AgamaPendidikanReligi

Falsafatuna Menjawab Madilog: Empat Kritik Muhammad Baqir As-Sadr

×

Falsafatuna Menjawab Madilog: Empat Kritik Muhammad Baqir As-Sadr

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rahmat Mulyana

Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Ketika kita membaca MADILOG, ada satu titik yang selalu terasa mengganjal — soal Tuhan dan Agama. Tan Malaka menempatkan agama dalam kategori “Logika Mistika” — cara berpikir yang irasional dan harus ditinggalkan. Bagi dia, hanya yang bisa diamati, diuji, dan dibuktikan secara material yang bisa disebut nyata dan benar.

Nah, ada sebuah buku yang menjawab persis persoalan ini secara filosofis. Judulnya Falsafatuna — artinya “Filsafat Kita” — ditulis oleh Muhammad Baqir as-Sadr, seorang filsuf dan ulama besar dari Irak yang menulis buku ini pada 1959. As-Sadr mengidentifikasi Empat kesalahan dalam cara berpikir seperti Madilog. Mari kita bahas satu per satu.

Kesalahan Pertama: Materialisme Bukan (Posisi) Netral

Banyak orang mengira bahwa materialisme adalah posisi yang paling netral dan ilmiah — karena ia hanya percaya pada yang bisa dibuktikan. Tan Malaka pun membangun MADILOG di atas keyakinan ini.Tapi as-Sadr menunjukkan sesuatu yang sangat penting: ada perbedaan besar antara metode empiris dan klaim materialisme.

Kata As-Sadr, kritik sisi empirik materialisme Adalah : “tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan empiris, kita tidak bisa berkata apa-apa — baik iya maupun tidak.” Kalau Tuhan tidak bisa dideteksi di laboratorium, kesimpulan yang jujur bukan “Tuhan tidak ada” — melainkan “Tuhan berada di luar domain metode kami.”

Mengatakan “tidak ada” padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah “tidak terdeteksi” — itulah yang as-Sadr sebut sebagai lompatan pikiran.

Kesalahan Kedua: Beban Pembuktian Harus Adil untuk Dua Pihak

Ada pertanyaan yang sering dilemparkan kepada orang beragama: “buktikan bahwa Tuhan ada!”

As-Sadr menjawab dengan sangat elegan: pertanyaan yang sama harus dibalik. Kalau kamu minta saya membuktikan bahwa Tuhan ada, maka kamu juga harus membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Dua-duanya adalah klaim tentang realitas. Dua-duanya memerlukan argumen. Tidak ada yang namanya “posisi default” dalam pertanyaan sebesar ini.

Ini dalam filsafat disebut soal beban pembuktian. Dan as-Sadr menunjukkan bahwa materialisme selama ini menikmati keistimewaan yang tidak adil: ia dianggap tidak perlu membuktikan apa-apa karena ia “hanya menolak yang tidak terbukti.” Padahal menolak pun adalah klaim. Berkata “Tuhan tidak ada” sama beratnya secara logis dengan berkata “Tuhan ada.” Keduanya harus bisa dipertanggungjawabkan.

Coba pikir seperti ini. Kalau ada yang bilang “buktikan bahwa malaikat ada” — itu pertanyaan yang sah. Tapi pertanyaan yang sama harus bisa dibalik: “buktikan bahwa malaikat tidak ada.” Kalau kamu tidak bisa membuktikan yang satu, kamu juga tidak bisa seenaknya menyimpulkan yang lain.

Kesalahan Ketiga: Eksperimen Tidak Bisa Membuktikan Ketiadaan

Ini adalah penajaman dari kritik pertama, tapi menyasar titik yang berbeda dan sangat penting. Eksperimen ilmiah, dalam logikanya yang paling ketat, hanya bisa membuktikan satu hal: bahwa sesuatu ditemukan atau tidak ditemukan dalam kondisi pengujian tertentu. Ia tidak pernah bisa membuktikan bahwa sesuatu tidak ada secara mutlak.

Kalau sebuah eksperimen tidak menemukan X, kesimpulan yang valid adalah: “X tidak terdeteksi dengan instrumen dan kondisi yang kami gunakan.” Bukan: “X tidak ada.” Perbedaan ini terlihat kecil, tapi dampaknya sangat besar.

As-Sadr menambahkan sesuatu yang lebih dalam lagi. Ada kategori realitas yang memang secara prinsip tidak bisa menjadi objek eksperimen — bukan karena instrumen kita kurang canggih, melainkan karena ia memang berada di kategori yang berbeda dari yang bisa diindera. Meminta bukti empiris untuk Tuhan seperti meminta alat timbang untuk mengukur keindahan sebuah lagu. Bukan soal timbangannya yang kurang presisi — soal kategorinya memang berbeda.

Kesalahan Keempat: Cara Berpikir Teologi dan Sains sebenarnya Berdasar Logika yang sama

Ini adalah bagian yang paling sering mengejutkan orang. As-Sadr tidak bilang bahwa teologi sama dengan sains, atau bahwa agama menggantikan sains. Ia mengatakan sesuatu yang lebih spesifik: cara menyimpulkan sesuatu yang tidak bisa dilihat langsung dari efek yang bisa diamati — itulah yang dilakukan sains dan teologi secara bersamaan.

Ambil contoh Gravitasi. Kamu tidak pernah melihat gravitasi. Tidak ada orang yang pernah melihat gravitasi. Yang kita lihat adalah benda jatuh, planet berputar, air pasang surut. Dari semua efek yang bisa diamati itu, kita menyimpulkan bahwa ada sesuatu — yang kita sebut gravitasi — yang menyebabkannya. Ini adalah inferensi: dari yang teramati ke yang tidak teramati langsung.

Sains penuh dengan inferensi seperti ini. Elektron tidak pernah dilihat langsung — kita menyimpulkan keberadaannya dari jejak-jejak yang ia tinggalkan. Energi gelap tidak pernah terdeteksi langsung — kita menyimpulkan keberadaannya dari ekspansi alam semesta yang tidak bisa dijelaskan tanpanya.

Argumen Teologi tentang Tuhan menggunakan logika yang secara struktur identik: dari keteraturan alam semesta yang luar biasa, dari keberadaan sesuatu daripada ketiadaan, dari fakta bahwa alam semesta ini tidak bisa menjelaskan keberadaannya sendiri — kita menyimpulkan bahwa ada sesuatu di luar alam semesta itu sendiri yang menjadi sebabnya.

As-Sadr menegaskan: ini bukan lompatan kepercayaan yang buta. Ini adalah inferensi ke penjelasan terbaik — persis cara kerja sains terbaik yang kita kenal. Yang membedakannya dari sains empiris bukan strukturnya, melainkan domain pertanyaannya.

Kesimpulan;

As-Sadr tidak menulis Falsafatuna untuk menyerang sains atau membela takhayul. Ia menulis untuk menunjukkan bahwa ada ruang intelektual yang jujur di antara dua kutub yang pandangan seperti MADILOG anggap satu-satunya pilihan — yaitu antara materialisme di satu sisi dan takhayul irasional di sisi lain.

Ruang itu adalah: Menggunakan akal dan logika secara penuh, menghormati sains dan metode empiris, sekaligus mengakui bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam yang tidak bisa dijawab oleh sains empiris — dan ketidakmampuan sains menjawabnya bukan berarti jawabannya “Tidak Ada”.

Kembali ke MADILOG: Semangat Tan Malaka untuk memberantas “Takhayul” dan membangun disiplin berpikir adalah sesuatu yang FALSAFAHTUNA-pun setujui penuh. As-Sadr sendiri sangat keras terhadap cara berpikir yang tidak berdasar dan manipulasi berbasis mitos. Yang ditolak adalah klaim penyokong materialisme seperti dilakukan Tan Malaka yang melangkah terlalu jauh: bahwa satu-satunya cara berpikir yang jujur adalah materialisme, dan bahwa semua dimensi spiritual direduksi menjadi “Logika Mistika”.

Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *