Gowa, Potretnusantara.co.id – Krisis air bersih membuat sekitar 50 santri yatim dan dhuafa di Pondok Pesantren Tahfidz Gratis Al-Imam Hafs bin Sulaiman Al-Kufi (Al-Hafisku), Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, harus berjalan kaki hingga satu kilometer untuk mendapatkan air.
Kondisi tersebut telah berlangsung hampir tiga bulan. Sumur yang selama ini menjadi sumber air pondok mengalami longsor, sementara pasokan air PAM disebut tidak lagi mengalir. Kondisi kemarau turut memperparah keterbatasan air di lingkungan pesantren.
Akibatnya, kebutuhan dasar para santri, termasuk untuk berwudu, mandi, dan keperluan sanitasi, tidak dapat sepenuhnya dipenuhi dari fasilitas pesantren.
Untuk mendapatkan air, para santri terpaksa membawa jeriken dan berjalan sekitar 500 meter hingga satu kilometer ke rumah warga. Untuk kebutuhan mandi dan keperluan lainnya, mereka juga harus meminta bantuan air kepada masyarakat sekitar.
Seorang santri bahkan mengaku kerap meminta izin kepada pengurus pesantren ketika persediaan air kembali habis.
“Ustaz, airnya habis lagi. Boleh minta ke rumah Bu RT?” ujar salah seorang santri, Selasa (11/8/2026).
Pimpinan sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Hafisku, Ustaz Supriyansa, S.Pd., mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi para santri yang sehari-hari menjalani aktivitas menghafal dan mengulang hafalan Al-Qur’an.
“Anak-anak ini meninggalkan rumah, meninggalkan orang tuanya. Tujuannya satu: menghafal Al-Qur’an agar bisa memakaikan mahkota untuk orang tuanya di surga nanti,” kata Supriyansa, Selasa (11/8/2026).
Menurut dia, keterbatasan air tidak hanya menyulitkan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berdampak pada aktivitas ibadah dan belajar para santri.
“Sekarang mereka bahkan kesulitan air untuk bersuci. Bagaimana bisa khusyuk muroja’ah kalau perut haus, badan kotor, dan hati cemas?” ujarnya.
Supriyansa berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak. Pesantren, kata dia, membutuhkan solusi yang dapat menjamin ketersediaan air bersih bagi para santri.
“Kami tidak minta banyak. Kami hanya butuh air bersih. Air untuk wudu. Air untuk hidup. Semoga ada hati yang tergerak, ada lembaga atau komunitas yang mau jadi wasilah pertolongan Allah untuk para penghafal Qur’an di Al-Hafisku ini,” katanya.
Pesantren Al-Hafisku berada di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kebutuhan yang disebut mendesak antara lain pasokan air melalui tangki, pembangunan sumur bor, serta penyediaan tandon air untuk memenuhi kebutuhan santri.
Di tengah keterbatasan tersebut, kegiatan para santri untuk menghafal dan memurojaah Al-Qur’an tetap berlangsung. Namun, pengelola pesantren berharap persoalan air bersih segera mendapatkan solusi agar kebutuhan dasar para santri dapat terpenuhi.
“Anak-anak ini hanya ingin menghafal Al-Qur’an dengan tenang. Kami berharap kebutuhan air mereka bisa terpenuhi sehingga mereka tidak lagi harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkan air untuk bersuci,” kata Supriyansa.
Bagi para dermawan, donatur, lembaga, maupun masyarakat yang ingin membantu memenuhi kebutuhan air bersih bagi para santri Al-Hafisku, dapat menghubungi nomor: 0822-4956-1212.
Bantuan dapat diarahkan untuk kebutuhan mendesak seperti pengadaan air tangki, pembangunan sumur bor, dan penyediaan tandon air bagi para santri.















