Oleh: Muhammad Fadhil Pendamping SDM PKH Kementerian Sosial RI
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Pergantian tahun dalam kalender Hijriah selalu menghadirkan ruang perenungan bagi setiap muslim. Ketika bulan Muharram datang, kita tidak hanya menyambut lembaran baru dalam hitungan waktu, tetapi juga diajak untuk menengok perjalanan hidup yang telah dilalui. Sudah sejauh mana langkah kita mendekat kepada Allah SWT? Sudah seberapa besar manfaat yang telah kita berikan kepada sesama? Dan warisan seperti apa yang kelak akan kita tinggalkan ketika masa pengabdian di dunia ini berakhir?
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan yang kurang baik menuju kemuliaan akhlak, dari keputusasaan menuju harapan, dari kepentingan diri menuju kebermanfaatan bagi orang lain.
Dalam perjalanan hidup manusia, banyak hal yang dikejar. Ada yang mengejar harta, jabatan, popularitas, dan berbagai bentuk kesuksesan duniawi. Semua itu tidak salah selama diperoleh dengan cara yang baik. Namun sejarah telah mengajarkan bahwa semua itu bersifat sementara. Harta bisa habis, jabatan dapat berganti, dan nama besar suatu saat akan terlupakan oleh zaman.
Lalu apa yang akan tetap hidup setelah seseorang tiada?
Jawabannya adalah keteladanan.
Keteladanan adalah warisan yang paling berharga. Ia tidak dapat dibeli dengan uang, tidak dapat diwariskan melalui surat wasiat, dan tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Keteladanan lahir dari konsistensi sikap, keikhlasan hati, dan pengabdian yang tulus sepanjang hidup.
Banyak orang meninggalkan kekayaan yang besar, tetapi tidak semua meninggalkan kebaikan yang dikenang. Sebaliknya, ada orang-orang sederhana yang mungkin tidak memiliki harta melimpah, namun hingga bertahun-tahun setelah kepergiannya, namanya tetap hidup dalam doa dan kenangan karena akhlak dan keteladanannya.
Seorang ayah mungkin tidak mampu mewariskan rumah yang megah kepada anak-anaknya. Namun jika ia mewariskan kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab, maka sesungguhnya ia telah meninggalkan harta yang nilainya jauh lebih besar daripada materi apa pun.
Seorang ibu mungkin tidak memiliki banyak simpanan kekayaan. Namun ketika ia mewariskan kasih sayang, kesabaran, dan ketulusan kepada keluarganya, maka ia telah meninggalkan warisan yang akan terus hidup dari generasi ke generasi.
Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Orang tidak selalu mengingat apa yang kita katakan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka. Mereka akan mengingat tangan yang pernah membantu ketika mereka kesulitan, nasihat yang diberikan dengan tulus, dan kepedulian yang hadir saat mereka membutuhkan.
Rasulullah SAW adalah teladan terbesar sepanjang sejarah. Keagungan beliau tidak hanya terletak pada wahyu yang dibawa, tetapi juga pada akhlak yang beliau tunjukkan. Beliau jujur ketika memimpin, rendah hati ketika dihormati, sabar ketika dihina, dan pemaaf ketika memiliki kekuasaan untuk membalas.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini mengajarkan bahwa kekuatan terbesar dalam mengubah masyarakat bukan hanya melalui perkataan, tetapi melalui keteladanan. Sebab manusia lebih mudah mengikuti contoh daripada sekadar mendengarkan nasihat.
Sebagai Pendamping SDM PKH Kementerian Sosial, saya meyakini bahwa tugas sosial yang dijalankan bukan hanya tentang mendampingi program dan memastikan bantuan tepat sasaran.
Lebih dari itu, tugas ini adalah amanah untuk menghadirkan keteladanan di tengah masyarakat. Ketika kita mengajak keluarga penerima manfaat untuk hidup lebih mandiri, maka kita pun harus menunjukkan semangat kerja keras. Ketika kita mengajak mereka untuk jujur dan disiplin, maka kita harus menjadi orang pertama yang menjaga integritas.
Masyarakat tidak membutuhkan sosok yang sempurna. Mereka membutuhkan sosok yang mau berusaha menjadi lebih baik setiap hari. Keteladanan bukan tentang menjadi manusia tanpa kesalahan, tetapi tentang kesungguhan untuk terus memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi orang lain.
Muharram mengajarkan bahwa setiap tahun yang berlalu sesungguhnya adalah pengingat bahwa umur kita semakin berkurang. Waktu terus berjalan tanpa pernah kembali. Oleh karena itu, jangan sampai kita hanya meninggalkan jejak berupa angka, jabatan, atau pencapaian pribadi. Tinggalkanlah jejak kebaikan yang membuat orang lain mengenang kita dengan doa.
Bayangkan ketika suatu hari kita telah tiada. Tidak ada lagi kesempatan berbicara, bekerja, ataupun berkarya. Saat itu yang tersisa hanyalah amal dan kenangan yang pernah kita tinggalkan. Alangkah indahnya jika ada anak yang mengenang orang tuanya karena kejujurannya. Ada masyarakat yang mengenang seorang pendamping karena kepeduliannya. Ada keluarga yang mengenang seseorang karena ketulusannya dalam membantu tanpa mengharap balasan.
Itulah keteladanan. Ia akan terus hidup meskipun jasad telah terkubur. Ia menjadi amal yang mengalir melalui inspirasi yang ditinggalkan kepada orang lain.
Di awal tahun 1448 Hijriah ini, marilah kita melakukan hijrah terbaik, yaitu hijrah akhlak dan keteladanan. Mari memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, dan memperbanyak amal yang memberi manfaat bagi masyarakat. Jadilah pribadi yang kehadirannya membawa solusi, bukan masalah. Jadilah pribadi yang menebarkan harapan, bukan keputusasaan. Jadilah pribadi yang meninggalkan teladan, bukan sekadar kenangan.
Karena pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena seberapa banyak yang ia miliki, tetapi karena seberapa besar manfaat yang telah ia berikan.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Semoga Allah SWT membimbing langkah kita untuk terus berhijrah menuju kebaikan, menguatkan keikhlasan dalam pengabdian, dan menjadikan kita insan yang mampu meninggalkan warisan terbaik berupa keteladanan yang menginspirasi generasi mendatang.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.
Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.














