Internasional, Potretnusantara.co.id – Setelah sempat mengancam akan “menghapus Iran dalam semalam”, Donald Trump justru dibuat kaget oleh respons rakyat Iran yang bukannya panik, malah turun langsung menjaga infrastruktur yang disebut-sebut jadi target serangan—seolah berkata, “Kalau mau hancurin, sekalian sama kami.”
Alih-alih membuat Iran ciut, ancaman itu malah berbalik menjadi tekanan bagi Trump sendiri. Kecaman datang dari berbagai penjuru dunia, bahkan dari dalam negeri AS. Tercatat puluhan anggota Kongres—lintas partai—mulai mendorong langkah pemakzulan, menilai pernyataannya sudah di luar kendali.
Situasi makin canggung ketika Trump memperpanjang ultimatum dua minggu dengan dalih negosiasi. Masalahnya, Iran tidak pernah merasa sedang bernegosiasi. Komunikasi bahkan disebut terputus, sementara usulan dialog justru datang dari pihak lain.
Di lapangan, Iran tetap pada posisinya—tidak bergeming. Aktivitas militer dan serangan di kawasan Timur Tengah terus berlangsung, menunjukkan bahwa ancaman Trump tidak banyak mengubah sikap Teheran.
Sementara itu, laporan intelijen Barat menyebut Iran masih memiliki kapasitas militer besar, menandakan kesiapan menghadapi konflik jangka panjang. Di dalam negeri Iran sendiri, gelombang mobilisasi relawan terus meningkat.
Akhirnya, yang tersisa dari drama ini adalah kontras yang cukup ironis: ancaman besar yang menggema keras di awal, tapi perlahan meredup di tengah tekanan politik dan realitas lapangan.
Sumber: Tengku Zulkifli Usman
Editor: S PNs












