Advertorial

SKARDA N-70: Halal Bihalal, Menyulam Rindu dan Menghidupkan Kembali Makna Silaturahmi

×

SKARDA N-70: Halal Bihalal, Menyulam Rindu dan Menghidupkan Kembali Makna Silaturahmi

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Sepekan pasca bulan suci Ramadhan berlalu, namun denyut spiritualnya masih terasa hangat di relung hati. Ia tidak sekadar meninggalkan jejak ibadah, tetapi juga melahirkan kesadaran baru bahwa setiap insan selalu diberi ruang untuk kembali ke fitrah, menjadi pribadi yang lebih jernih dan tulus.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, cara manusia saling terhubung telah berubah drastis. Jika puluhan tahun lalu silaturahmi membutuhkan langkah kaki, waktu, dan kesungguhan, kini cukup dengan sentuhan jari.

Adv

Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” berseliweran di layar, hadir cepat namun seringkali terasa hambar, kehilangan makna, lalu hilang tertelan linimasa.

Namun tidak demikian dengan Komunitas SKARDA N-70. Berakar dari sebuah jalan sederhana di kawasan Gunung Sari Lama, Kecamatan Rappocini, komunitas ini telah tumbuh bersama selama lebih dari setengah abad. Mereka bukan sekadar kumpulan warga, melainkan potongan kenangan yang hidup tentang masa kecil, tentang tawa tanpa beban, dan tentang persaudaraan yang tidak lekang oleh waktu.

Di tengah modernitas yang serba instan, mereka memilih kembali pada cara lamacara yang sarat makna. Melalui kegiatan halal bihalal yang digagas oleh Hasan Alwi, Barly, dr. Naldy, Bucek, dan Mehdar, SKARDA N-70 menghadirkan kembali esensi silaturahmi yang sesungguhnya. Bukan sekadar ucapan, tetapi perjumpaan. Bukan hanya kata, tetapi rasa.

Acara yang berlangsung di Pantai Biru Tanjung Merdeka pada Senin, 23 Maret 2026 itu terasa begitu hangat. Tawa lepas, obrolan ringan, dan tatapan mata yang tulus menjadi bukti bahwa hubungan yang terbangun sejak kecil tak pernah benar-benar pudar.

“Kita ingin kembali merasakan sesuatu yang mungkin mulai hilang datang dari rumah ke rumah, berjabat tangan dengan penuh keikhlasan, berbincang tanpa sekat, dan saling menatap dengan ketulusan,” ungkap Hasan Alwi, yang akrab disapa Achank.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa di sanalah, waktu seakan berjalan mundur. Ingatan tentang masa lalu kembali hidup tentang permainan di jalanan kampung, tentang kebersamaan tanpa kepentingan, dan tentang hubungan yang dibangun bukan karena kebutuhan, tetapi karena rasa memiliki.

“Halal bihalal ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ruang untuk merawat memori, memperkuat ikatan, dan meneguhkan bahwa di tengah dunia yang terus berubah, nilai-nilai kebersamaan tetap layak diperjuangkan,” ungkap Barly Pallantikang yang sejak tahun 1970 menetap di Skarda N.

Ketua RT yang akrab disapa Bucek pun menyampaikan harapannya, “Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut, agar hubungan persaudaraan dan pertemanan kami semakin erat,” harapnya.

Di Makassar yang terus bertumbuh dan berlari menuju modernitas, SKARDA N-70 seolah menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus kenangan, dan teknologi tidak boleh menghilangkan rasa.
Sebab pada akhirnya, silaturahmi bukan soal seberapa cepat pesan terkirim, tetapi seberapa dalam hati saling terhubung.

Sumber: Barly Pallantikang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *