Makassar, Potretnusantara.co.id – Pengurus Pusat Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Mamuju (HIPERMAJU) menggelar nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono di Sangmane Coffee, Jalan Sultan Alauddin 2, Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Jumat, (22/5/2026).
Kegiatan itu menjadi ruang refleksi kritis atas ketimpangan pembangunan, perampasan ruang hidup masyarakat adat, serta eksploitasi sumber daya alam di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, peserta menyoroti kondisi masyarakat adat di Papua yang dinilai menghadapi tekanan akibat ekspansi proyek-proyek berskala besar. Hutan dan ruang hidup masyarakat adat disebut terus menyusut, sementara manfaat ekonomi pembangunan dianggap hanya berputar di lingkaran elite politik dan korporasi.
HIPERMAJU menilai pendekatan pembangunan yang dijalankan negara masih cenderung sentralistik dan eksploitatif. Dalam situasi itu, masyarakat adat dinilai menjadi pihak yang paling banyak menanggung dampak sosial dan ekologis dari proyek pembangunan.
Berbagai persoalan seperti perampasan tanah, kerusakan hutan adat, kriminalisasi warga, hingga hilangnya identitas budaya masyarakat turut menjadi sorotan dalam forum diskusi tersebut.
Menurut HIPERMAJU, kondisi serupa berpotensi terjadi di Kabupaten Mamuju seiring masuknya rencana pertambangan logam tanah jarang (LTJ) yang saat ini berada pada tahap perizinan. Organisasi itu memandang proyek pertambangan bukan sekadar persoalan investasi, melainkan juga menyangkut keberlanjutan lingkungan hidup dan keselamatan ruang hidup masyarakat.
Pengurus Pusat HIPERMAJU menyatakan menolak rencana tambang logam tanah jarang di Mamuju. Penolakan itu didasarkan pada kekhawatiran terhadap potensi kerusakan lingkungan, hilangnya ruang hidup masyarakat, ancaman terhadap sumber mata air, hingga potensi konflik sosial.
Ketua Umum PP HIPERMAJU, Aksan Iskandar, mengatakan masyarakat Sulawesi Barat, khususnya Mamuju, perlu belajar dari berbagai daerah yang mengalami kerusakan ekologis akibat aktivitas industri ekstraktif.
“Jangan sampai pembangunan hanya menghadirkan keuntungan bagi korporasi dan elite tertentu, sementara masyarakat lokal diwariskan bencana ekologis dan kemiskinan struktural. Apalagi terdapat ancaman serius dari kandungan unsur uranium dan thorium dalam logam tanah jarang yang berpotensi menimbulkan paparan radioaktif,” kata Aksan.
Melalui kegiatan tersebut, HIPERMAJU mengajak pemuda, mahasiswa, dan masyarakat luas membangun kesadaran kolektif untuk menjaga tanah, hutan, dan ruang hidup dari ancaman eksploitasi sumber daya alam yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
“Tanah bukan sekadar objek investasi. Tanah adalah kehidupan, identitas, dan masa depan masyarakat,” ujar Aksan.













