WhatsApp Image 2026-05-26 at 14.00.42 (1)
PlayPause
previous arrow
next arrow
OpiniReligi

Ketika Rumi Mengingatkan Haji Bukan Soal Foto Di Depan Ka’bah

×

Ketika Rumi Mengingatkan Haji Bukan Soal Foto Di Depan Ka’bah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ilham, S.Ag.,M.A

(Akademisi UIN Palopo)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Kemarin, saya membaca tulisan menarik dari Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar. Ia bercerita tentang pengalamannya salat Id di dekat rumah, berjalan kaki, dan mendapati khutbah yang menyitir nama Jalaluddin Rumi.

Khatibnya, K.H Helmi Amin, tiba-tiba membawa nama penyair sufi abad ke-13 itu di tengah pembahasan haji mabrur. Biasanya, kutipan di hari raya berasal dari ulama besar atau motivator viral. Rumi adalah kejutan. Rosadi mengutip Rumi: “Musik yang haram itu adalah bunyi sendok dan garpu orang kaya di meja makan, yang terdengar oleh tetangganya yang miskin dan kelaparan”.

Bagi saya, itu bukan sekadar puisi. Itu ledakan kesadaran sosial. Rumi, yang lahir 30 September 1207 di Wakhsh (kini Tajikistan), tidak pernah sibuk memperdebatkan status hukum gitar atau biola. Ia sedang menyindir manusia modern atau mungkin manusia sepanjang zaman yang perutnya penuh tapi hatinya kopong.

Bunyi sendok garpu orang kaya lebih nyaring dari toa masjid, karena di balik dentingan makanan mewah, ada tetangga yang membagi mi instan menjadi tiga jatah: pagi, siang, malam. Kadang kuahnya diwariskan lintas generasi.

Inilah Rumi yang jarang muncul di ceramah-ceramah kita. Bukan Rumi yang instan, yang puisinya dipotong jadi status WhatsApp bergradien emas. Tapi Rumi yang hidupnya berubah setelah bertemu Shams Tabrizi, seorang darwis nyentrik.

Setelah Shams menghilang, Rumi menjadi “pabrik puisi spiritual.” Lahirlah Mathnawi, Diwan-e Shams-i Tabrizi, dan Fihi Ma Fihi. Jika sekarang orang berbondong-bondong mencari inner peace dalam tujuh hari, Rumi sudah bicara tentang fana: melebur dalam Tuhan. Bukan melebur prinsip demi kursi komisaris.

Yang menarik, seperti ditulis Rosadi, khatib langsung menyambungkan pesan Rumi dengan esensi haji mabrur. Dalam hadis riwayat Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, tanda haji mabrur itu sederhana: memberi makan orang lain dan berkata baik. Riwayat lain menambahkan “menebarkan salam”. Artinya, ukuran haji mabrur bukanlah jumlah foto di depan Ka’bah, bukan caption “MasyaAllah tabarakallah” dengan font Arab emas, juga bukan oleh-oleh air zamzam yang viral di media sosial.

Kalau pulang haji masih suka marah-marah, masih suka nipu proyek, masih nyinyir di grup WA, itu bukan mabrur. Itu wisata rohani plus suvenir. Rumi mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah lewat cinta. Bukan lewat suara paling keras, atribut paling mahal, atau jabatan paling tinggi. Dari ajarannya lahir tarekat Mevlevi dengan tarian berputar—whirling dervishes. Mereka berputar untuk mendekat pada Tuhan. Di negeri kita, banyak juga yang berputar-putar. Bedanya, sebagian berputar mengelilingi kekuasaan sambil mencari proyek APBN.

Delapan abad setelah wafat pada 17 Desember 1273 di Konya, nama Rumi masih hidup. Puisinya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan populer di Barat. Rosadi punya penjelasan jitu: manusia modern makin canggih, makin stres. Kuota internet unlimited, hati limited edition. Followers ribuan, teman curhat nihil. Dunia ramai dengan pertunjukan agama. Jilbab setinggi tiang, janggut lebat model salaf, tapi korupsi dana desa. Haji berkali-kali, tapi lupa bahwa di belakang rumah ada tetangga yang belum sarapan.

Di situlah relevansi Rumi. Ia tidak datang dengan doktrin yang menggurui, tetapi dengan puisi yang membuka hati. Jalan menuju Tuhan bukan dengan memperbanyak ritual yang terlihat, melainkan dengan kelembutan hati yang nyata. Bukan dengan memperkeras suara di pengeras suara, tetapi dengan memperluas ruang berbagi di meja makan.

Saya tutup dengan pesan yang ditulis Rosadi dari penutup khutbah: “Haji mabrur itu sunahnya pulang membawa oleh-oleh. Tapi oleh-oleh terbaik bukan kurma atau baju gamis, melainkan tetangga yang kenyang dan hati yang damai.”Maka sebelum bertanya apakah haji kita mabrur, tanyakan dulu: apakah hari ini sendok garpu kita menimbulkan tetangga yang kelaparan? Atau justru kita bisa mengubah bunyi itu menjadi suara yang menghidupkan?

“Rumi pasti tersenyum mendengarnya”.

“Penulis saat ini sebagai Wakil Dekan 1 Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palopo. Ia lahir dan besar di Luwu Timur, serta fokus menulis tentang Budaya dan Keberagamaan dari sudut Kampung”.Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *