Oleh: Haerul
(Mahasiswa PPs UIN Palopo)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Selama puluhan tahun, wilayah Luwu Raya dikenal sebagai kawasan yang bertumpu pada sektor agraria dan sumber daya alam. Kakao, cengkeh, kelapa sawit, hingga industri hilirisasi nikel menjadi penopang utama ekonomi daerah. Di tengah kawasan tersebut, Kota Palopo menempati posisi strategis sebagai pintu gerbang dan pusat aktivitas jasa bagi masyarakat Luwu Raya.
Namun, posisi strategis itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Palopo masih sering dipersepsikan sebagai kota transit—tempat orang singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Luwu, Luwu Utara, atau Luwu Timur. Padahal, di era ekonomi digital, sebuah kota tidak lagi hanya bersaing melalui kekayaan alam, melainkan juga melalui kreativitas sumber daya manusianya.
Ekonomi kreatif kini menjadi salah satu sektor yang tumbuh paling cepat di Indonesia. Data Kementerian Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 7,28 persen pada 2024 dengan nilai lebih dari Rp1.600 triliun. Angka ini terus meningkat dalam tiga tahun terakhir dan menunjukkan bahwa sektor kreatif telah menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru nasional.
Palopo sebenarnya memiliki modal yang cukup besar untuk mengambil peluang tersebut. Sebagai pusat pendidikan di Luwu Raya, kota ini menjadi tujuan ribuan mahasiswa dari berbagai daerah. Kehadiran perguruan tinggi, komunitas kreatif, pelaku UMKM, musisi, fotografer, videografer, hingga kreator konten digital menciptakan potensi ekonomi berbasis kreativitas yang sangat menjanjikan.
Sayangnya, potensi tersebut belum berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang kuat. Banyak pelaku kreatif masih bergerak secara individual tanpa dukungan pembiayaan, pendampingan bisnis, maupun akses pasar yang memadai. Di sisi lain, belum terdapat kebijakan daerah yang secara khusus mendorong pengembangan ekonomi kreatif sebagai sektor unggulan baru. Akibatnya, tidak sedikit talenta muda Palopo yang memilih merantau ke Makassar, Jakarta, atau kota besar lainnya untuk mencari ruang berkembang yang lebih luas.
Karena itu, sudah saatnya Palopo melakukan lompatan kebijakan melalui pembangunan ekosistem ekonomi kreatif yang terintegrasi;
Pertama, pemerintah daerah perlu menyusun regulasi yang memberikan kepastian dan dukungan bagi pelaku ekonomi kreatif. Peraturan daerah tentang pengembangan ekonomi kreatif dapat menjadi dasar pemberian insentif, pelatihan, kemudahan perizinan, serta perlindungan hak kekayaan intelektual bagi pelaku usaha kreatif.
Kedua, Palopo membutuhkan ruang kolaborasi kreatif yang representatif. Pemerintah dapat mengoptimalkan aset daerah yang kurang produktif menjadi Creative Hub atau pusat kreativitas publik. Ruang ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat bekerja bersama (co-working space), tetapi juga sebagai pusat pelatihan, inkubasi bisnis, pameran karya, hingga pengembangan startup lokal. Pengalaman sejumlah daerah menunjukkan bahwa keberadaan pusat kreatif mampu mempertemukan komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam satu ekosistem yang produktif.
Ketiga, perlu dibangun kemitraan yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan sektor swasta. Kampus-kampus di Palopo dapat berperan sebagai inkubator bisnis dan pusat inovasi yang membantu mahasiswa mengubah ide menjadi produk bernilai ekonomi. Kolaborasi ini penting agar kreativitas generasi muda tidak berhenti sebagai hobi, tetapi berkembang menjadi usaha yang menciptakan lapangan kerja.
Masa depan ekonomi Luwu Raya tidak dapat terus bergantung pada komoditas dan sumber daya alam semata. Nilai tambah ekonomi masa depan justru lahir dari inovasi, kreativitas, dan kemampuan mengolah ide menjadi produk yang memiliki daya saing. Di sinilah Palopo memiliki peluang besar untuk mengambil peran sebagai pusat ekonomi kreatif Tana Luwu.
Pilihan bagi para pemangku kebijakan sebenarnya cukup sederhana: menjadikan Palopo sebagai kota kreatif yang mampu menumbuhkan talenta muda dan ekonomi baru, atau membiarkannya tetap menjadi kota transit yang hanya menyaksikan perkembangan zaman berlalu di depannya.
Editor: S PNs














