WhatsApp Image 2026-05-26 at 14.00.42 (1)
PlayPause
previous arrow
next arrow
AgamaEkonomiReligi

Qurban Melawan Egoisme Ekonomi

×

Qurban Melawan Egoisme Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Muhammad Alwi, S.Sy.,M.E.I

(Akademisi UIN Palopo)

Kajian Islam, Potretnusantara.co.idSetiap Idul Adha, gema takbir mengguncang langit. Umat Islam berbondong-bondong menuju lapangan atau masjid, mengenakan pakaian terbaik, lalu menyaksikan hewan-hewan qurban disembelih sebagai simbol ketaatan kepada Allah. Namun di balik ritual yang khidmat itu, tersimpan pertanyaan penting yaitu apakah qurban hanya sekadar ibadah tahunan, ataukah ia sesungguhnya mengandung kritik mendalam terhadap cara manusia memandang harta, kepemilikan, dan kehidupan ekonomi?

Pertanyaan ini menjadi sangat relevan di tengah zaman yang ditandai oleh budaya individualisme, konsumerisme, dan kompetisi ekonomi yang kian tajam. Dunia modern mendorong manusia untuk terus mengejar lebih banyak, lebih banyak harta, lebih besar rumah, lebih tinggi jabatan, lebih mewah gaya hidup. Kesuksesan sering kali diukur dengan seberapa banyak yang dimiliki, bukan seberapa besar manfaat yang diberikan. Dalam logika seperti ini, manusia perlahan didorong menjadi makhluk yang sangat ekonomis, tetapi tidak selalu manusiawi.

Di sinilah qurban menemukan relevansinya. Qurban pada dasarnya adalah pendidikan spiritual yang menantang egoisme manusia. Ia bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan simbol kesediaan untuk melepaskan sesuatu yang dicintai demi nilai yang lebih tinggi. Kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan mengorbankan putranya, Ismail, merupakan puncak pelajaran tentang ketaatan dan pengorbanan. Yang diuji bukan kemampuan teknis untuk menyembelih, tetapi keberanian untuk menempatkan cinta kepada Tuhan di atas cinta kepada apa yang dimiliki.

Dalam konteks kehidupan modern, “Ismail” manusia bisa bermacam-macam, harta, kenyamanan, status sosial, ambisi, bahkan ego pribadi. Karena itu, qurban sesungguhnya mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang melepaskan.

Sayangnya, dalam praktik kehidupan ekonomi sehari-hari, semangat ini justru sering hilang. Kita hidup dalam situasi ketika banyak keputusan ekonomi ditentukan semata-mata oleh kalkulasi keuntungan. Dalam dunia bisnis, pertanyaan yang sering muncul adalah “Apa untungnya?” Pertanyaan tentang keadilan, kepatutan, atau dampak sosial sering berada di urutan belakang. Tidak sedikit yang menganggap bahwa selama sesuatu legal, maka ia otomatis benar. Padahal tidak semua yang legal selalu etis, dan tidak semua yang menguntungkan selalu bermartabat.

Fenomena penimbunan barang saat kebutuhan masyarakat meningkat, permainan harga pada momen tertentu, eksploitasi tenaga kerja dengan upah rendah, hingga praktik bisnis yang memanfaatkan ketidaktahuan konsumen adalah contoh bagaimana ekonomi bisa kehilangan nurani. Pada level yang lebih sederhana, egoisme ekonomi juga tampak ketika seseorang mudah menghabiskan uang untuk gaya hidup, tetapi merasa berat membantu kerabat yang kesulitan.

Masalah terbesar dari egoisme ekonomi bukan hanya soal ketimpangan materi, tetapi juga matinya empati sosial. Ketika manusia terlalu sibuk mengejar kepentingan pribadi, masyarakat berubah menjadi kumpulan individu yang hidup berdampingan tanpa benar-benar saling peduli. Orang bisa tinggal bertahun-tahun bersebelahan tanpa tahu kondisi tetangganya. Kemiskinan dianggap urusan pribadi. Kesulitan orang lain dilihat sebagai konsekuensi dari pilihan hidup mereka sendiri. Dalam masyarakat seperti ini, solidaritas perlahan terkikis.

Padahal dalam ajaran Islam, ekonomi tidak pernah dipisahkan dari moralitas. Harta bukan sekadar hak individual, tetapi juga amanah sosial. Dalam setiap rezeki yang diperoleh, ada hak orang lain yang harus diperhatikan. Karena itu, ibadah seperti zakat, infak, sedekah, dan qurban bukan sekadar amal pribadi, melainkan mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan.

Qurban secara khusus memiliki makna yang menarik. Ia mengajarkan bahwa kepemilikan tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Seekor hewan qurban tidak dinikmati oleh satu keluarga saja, melainkan dibagikan kepada banyak orang. Ada semangat distribusi di dalamnya. Ada pesan bahwa nikmat Allah seharusnya membawa manfaat yang lebih luas.

Dari sisi ekonomi, qurban juga menunjukkan bahwa ibadah dapat memiliki dampak sosial ekonomi yang nyata. Momentum qurban menggerakkan aktivitas peternak, pedagang, pekerja transportasi, hingga panitia distribusi. Ini menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan nyata. Spirit keagamaan bisa berkelindan dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah perubahan mentalitas. Qurban seharusnya tidak berhenti sebagai ritual musiman. Spiritnya justru harus hidup sepanjang tahun. Jika seseorang berqurban tetapi tetap menzalimi pekerjanya, maka ada yang belum selesai dengan pemahaman keagamaannya. Jika seseorang rutin berbagi daging qurban tetapi tidak peduli pada penderitaan orang di sekitarnya, maka ibadah itu belum menyentuh inti terdalamnya.

Kita membutuhkan lebih dari sekadar ritual. Kita membutuhkan kebangkitan etika sosial. Di tengah tekanan ekonomi, memang tidak semua orang mampu memberi dalam jumlah besar. Tetapi kepedulian tidak selalu diukur dengan nominal. Yang paling mendasar adalah perubahan cara pandang dari “semua untuk saya” menjadi “apa yang bisa saya berikan”. Dari “bagaimana saya untung” menjadi “bagaimana kita bisa sama-sama kuat”.

Dalam konteks bangsa yang masih menghadapi ketimpangan sosial, pengangguran, dan tekanan biaya hidup, spirit qurban menjadi sangat relevan. Yang kita butuhkan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga ekonomi yang berkeadilan. Bukan hanya pasar yang bergerak, tetapi hati yang hidup. Bukan hanya individu yang sukses, tetapi masyarakat yang saling menopang.

Egoisme ekonomi mungkin tampak rasional dalam logika pasar. Tetapi sebuah bangsa tidak dibangun hanya oleh persaingan tetapi juga dibangun oleh solidaritas. Idul Adha mengingatkan bahwa manusia yang besar bukanlah yang paling banyak mengumpulkan, tetapi yang paling mampu berbagi. Bahwa kekuatan tidak selalu terletak pada apa yang kita genggam, tetapi juga pada apa yang rela kita lepaskan demi kebaikan bersama.

Karena itu, qurban bukan sekadar tentang hewan yang disembelih. Ia adalah simbol tentang ego yang harus dikalahkan. Dan mungkin, di zaman ini, itulah qurban yang paling kita butuhkan.

“Penulis adalah Ketua Program Studi Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palopo”.

Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *