Pendidikan

Dari Gontor ke Pascasarjana UIN Alauddin, Yahya Aminuddin Teliti Implementasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran PAI

×

Dari Gontor ke Pascasarjana UIN Alauddin, Yahya Aminuddin Teliti Implementasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran PAI

Sebarkan artikel ini

Gowa, Potretnusantara.co.id – Semangat menuntut ilmu dan dedikasi terhadap pengembangan pendidikan Islam mengantarkan Yahya Aminuddin, akademisi muda asal Sulawesi Selatan, menyelesaikan studi Magister (S2) pada Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dengan tesis berjudul “Implementasi Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMA Negeri 1 Batuputih Kabupaten Kolaka Utara”.

Penelitian tersebut mengkaji secara mendalam penerapan teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi pembelajaran. Melalui penelitian lapangan yang dilakukan di SMA Negeri 1 Batuputih, Yahya menemukan bahwa pendekatan behavioristik masih relevan dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta kebiasaan positif peserta didik melalui sistem pembiasaan, keteladanan, dan penguatan perilaku yang dilakukan secara konsisten.

Yahya Aminuddin merupakan putra kedua pasangan Drs. Aminuddin dan Nurdian S.Pd. Lahir di Makassar pada 15 Oktober 2000, perjalanan pendidikannya dimulai dari bangku Taman Kanak-Kanak di Desa Latowu, kemudian melanjutkan pendidikan dasar di SDN 2 Latowu. Setelah itu, ia menempuh pendidikan menengah di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, mulai dari tingkat SMP hingga SMA.

Usai menamatkan pendidikan di Gontor, Yahya mengabdikan diri di Pondok Pesantren Daruttaqwa Ponorogo sebelum melanjutkan pendidikan tinggi pada Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Berbekal semangat belajar yang kuat, ia kemudian melanjutkan studi Magister (S2) pada Program Pascasarjana jurusan yang sama.

Menurut Yahya, penelitian yang ia lakukan berangkat dari kegelisahannya terhadap tantangan pembentukan karakter peserta didik di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di era digital.

“Pendidikan agama tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga harus mampu membentuk perilaku dan karakter peserta didik. Teori behavioristik memberikan pendekatan yang relevan untuk membangun kebiasaan baik melalui pembiasaan, keteladanan, serta penguatan positif,” ujar Yahya  pada awak media, Rabu (10/6/2026).

Dalam hasil penelitiannya, ia menemukan bahwa guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMA Negeri 1 Batuputih telah menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang sejalan dengan teori behavioristik. Penguatan positif melalui pemberian apresiasi, pembiasaan ibadah, serta evaluasi berbasis perilaku dinilai efektif dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada peserta didik.

Ia menilai keberhasilan implementasi teori behavioristik tidak hanya bergantung pada kompetensi guru, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan lingkungan sekolah dan keluarga.

“Kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua menjadi faktor penting dalam membentuk karakter siswa. Ketika penguatan perilaku positif dilakukan secara berkelanjutan, maka nilai-nilai agama akan lebih mudah terinternalisasi dalam kehidupan peserta didik,” katanya.

Penelitian tersebut juga mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam pelaksanaannya, di antaranya pengaruh lingkungan digital, perkembangan media sosial, serta beragamnya karakter awal peserta didik. Namun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi melalui strategi pembelajaran yang adaptif, konsisten, dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Keberhasilan menyelesaikan pendidikan pascasarjana di UIN Alauddin Makassar menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik Yahya. Ia mengaku tidak ingin berhenti pada jenjang magister dan bertekad untuk terus melanjutkan pengembangan keilmuan melalui pendidikan doktoral.

“Alhamdulillah, dengan selesainya Program Pascasarjana di UIN Alauddin Makassar, saya memiliki harapan besar untuk melanjutkan studi ke jenjang Doktoral (S3). Namun untuk  jenjang Doktoral saya berharap ada beasiswa yang bisa membantu,” ungkapnya dengan penuh harap.

Yahya menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses belajar yang berlangsung sepanjang hayat. Karena itu, ia berkomitmen untuk terus mengembangkan kapasitas akademik dan menghasilkan penelitian yang mampu menjawab tantangan dunia pendidikan di masa depan.

“Pendidikan adalah perjalanan yang tidak pernah berakhir. Saya berharap dapat terus belajar, meneliti, dan berkarya melalui jenjang S3 sehingga ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, dunia pendidikan, dan generasi mendatang,” tuturnya.

Menutup keterangannya, Yahya berharap hasil penelitian yang telah disusunnya dapat menjadi referensi bagi para guru, akademisi, dan pemangku kebijakan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam sekaligus memperkuat pembentukan karakter generasi muda.

“Saya ingin terus berkontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam yang inovatif, relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai akhlak dan moral yang kuat,” tutup Yahya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *