Pendidikan

Kepala Sekolah: Sejak 2016, Pelajar SMAN 2 Campalagian Andalkan Perahu ke Sekolah

×

Kepala Sekolah: Sejak 2016, Pelajar SMAN 2 Campalagian Andalkan Perahu ke Sekolah

Sebarkan artikel ini

Polewali Mandar, Potretnusanatara.co.id – Belasan pelajar SMAN 2 Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, masih menggantungkan perjalanan mereka ke sekolah pada sebuah perahu penyeberangan di Sungai Maloso, Kamis (30/7/2026). Jalur air itu bukan sekadar pilihan transportasi, melainkan satu-satunya akses tercepat yang dapat mereka tempuh setiap hari untuk mengikuti kegiatan belajar.

Penyeberangan yang berada di Desa Rumpa, Kecamatan Mapilli, menghubungkan Desa Rumpa dengan Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian. Selain dimanfaatkan para pelajar, jalur tersebut juga menjadi akses masyarakat menuju kebun, sawah, hingga Pasar Tradisional Wonomulyo. Sebagian warga bahkan menggantungkan mata pencahariannya sebagai penyedia jasa penyeberangan menggunakan perahu.

Berdasarkan data yang dihimpun Wartawan Potretnusantara.co.id, sebanyak 13 pelajar SMAN 2 Campalagian yang setiap hari menggunakan transportasi perahu untuk menuju sekolah. Sebagian besar di antaranya berasal dari Desa Rumpa dan Desa Segerang yang berada di seberang Sungai Maloso.

Bagi para siswa, jalur darat melalui poros Mapilli sebenarnya dapat dilalui. Namun, rute tersebut memerlukan waktu tempuh lebih lama serta biaya transportasi yang lebih besar dibandingkan menyeberangi Sungai Maloso menggunakan perahu.

Kepala Sekolah SMAN 2 Campalagian, Sabri Maulana mengatakan penggunaan perahu sebagai sarana transportasi siswa telah berlangsung sejak sekolah itu berdiri pada tahun ajaran 2016/2017. Setiap tahun selalu ada peserta didik dari wilayah seberang sungai yang mengandalkan jasa penyeberangan untuk berangkat dan pulang sekolah.

“Dari tahun ke tahun selalu ada siswa dari Desa Rumpa dan Segerang yang menggunakan perahu untuk ke sekolah,” katanya.

Menurut dia, pada tahun-tahun sebelumnya mayoritas siswa pengguna perahu berasal dari Desa Rumpa. Aktivitas belajar mengajar umumnya berjalan normal. Keterlambatan hanya terjadi apabila debit Sungai Maloso meningkat atau perahu tidak dapat beroperasi.

“Secara umum tidak ada yang terlambat, kecuali kalau Sungai Maloso sedang pasang atau airnya naik. Alasan lainnya kalau pemilik perahu kebetulan tidak ada di tempat. Selain dua hal itu, tidak ada potensi keterlambatan siswa,” ujarnya.

Untuk memastikan para siswa tetap dapat mengakses pendidikan, sekolah membebaskan biaya penyeberangan. Anggaran tersebut berasal dari dana pembinaan kesiswaan dan dibayarkan kepada pemilik jasa perahu berdasarkan jumlah kehadiran siswa yang menggunakan layanan penyeberangan.

“Sejak saya menjadi kepala sekolah di SMAN 2 Campalagian, biaya transportasi perahu kami bebaskan. Sekolah memberikan biaya transportasi kepada pemilik jasa penyeberangan mulai dari berangkat hingga pulang sekolah,” katanya.

Pembayaran dilakukan secara berkala setelah kehadiran siswa direkap oleh pemilik perahu dan disampaikan kepada pihak sekolah. Besaran pembayaran disesuaikan dengan jumlah hari siswa menggunakan jasa penyeberangan.

Sekolah juga memberikan dispensasi kepada siswa yang terlambat akibat kondisi penyeberangan, seperti air sungai yang meluap atau perahu tidak dapat beroperasi.

“Kalau terlambat karena air pasang atau perahunya tidak bisa beroperasi, ada mekanisme komunikasi kepada guru sehingga siswa mendapat dispensasi. Kami berusaha membijaksanai karena memang itu satu-satunya akses yang mereka miliki,” ujarnya.

Menurut dia, penggunaan jalur darat melalui poros Mapilli bukan menjadi solusi yang efektif karena membutuhkan waktu perjalanan lebih lama serta biaya yang lebih besar apabila siswa harus menggunakan sepeda motor atau ojek.

Pihak sekolah telah beberapa kali mengusulkan pembangunan jembatan kepada pemerintah melalui Dinas Pendidikan. Menurut dia, keberadaan jembatan akan mempermudah akses pendidikan bagi siswa yang tinggal di wilayah seberang Sungai Maloso.

“Kami sudah melaporkan kepada dinas dan mengusulkan pembangunan jembatan. Namun kebijakan itu menjadi kewenangan pemerintah melalui proses musyawarah di tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Sampai sekarang belum ada realisasinya,” tutupnya.

Hingga kini, perahu masih menjadi penghubung utama bagi 13 siswa-siswi SMAN 2 Campalagian untuk mengakses pendidikan. Di sisi lain, keberadaan jasa penyeberangan tersebut juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat yang bermukim di sepanjang Sungai Maloso.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *