

Pemerintah mengawasi.

Masyarakat ikut mengontrol.

Pemerintah menyediakan fasilitas.

Komunitas memperkuat edukasi.

Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendirian.

Karena sampah adalah persoalan bersama.

Dan karena itu pula, keberanian ekologis adalah keberanian kolektif.


Tamangapa dan Masa Depan Makassar

Suatu hari nanti, mungkin Tamangapa akan dikenang bukan sebagai tempat gunungan sampah terbesar di kota, melainkan sebagai titik balik perubahan pengelolaan sampah Makassar.

Tempat di mana sebuah kota akhirnya menyadari bahwa TPA tidak boleh menjadi jawaban untuk semua jenis sampah.

Tempat di mana Makassar belajar bahwa sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya.

Tempat di mana kebijakan bertemu dengan kesadaran warga.

Dan tempat di mana paradigma angkut-buang perlahan digantikan oleh pilah-olah-manfaat.

Namun semua itu tidak akan terjadi hanya karena sebuah kebijakan ditulis.

Ia membutuhkan keberanian.

Keberanian pemerintah untuk konsisten.

Keberanian petugas untuk berubah.

Keberanian komunitas untuk terus mendampingi.

Dan keberanian masyarakat untuk memulai dari rumah.

Sebab kota tidak pernah berubah hanya karena orang-orang mengeluh tentang kotanya.

Kota berubah ketika warganya mulai melakukan sesuatu terhadap keluhan itu.


Jangan Menunggu Semua Orang Berani

Mungkin akan selalu ada yang mengatakan:

“Percuma saya memilah kalau tetangga tidak memilah.”

“Percuma saya mengolah kalau pemerintah belum siap.”

“Percuma saya mengurangi sampah kalau orang lain terus membuang.”

Kalimat-kalimat itu terdengar masuk akal.

Tetapi semua perubahan besar akan selalu berhadapan dengan pertanyaan yang sama:

Siapa yang mau memulai?

Jawabannya harus sederhana:

Saya.

Bukan karena saya yakin semua orang akan segera mengikuti.

Tetapi karena seseorang harus menjadi yang pertama.

Dari satu orang lahir satu keluarga.

Dari satu keluarga lahir satu lingkungan.

Dari satu lingkungan lahir sebuah gerakan.

Dan dari gerakan yang terus-menerus dipelihara, lahirlah kebijakan publik yang memiliki akar sosial.

Maka jangan menunggu Makassar menjadi bersih untuk mulai mencintai kebersihan.

Jangan menunggu TPA penuh untuk mulai mengurangi sampah.

Jangan menunggu orang lain memilah untuk mulai memilah.

Dan jangan menunggu pemerintah sempurna untuk melakukan bagian kita.

Sebab keberuntungan ekologis tidak datang kepada mereka yang paling banyak berbicara.

Ia datang kepada mereka yang berani memulai.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika Tamangapa tidak lagi menjadi tempat bagi sampah yang sebenarnya masih bisa kita manfaatkan, kita akan memahami satu hal:

«Kota yang berani mengubah sampahnya adalah kota yang sedang mengubah masa depannya.»

Makassar sedang berada di persimpangan itu.

Tinggal memilih:

tetap nyaman dengan kebiasaan lama,

atau berani memulai sesuatu yang baru.

Sebab siapa yang berani, dia yang mulai.
Siapa yang mulai, dia yang beruntung.
Dan yang beruntung, biasanya memang mereka yang berani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *