Opini

Kenapa Aksi Demostrasi Mahasiswa Terkesan Mandek

×

Kenapa Aksi Demostrasi Mahasiswa Terkesan Mandek

Sebarkan artikel ini

Oleh: Nur Ilham, Mahasiswa Jurusan Matematika UINAM

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Kenapa Aksi Demostrasi Mahasiswa Terkesan Mandek?

1. Membaca Generasi Z di Antara Algoritma, Media Sosial, dan Kelelahan AI

Pertengahan Juni 2026, ribuan mahasiswa kembali turun ke jalan di Jakarta, Medan, Semarang, hingga Palembang dengan tajuk yang terasa familier: “Reformasi Jilid II” dan “Tata Ulang Indonesia”. Pemicunya kenaikan harga Pertamax lebih dari 30 persen dalam semalam, polemik program Makan Bergizi Gratis, dan Koperasi Desa Merah Putih. Suasananya terasa seperti pengulangan. Setahun sebelumnya, gelombang protes jauh lebih besar pernah meletus dan berakhir dengan sebelas korban jiwa. Setahun sebelum itu, tagar #IndonesiaGelap memenuhi linimasa dengan klaim sembilan miliar interaksi digital (Tempo.co, Gerakan Indonesia Gelap). Tiga gelombang besar dalam waktu kurang dari satu setengah tahun, namun pola kebijakan ekonomi dan cara aparat menghadapi massa tampak nyaris tidak bergeser.

Di titik inilah pertanyaan “kenapa demonstrasi mahasiswa terkesan mandek” menemukan konteksnya. Mandek di sini bukan berarti sepi. Jalanan dan linimasa sama ramainya, bahkan kerap lebih ramai dari sebelumnya. Yang stagnan bukan volume aksi, melainkan akumulasi hasilnya. Setiap gelombang meledak besar, viral dalam hitungan jam, lalu mengendap sebelum benar-benar mengubah struktur, hingga gelombang baru meletus lagi dari pemicu yang berbeda. Untuk memahami siklus ini, kita perlu melihatnya bukan sekadar sebagai soal motivasi anak muda, tetapi sebagai produk dari cara generasi ini dibesarkan oleh algoritma media sosial dan, belakangan, oleh kecerdasan buatan.

2. Anatomi Sebuah Siklus yang Berulang

Februari 2025, gerakan Indonesia Gelap meletus menolak kebijakan efisiensi anggaran negara senilai Rp306,7 triliun. Tagar aksi ini sempat mencatat lebih dari 41 ribu mentions dan miliaran interaksi di media sosial sebelum aksi besar berlangsung. Tiga belas tuntutan disusun dan diserahkan ke pemerintah, namun respons yang didapat hanya berupa penandatanganan draf pengakuan oleh Menteri Sekretaris Negara, tanpa langkah konkret menyentuh akar masalah Sebulan kemudian, Indonesia Gelap Jilid II digelar dengan momentum yang jauh lebih lemah; sebuah kajian akademik mencatat bahwa kekuatan mobilisasi kelompok mahasiswa pada jilid kedua ini tidak berjalan progresif seperti jilid pertama.

Agustus 2025, gelombang yang jauh lebih dahsyat pecah. Berawal dari protes terhadap tunjangan perumahan anggota DPR, situasi memanas setelah seorang pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob di tengah kerumunan demonstran pada 28 Agustus 2025. Kematian itu menyulut amarah nasional, memicu kerusuhan di berbagai kota, dan menelan total sebelas korban jiwa menurut catatan Komnas HAM (23 Desember 2025). Sekelompok figur publik merumuskan 17+8 Tuntutan Rakyat yang diserahkan ke DPR awal September, sementara BEM SI menyampaikan tiga belas tuntutan terpisah.

Tunjangan DPR akhirnya dicabut, dan sebagian massa mahasiswa pun mundur karena tuntutan utamanya dianggap terpenuhi. Namun para aktivis sendiri mengakui bahwa akar masalah, yakni oligarki politik dan struktur ekonomi yang timpang, sama sekali belum terjawab. Polri baru menyebut peristiwa itu sebagai “titik balik refleksi organisasi” pada Desember 2025, empat bulan setelah kerusuhan terjadi.

Kini, Juni 2026, isunya berganti rupa namun nadanya sama: kenaikan harga BBM, evaluasi program populis, dan tuntutan supremasi sipil. Menariknya, salah satu pemimpin aksi dari BEM Universitas Bung Karno secara eksplisit menyatakan tidak ingin mengulang kekacauan 1998 dan berharap massa tetap bersatu di tengah situasi yang mereka sebut sebagai keterpurukan negara (Tempo.co, 14 Juni 2026). Kesadaran akan pengulangan ini justru menegaskan pola yang sedang kita bahas: gerakan demi gerakan lahir, membesar dengan cepat, lalu mengendap tanpa benar-benar mewariskan kapasitas kelembagaan ke gelombang berikutnya.

3. Kapasitas Mengganggu, Bukan Kapasitas Berunding

Sosiolog Zeynep Tufekci, dalam karyanya yang banyak dirujuk, Twitter and Tear Gas (2017), menawarkan kerangka yang relevan untuk membaca pola ini. Ia membedakan tiga jenis kapasitas yang dimiliki sebuah gerakan sosial: kapasitas naratif untuk membangun dan menyebarkan pandangan dunia, kapasitas mengganggu untuk menghentikan rutinitas yang berjalan, dan kapasitas elektoral atau negosiasi untuk benar-benar mengubah kebijakan dan institusi. Media sosial sangat unggul mendongkrak kapasitas mengganggu dalam waktu sangat singkat; sebuah kerumunan besar bisa terkumpul di alun-alun dalam hitungan hari, sesuatu yang dulu membutuhkan perencanaan bertahun-tahun seperti pada gerakan hak sipil di Amerika Serikat. Namun kecepatan ini punya ongkos. Karena melompati proses panjang membangun organisasi, kepemimpinan, dan mekanisme pengambilan keputusan bersama, gerakan-gerakan berjejaring sering terjebak dalam apa yang ia sebut “tactical freeze”: ketidakmampuan menyesuaikan taktik, merundingkan tuntutan secara konkret, dan mendorong perubahan kebijakan yang bertahan lama begitu momentum 

awal mereda.

Pola itu terasa pas dengan apa yang terjadi di Indonesia. Gerakan mahasiswa 1998 dibangun di atas jaringan organisasi yang sudah lama berurat, seperti senat mahasiswa dan beberapa organisasi massa dari kalangan pemuda dan Mahasiswa, yang membentuk kepercayaan antarsesama aktivis lintas kampus jauh sebelum krisis ekonomi pecah. Gerakan masa kini lahir dari ledakan tagar dan video viral, sehingga solidaritasnya cepat terbentuk namun rapuh: ia dibangun di atas kemarahan bersama, bukan di atas struktur kelembagaan yang sama kuatnya dengan identitas almamater atau ikatan organisasi lama. Sejumlah pengamat gerakan mahasiswa menyebut kerentanan ini secara langsung, mencatat bahwa kekuasaan justru melihat polarisasi dan fragmentasi semacam ini sebagai celah yang bisa dimanfaatkan.

4. Ketika Algoritma Menentukan Siapa yang Didengar

Lapisan berikutnya adalah cara kerja algoritma platform itu sendiri. Survei APJII 2025 mencatat 229,4 juta pengguna internet Indonesia, dengan Generasi Z sebagai kontributor terbesar dan TikTok sebagai aplikasi paling banyak digunakan, mengungguli YouTube, Facebook, dan Instagram. Format yang mendominasi adalah video pendek, sebuah format yang dirancang untuk menghasilkan lonjakan perhatian instan, bukan keterlibatan yang bertahan lama. Sebuah riset akademik tentang mobilisasi Generasi Z dalam aksi Indonesia Gelap menemukan bahwa partisipasi politik kelompok ini sangat mudah digerakkan oleh tata kelola algoritma media sosial yang dibentuk kelompok-kelompok berkepentingan, namun pola budaya politiknya cenderung parokial, aktif sesaat tetapi tidak konsisten menopang isu yang sama dalam jangka panjang.

Akibatnya, energi kolektif yang sebenarnya sangat besar justru tersebar ke berbagai pemicu baru yang silih berganti, bukan terakumulasi pada satu front perjuangan. Setelah aksi mereda, algoritma echo chamber memperkuat dua narasi yang saling berseberangan antara aparat dan aktivis, sehingga yang terjadi bukan dialog melainkan perang persepsi yang masing-masing pihak meyakini kebenarannya sendiri. Inilah yang membuat ruang publik pascademonstrasi sulit menyepakati narasi bersama sebagai modal untuk negosiasi lanjutan, sebuah kapasitas yang justru paling dibutuhkan untuk mengubah amarah jalanan menjadi perubahan kebijakan yang permanen.

5. AI sebagai Pemain Baru di Jalanan Digital

Pada gelombang demonstrasi Juni 2026, ada elemen baru yang tidak hadir pada 1998 maupun 2019. Kecerdasan buatan generatif yang ikut “berdemo” di ruang digital. Bersamaan dengan aksi menolak kenaikan harga BBM, beredar video dan kutipan palsu yang mencatut nama Presiden Prabowo Subianto, dihasilkan oleh model bahasa yang oleh sejumlah pengamat disebut sebagai fenomena “stochastic parrot”, istilah dari linguis Emily Bender, yakni mesin yang mampu merangkai kalimat secara fasih tanpa benar-benar memahami konteks atau konsekuensinya. Ironisnya, Presiden sendiri pernah memperingatkan pada April 2026 bahwa teknologi AI memungkinkan satu orang mengelola ribuan akun palsu untuk mengarahkan opini publik, sebelum wajah dan suaranya sendiri menjadi target pemalsuan paling sering.

Industri buzzer di Indonesia, yang menurut riset Oxford sebagian besar berkapasitas rendah dan bekerja musiman menjelang siklus pemilu, kini mulai memanfaatkan alat generatif untuk memperkuat disinformasi dan bahkan memanipulasi sumber-sumber yang dianggap kredibel (UIN sunan Gunung Djati, Fenomena Industri buzzer di Indonesia). Ketika narasi tandingan, video manipulatif, dan kutipan fiktif beredar bersamaan dengan informasi yang otentik, publik yang literasi digitalnya belum merata menjadi rentan terjebak dalam versi kebenaran yang berbeda-beda. Hasilnya bukan hanya disinformasi sesaat, tetapi pengikisan pelan terhadap kepercayaan pada institusi secara umum, baik pemerintah, kepolisian, maupun gerakan mahasiswa itu sendiri, sehingga modal kepercayaan bersama yang dibutuhkan untuk berunding makin sulit terbentuk.

6. Generasi yang Lelah Sebelum Bertarung

Ada satu dimensi lagi yang sering terlewat: kelelahan kolektif generasi muda terhadap AI itu sendiri, yang ikut menggerus energi yang seharusnya tersedia untuk aktivisme. Survei Harvard Institute of Politics 2025 mencatat bahwa mayoritas anak muda Amerika memandang AI sebagai ancaman terhadap masa depan pekerjaan mereka, sebuah kecemasan yang menurut laporan Kompas.com Juni 2026 juga mulai dirasakan mahasiswa Indonesia, ditandai oleh pertanyaan berulang tentang jurusan apa yang masih “aman” dari otomatisasi. Di sisi lain, laporan LinkedIn dan Microsoft menyebut 92 persen pekerja terampil Indonesia sudah memakai AI generatif, jauh di atas rata-rata global 75 persen, sementara riset bersama Universitas Indonesia menemukan publik Indonesia secara umum justru berada pada posisi ambivalen, tertarik namun ragu, bukan antusias penuh seperti masyarakat di sejumlah negara lain (The Conversation Indonesia, Desember 2025).

Kondisi ini melahirkan apa yang sejumlah pengamat sebut sebagai “AI fatigue”, kelelahan mental dan emosional akibat paparan berlebihan terhadap narasi dan tuntutan adaptasi teknologi yang datang tanpa henti (Geotimes, Februari 2026). Sebagian anak muda bahkan mulai mengalihkan kebutuhan emosionalnya kepada chatbot AI ketimbang manusia, dengan survei nasional Common Sense Media 2025 di Amerika Serikat mencatat 72 persen remaja pernah menggunakan AI companion dan sepertiganya memakainya untuk kebutuhan sosial-emosional. Ketika sebagian energi sosial yang dulu disalurkan ke pertemuan, diskusi, dan solidaritas tatap muka kini terserap oleh interaksi dengan mesin yang nyaman namun tidak menuntut komitmen kolektif apa pun, kapasitas untuk membangun ikatan organisasi jangka panjang, yang justru menjadi inti dari “tactical capacity” dalam kerangka Tufekci, ikut menipis.

7. Maka, Benarkah Mandek?

Kalau melihat data mobilisasinya saja, sulit menyebut generasi ini apatis. Ribuan orang bisa berkumpul dalam hitungan hari, miliaran interaksi tercipta dalam hitungan jam, dan solidaritas lintas kota terbentuk hanya lewat tagar. Yang sebenarnya terjadi bukan matinya semangat aktivisme, melainkan ketimpangan antara kapasitas yang dipompa cepat oleh media sosial dan AI, yaitu kapasitas mengganggu dan menyebarkan narasi, dengan kapasitas yang dibutuhkan untuk benar-benar mengubah struktur, yaitu organisasi yang solid, kepemimpinan yang diakui, dan daya tawar untuk berunding. Arsitektur digital hari ini secara struktural memberi imbalan pada lonjakan perhatian yang cepat membesar dan cepat pula meredup, sementara kerja membangun institusi yang sabar dan kurang spektakuler nyaris tidak punya tempat di linimasa yang serba algoritmis.

Karena itu, setiap gelombang protes terasa seperti memulai dari nol lagi: viral, meledak, sebagian tuntutan kecil dipenuhi untuk meredakan amarah, lalu mengendap, sampai pemicu baru datang dan siklus yang sama berulang. Memutus lingkaran ini barangkali tidak memerlukan generasi muda berhenti memakai media sosial atau menjauhi teknologi, melainkan menyadari bahwa viralitas hanyalah modal awal, bukan tujuan akhir. Tantangan sesungguhnya ada pada langkah setelah linimasa sepi: merawat organisasi, memverifikasi informasi di tengah derasnya disinformasi berbasis AI, dan menahan godaan untuk pindah ke isu viral berikutnya sebelum tuntutan sebelumnya benar-benar tuntas dikejar.

Daftar Referensi penunjang 

Tempo.co. “Daftar Demonstrasi Mahasiswa yang Digelar Hari Ini.” 15 Juni 2026.

Tempo.co. “Besok, BEM UBK Gelar Demo di Istana Usung 6 Tuntutan.” 14 Juni 2026.

Tempo.co. “Sederet Fakta Aksi Menuju Indonesia Bangkrut.” 12 Juni 2026.

Tempo.co. “Gerakan Indonesia Gelap” (infografik). 20 Februari 2025.

Tribunnews.com. “Demo Mahasiswa 12 Juni 2026 di Jakarta” dan “Demo Mahasiswa 15 Juni 2026 Menggema dari Jakarta hingga Medan.”

Kompas.com (edukasi). “Daftar BEM dan Serikat Mahasiswa yang Gelar Demo di Jakarta Hari Ini.” 15 Juni 2026.

Kompas.com (edukasi). “Generasi Muda Mulai Lelah dengan AI.” 15 Juni 2026.

Kompas.com (nasional). “Kerusuhan Agustus 2025 Berujung Tuntutan Reformasi Polri.” 23 Desember 2025.

Wikipedia bahasa Indonesia. “Unjuk Rasa dan Kerusuhan Indonesia Agustus–September 2025.”

KBA13 Insight. “Gelombang Demonstrasi & Kerusuhan di Indonesia Agustus 2025.” 1 September 2025.

Tirto.id. “Kejanggalan Perusakan & Penjarahan Demonstrasi Agustus 2025.” 2 September 2025.

The Conversation Indonesia. “Demonstrasi Besar-besaran di Indonesia: Pentingnya Menanggapi Tuntutan Rakyat.” 3 September 2025.

The Conversation Indonesia. “Masyarakat Mulai Lelah terhadap AI: Berpeluang Makin Masif di Masa Depan.” 9 Desember 2025.

Liputan6.com. “5 Tuntutan Aksi Indonesia Gelap: Aspirasi Mahasiswa untuk Perubahan.” 17 Februari 2025.

Dinastirev (Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial). “Mobilisasi Partisipasi Politik Generasi Z dalam Aksi Indonesia Gelap 2025.”

identitas Unhas. “Perubahan Gerakan Mahasiswa.” 30 Mei 2021.

omong-omong.com. “Krisis dalam Tubuh Gerakan Mahasiswa.”

Pinterpolitik.com. “Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot.” 16 Juni 2026.

TIMES Indonesia. “Menutup 2025, Menatap 2026: Teknologi Maju dan Algoritma Adu Domba.” 1 Januari 2026.

IDN Times. “Penelitian Universitas Oxford Ungkap 4 Fakta Buzzer di Indonesia.”

APJII. “Survei Profil Internet Indonesia 2025,” dikutip melalui Kompas Tekno dan cloudcomputing.id, Agustus 2025.

Geotimes. “AI Fatigue: Ketika Kita Lelah Hidup dengan Kecerdasan Buatan.” 2 Februari 2026.

Tufekci, Zeynep. Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest. New Haven: Yale University Press, 2017 (tersedia bebas berlisensi Creative Commons di twitterandteargas.org).

Wikipedia. “Slacktivism.”

Februari 2025: gerakan Indonesia Gelap memprotes efisiensi anggaran Rp306,7 triliun; tagar aksi mencatat lebih dari 41 ribu mentions dan diklaim mencapai miliaran interaksi media sosial (Tempo.co; Drone Emprit).

Agustus–September 2025: kerusuhan nasional dipicu kematian pengemudi ojol Affan Kurniawan; 11 korban jiwa tercatat Komnas HAM; lahir dokumen 17+8 Tuntutan Rakyat dan 13 tuntutan BEM SI.

Juni 2026: gelombang “Reformasi Jilid II”/”Tata Ulang Indonesia” dipicu kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter (naik lebih dari 32 persen), serta polemik program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.

Pengguna internet Indonesia 2025: 229,4 juta jiwa (penetrasi 80,66 persen), didominasi Generasi Z (APJII).

Durasi penggunaan internet harian 4–6 jam dipilih 35,75 persen responden, naik dari 31,34 persen pada 2024.

Aplikasi paling banyak digunakan: TikTok (35,17 persen), YouTube (23,76 persen), Facebook (21,58 persen), Instagram (15,94 persen).

Zeynep Tufekci, Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest (Yale University Press, 2017) — konsep kapasitas naratif, mengganggu, dan negosiasi, serta “tactical freeze”.

Konsep slacktivism/clicktivism (Morozov; Bennett & Segerberg) — perdebatan soal aktivisme digital yang efektif menaikkan kesadaran tetapi lemah mendorong perubahan struktural.

Konsep “stochastic parrot” (Emily M. Bender, University of Washington) — diaplikasikan pada disinformasi berbasis AI selama demonstrasi Juni 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *