Refleksi atas Pencanangan
Eco-Pesantren di Pesantren Tahfizul Qur’an Al Imam Ashim Kampus II Tamangapa Manggala, 17 Mei 2026
Oleh: Mashud Azikin
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Di tengah dunia yang sedang menghadapi krisis iklim, pencemaran, dan kerusakan lingkungan yang semakin nyata, sebuah pesan penting justru lahir dari lingkungan pesantren. Pada 17 Mei 2026, Pesantren Tahfizul Qur’an Al Imam Ashim Kampus II Bangkala Kec. Manggala, Makassar, mencanangkan gerakan Eco-Pesantren yang diresmikan langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr.H. Ali Yafid dan turut hadir dalam acara tersebut Persatuan Umat Budha Indonesia (PERMABUDHI) Provinsi Sulawesi Selatan turut hadir yang dipimpin oleh Ketuanya Ir. Yongris.
Peristiwa yang bukan sekadar seremoni penghijauan atau program kebersihan sesaat. Ia adalah penanda penting bahwa pesantren mulai mengambil peran strategis dalam menjawab tantangan ekologis zaman. Di tempat para santri menghafal ayat-ayat suci, lahir pula kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari pengabdian kepada Tuhan.
Hari ini, pesantren tidak lagi hanya berbicara tentang kitab dan ibadah ritual, tetapi juga tentang sampah, air, energi, pangan, dan masa depan lingkungan hidup manusia.
Islam dan Kesadaran Ekologis
Dalam ajaran Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah fil ardh — pengelola bumi. Posisi ini bukan hak untuk mengeksploitasi alam tanpa batas, melainkan amanah untuk menjaga keseimbangan ciptaan Tuhan.
Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi. Bahkan konsep rahmatan lil ‘alamin menegaskan bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi manusia.
Karena itu, Eco-Pesantren sejatinya bukan konsep asing dalam tradisi Islam. Ia hanyalah cara baru untuk menghidupkan kembali nilai-nilai lama yang mulai terlupakan. Kebersihan bukan sekadar slogan, tetapi bagian dari iman. Menanam pohon bukan hanya aktivitas fisik, melainkan sedekah kehidupan. Menghemat air bukan hanya efisiensi, tetapi bentuk syukur.
Dalam konteks inilah pesantren memiliki posisi yang sangat penting. Dengan kultur disiplin, keteladanan kiai, dan kehidupan kolektif para santri, pesantren menjadi ruang ideal untuk membangun peradaban ekologis berbasis spiritualitas.
Dari Pesantren ke Gerakan Lingkungan
Pencanangan Eco-Pesantren di Al Imam Ashim Kampus II Tamangapa Manggala menunjukkan arah baru pendidikan Islam di Indonesia. Pesantren tidak lagi berdiri terpisah dari persoalan sosial dan lingkungan, tetapi hadir sebagai bagian dari solusi.
Konsep Eco-Pesantren mengintegrasikan pendidikan agama dengan praktik hidup berkelanjutan. Santri tidak hanya belajar membaca kitab, tetapi juga memahami bagaimana Islam memandang pencemaran lingkungan, krisis air, dan eksploitasi sumber daya alam.
Di lingkungan pesantren, kesadaran ekologis diterjemahkan dalam tindakan nyata: memilah sampah, mengolah limbah organik menjadi kompos, menanam tanaman pangan, memanfaatkan air secara bijak, hingga membangun budaya hidup bersih dan sehat.
Pendekatan seperti ini memiliki kekuatan yang sangat besar karena dibangun melalui keteladanan dan kebiasaan sehari-hari. Apa yang dilakukan santri di pesantren akan terbawa ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Maka Eco-Pesantren sesungguhnya sedang membentuk generasi baru: generasi religius yang memiliki kesadaran ekologis.
Pesantren sebagai Laboratorium Kehidupan
Selama ini, banyak pesantren tradisional menghadapi persoalan sanitasi, sampah, dan keterbatasan pengelolaan lingkungan. Namun melalui pendekatan Eco-Pesantren, kawasan pendidikan Islam justru dapat berubah menjadi laboratorium hidup yang mengajarkan harmoni antara manusia dan alam.
Lahan pesantren dapat dimanfaatkan untuk pertanian organik, hidroponik, peternakan sehat, hingga budidaya tanaman produktif. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk. Air bekas wudhu dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman. Bahkan energi alternatif seperti biogas dan panel surya mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pendidikan kemandirian.
Di sinilah pesantren menjadi lebih dari sekadar institusi pendidikan. Ia tumbuh menjadi pusat transformasi sosial-ekologis masyarakat.
Warga sekitar dapat belajar cara mengelola sampah, bercocok tanam organik, hingga membangun pola hidup sehat berbasis nilai agama. Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat pemberdayaan lingkungan.
Membangun Kesalehan yang Lebih Luas
Selama ini, ukuran kesalehan sering kali dipahami secara ritualistik: rajin salat, puasa, mengaji, dan beribadah. Padahal dalam realitas kehidupan modern, kerusakan lingkungan juga merupakan persoalan moral dan spiritual.
Membuang sampah sembarangan, merusak hutan, mencemari sungai, atau memboroskan air sesungguhnya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Tuhan sebagai penjaga bumi.
Karena itu, Eco-Pesantren menghadirkan makna baru tentang kesalehan. Kesalehan tidak berhenti di sajadah, tetapi juga hadir di kebun, tempat sampah, saluran air, dan ruang hidup bersama.
Santri yang memungut sampah dengan kesadaran ibadah memiliki nilai spiritual yang sama mulianya dengan mereka yang menghafal ayat-ayat tentang penciptaan alam. Sebab agama yang sejati tidak hanya membangun hubungan dengan Tuhan, tetapi juga menjaga kehidupan.
Tantangan dan Harapan
Tentu saja perjalanan menuju Eco-Pesantren tidak mudah. Banyak pesantren masih menghadapi keterbatasan dana, fasilitas, dan sumber daya manusia. Mengubah kebiasaan hidup ribuan santri membutuhkan proses panjang dan konsistensi yang kuat.
Namun sejarah menunjukkan bahwa pesantren selalu mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan ruhnya. Dahulu pesantren menjadi benteng perjuangan kemerdekaan. Hari ini, pesantren memiliki peluang menjadi benteng peradaban ekologis Indonesia.
Karena itu, dukungan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dan masyarakat menjadi sangat penting. Eco-Pesantren tidak boleh berhenti sebagai program simbolik, tetapi harus tumbuh menjadi gerakan nasional berbasis akar rumput.
Pencanangan Eco-Pesantren di Pesantren Tahfizul Qur’an Al Imam Ashim Kampus II Tamangapa Manggala hari ini dapat menjadi contoh bagaimana nilai agama dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan.
Di tengah kota yang terus dipenuhi beton, polusi, dan tumpukan sampah, pesantren justru mengingatkan bahwa masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh akhlak manusia terhadap alam.
Dan mungkin dari ruang-ruang sederhana tempat para santri menghafal Al-Qur’an itulah, lahir harapan baru tentang Indonesia yang lebih hijau, lebih bersih, dan lebih beradab.













