EkonomiNewsOpiniPendidikanReligi

Dakwah Tidak Lagi Sekadar Mimbar: Menjadi Agen Kebaikan Di Era Digital

×

Dakwah Tidak Lagi Sekadar Mimbar: Menjadi Agen Kebaikan Di Era Digital

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Muhammad Alwi, S.Sy.,M.E.I

(Akademisi/Dewan Pembina KSEI SEA UIN Palopo)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, cara umat Islam menyampaikan nilai-nilai kebaikan juga mengalami transformasi. Jika dahulu dakwah identik dengan mimbar masjid, pengajian, atau ceramah keagamaan, maka hari ini ruang dakwah telah meluas ke berbagai lini kehidupan. Kampus, ruang kerja, media sosial, dunia usaha, bahkan interaksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari telah menjadi arena strategis untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang penuh rahmat.

Pesan inilah yang mengemuka dalam kegiatan Mentor Class KSEI SEA UIN Palopo yang menghadirkan Dr. Muhammad Alwi, S.Sy., M.E.I. sebagai pemateri pada Sabtu, 4 Juli 2026. Melalui materi bertajuk “1001 Cara Berdakwah: Menebar Kebaikan dengan Beragam Cara di Era Modern”, peserta diajak melihat dakwah dari perspektif yang lebih luas, lebih kontekstual, dan lebih relevan dengan tantangan zaman. Dakwah tidak lagi dipahami semata-mata sebagai aktivitas berbicara di depan publik, melainkan setiap ikhtiar menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari melalui profesi, karya, pelayanan, dan keteladanan.

Pandangan tersebut menjadi sangat penting karena sebagian masyarakat masih memandang bahwa dakwah adalah tugas para ustaz, mubalig, atau tokoh agama. Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa menyeru kepada kebaikan merupakan tanggung jawab bersama sesuai dengan kemampuan masing-masing. Seorang guru berdakwah melalui pendidikan, dokter melalui pelayanan kesehatan, pedagang melalui kejujuran, dosen melalui pengembangan ilmu pengetahuan, dan mahasiswa melalui akhlak serta prestasinya. Dengan demikian, dakwah adalah identitas setiap muslim, bukan monopoli profesi tertentu.

Bagi mahasiswa, terutama kader Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI), perspektif ini memiliki makna yang sangat mendalam. Kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan. Mahasiswa ekonomi syariah, misalnya, tidak cukup hanya memahami teori perbankan syariah atau fiqih muamalah. Mereka juga dituntut menjadi representasi nilai-nilai Islam melalui integritas akademik, kejujuran dalam penelitian, kepedulian sosial, serta kemampuan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan ekonomi umat.

Di sinilah dakwah menemukan relevansinya. Ketika seorang mahasiswa membantu temannya memahami materi kuliah tanpa mengharap imbalan, ia sedang berdakwah. Ketika ia menolak praktik plagiarisme, menyebarkan literasi ekonomi syariah melalui tulisan, atau aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, sesungguhnya ia telah menjalankan dakwah dalam bentuk yang sangat nyata. Dakwah tidak selalu membutuhkan mikrofon; terkadang ia cukup hadir melalui tindakan yang menginspirasi.

Lebih jauh, materi yang disampaikan juga mengingatkan bahwa era digital telah mengubah wajah komunikasi umat. Saat ini, jutaan orang menghabiskan sebagian besar waktunya di media sosial. Ruang digital menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan, opini, sekaligus pertarungan nilai. Oleh karena itu, dakwah digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Namun demikian, dakwah di ruang digital harus dibangun di atas fondasi kebenaran, kesantunan, dan tanggung jawab. Informasi yang disebarkan harus terverifikasi, bebas dari hoaks, tidak provokatif, serta mampu menghadirkan solusi, bukan memperuncing perpecahan.

Ironisnya, media sosial sering kali justru dipenuhi ujaran kebencian, saling menyalahkan, bahkan perdebatan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Tidak sedikit orang lebih sibuk memenangkan argumen daripada memenangkan hati manusia. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan bahwa dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun. Pendekatan seperti inilah yang semestinya menjadi karakter generasi muda Islam dalam membangun peradaban digital yang sehat.

Hal lain yang patut menjadi renungan adalah pentingnya dakwah melalui keteladanan. Sejarah menunjukkan bahwa banyak masyarakat menerima Islam bukan semata karena kepiawaian pidato, melainkan karena menyaksikan akhlak para muslim yang jujur, amanah, ramah, dan dapat dipercaya. Keteladanan memiliki daya pengaruh yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar nasihat. Anak-anak meniru perilaku orang tuanya, mahasiswa mencontoh dosennya, bawahan meneladani pemimpinnya, dan masyarakat memperhatikan perilaku tokoh-tokohnya. Oleh sebab itu, membangun akhlak yang baik merupakan investasi dakwah yang paling berkelanjutan.

Bagi organisasi kemahasiswaan seperti KSEI SEA UIN Palopo, Mentor Class semacam ini bukan hanya menjadi forum transfer ilmu, tetapi juga proses kaderisasi nilai. Organisasi tidak cukup melahirkan mahasiswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial, kemampuan komunikasi, kepemimpinan yang berintegritas, dan semangat melayani masyarakat. Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal penting ketika para kader memasuki dunia profesional sebagai akademisi, praktisi ekonomi syariah, pengusaha, birokrat, maupun pemimpin masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan global mulai dari disrupsi teknologi, krisis moral, hingga meningkatnya individualisme umat Islam membutuhkan lebih banyak agen kebaikan daripada sekadar orator. Dunia memerlukan lebih banyak guru yang menginspirasi, pengusaha yang jujur, birokrat yang amanah, akademisi yang objektif, konten kreator yang mencerdaskan, dan mahasiswa yang menjadikan prestasi sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan. Semua itu merupakan bentuk dakwah yang mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi kehidupan masyarakat.

Dakwah adalah tentang menghadirkan manfaat. Ukurannya bukan seberapa sering seseorang berbicara, melainkan seberapa banyak kebaikan yang lahir dari kehadirannya. Pesan inilah yang menjadi benang merah dalam Mentor Class KSEI SEA UIN Palopo. Bahwa setiap muslim memiliki peluang menjadi pendakwah sesuai kapasitasnya. Melalui profesi, tulisan, pelayanan, kepedulian sosial, maupun karya nyata, setiap individu dapat menjadi bagian dari gerakan besar menebarkan rahmat bagi semesta.

Sudah saatnya generasi muda meninggalkan paradigma bahwa dakwah hanya milik mereka yang berada di atas mimbar. Dakwah adalah tugas setiap insan yang ingin menjadikan hidupnya bermakna. Selama masih ada kejujuran yang ditegakkan, ilmu yang dibagikan, senyum yang menguatkan, pelayanan yang tulus, dan karya yang memberi manfaat bagi sesama, selama itu pula dakwah akan terus hidup. Sebab, pada hakikatnya, jalan menuju kebaikan memang memiliki seribu satu cara, dan setiap langkah yang dilakukan dengan niat karena Allah merupakan bagian dari dakwah yang akan terus meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi mendatang.

“Penulis adalah Ketua Program Studi Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palopo”.

Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *