DaerahHukumKriminalNews

Masjid Dibobol Dua Kali, Polisi Jangan Biarkan Rumah Ibadah Jadi “Lahan Panen” Pencuri

×

Masjid Dibobol Dua Kali, Polisi Jangan Biarkan Rumah Ibadah Jadi “Lahan Panen” Pencuri

Sebarkan artikel ini

Luwu Timur, Potretnusantara.co.id – Ada ironi yang terus berulang di Masjid Al-Muhajirin, Desa Bone Pute, Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur. Rumah ibadah yang semestinya menjadi tempat menebar kebaikan justru berkali-kali menjadi sasaran tangan-tangan yang gemar memanen hasil jerih payah orang lain, Sabtu (6/6/2026).

Belum tuntas misteri hilangnya sound system masjid senilai sekitar Rp8 juta beberapa waktu lalu, kini musibah serupa kembali terjadi; Dua kotak amal yang berisi sumbangan jamaah dilaporkan raib dibobol pencuri.

Ironisnya, kotak amal tersebut ditemukan telah dibuang di pinggir Jalan Trans Sulawesi, wilayah Desa Jalajja. Uang yang dititipkan jamaah untuk kepentingan rumah ibadah diduga telah lebih dulu berpindah tangan.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan; Jika pencurian pertama belum juga menemukan titik terang, bagaimana warga dapat merasa tenang ketika aksi serupa kembali terjadi di lokasi yang sama?

Secara filosofis, pencurian kotak amal bukan sekadar mengambil uang. Ada nilai kepercayaan yang ikut dirampas. Ada niat baik para jamaah yang diinjak. Bahkan ada rasa aman masyarakat yang perlahan terkikis setiap kali pelaku berhasil lolos tanpa jejak.

Salahseorang Tokoh Pemuda setempat, Sahar, saat dikonfirmasi awak media mengungkapkan bahwa ia kini menunggu keseriusan aparat kepolisian untuk mengusut kasus tersebut. Sebab jika rumah ibadah saja bisa menjadi sasaran berulang tanpa adanya kepastian hukum, maka yang dipertaruhkan bukan hanya isi kotak amal, melainkan juga kepercayaan publik terhadap kemampuan negara melindungi ruang-ruang suci dari tindak kriminal.

“Kami berharap pihak kepolisian setempat segera bergerak cepat mengungkap pelaku pencurian, baik kasus hilangnya sound system maupun pembobolan kotak amal yang baru saja terjadi. Jangan sampai pelaku merasa semakin berani karena menganggap tidak ada konsekuensi atas perbuatannya”, ungkapnya.

Masjid dibangun dari gotong royong dan keikhlasan. Karena itu, ketika yang dicuri adalah hasil sedekah umat, maka yang dirugikan bukan satu atau dua orang, melainkan seluruh jamaah yang selama ini menyisihkan rezekinya demi kemakmuran rumah Allah.

Penulis: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *