NasionalNewsPendidikan

Lantik Dua Kader NU Sulsel Jadi Rektor, Menag Tekankan Integritas dan Mutu

×

Lantik Dua Kader NU Sulsel Jadi Rektor, Menag Tekankan Integritas dan Mutu

Sebarkan artikel ini

Bone, Potretnusantara.co.id —  Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar resmi melantik tujuh pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di Kantor Kementerian Agama dua hari lalu. Dari sejumlah nama yang dilantik, perhatian publik tertuju pada dua akademisi asal Sulawesi Selatan, yakni Lukman Arake sebagai Rektor IAIN Bone dan Darmawati sebagai Rektor IAIN Parepare.

Pelantikan keduanya dinilai bukan sekadar keputusan administratif, melainkan bagian dari proses regenerasi kepemimpinan akademik di lingkungan PTKN yang bertumpu pada rekam jejak, kapasitas intelektual, dan pengalaman birokrasi pendidikan tinggi.

Prof. Dr. Hj. Darmawati, M.Pd., mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang dipercaya memimpin IAIN Parepare. Selama ini, Darmawati dikenal aktif di dunia akademik, organisasi kemasyarakatan, dan penguatan moderasi beragama. Ia tumbuh dalam tradisi organisasi Nahdlatul Ulama melalui keterlibatannya di PMII dan Muslimat NU.

Sementara itu, Prof. Dr. Lukman Arake dipercaya menakhodai IAIN Bone. Alumni DDI Polman tersebut dikenal memiliki latar belakang kuat dalam tradisi pendidikan pesantren dan pengembangan kelembagaan pendidikan Islam.

Fathuddin, salah satu tokoh pemuda dan akademisi di Bone menilai, munculnya figur-figur berlatar organisasi keagamaan seperti DDI, As’adiyah, maupun NU merupakan konsekuensi logis dari panjangnya tradisi kaderisasi intelektual di Sulawesi Selatan. Organisasi-organisasi tersebut selama puluhan tahun menjadi ruang pembinaan ulama, akademisi, dan birokrat pendidikan yang kini berkiprah di level nasional.

“Pelantikan keduanya sebagai rektor adalah bentuk nyata keberhasilan kaderisasi organisasi berbasis Islam di Sulsel” papar Fathuddin. Menurutnya, ia mengenal Prof. Lukman Arake sebagai tokoh DDI dan NU di Bone. “Beliau itu pembina pesantren” pungkas Fathuddin yang dimintai tanggapannya via telpon seluler, Rabu (13/5/2026).

Sementara itu, arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang dikutip dari portal berita www.kemenag.go.id menegaskan bahwa jabatan rektor bukan sekadar posisi administratif, tetapi amanah besar untuk menjaga integritas institusi pendidikan tinggi keagamaan.

Ia menekankan pentingnya tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel, sekaligus mendorong percepatan transformasi kelembagaan bagi PTKN yang masih berstatus institut agar mampu berkembang menjadi universitas dengan mutu akademik yang lebih kompetitif.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa parameter utama kepemimpinan PTKN ke depan adalah profesionalisme, integritas, dan kemampuan meningkatkan kualitas institusi, bukan kedekatan personal ataupun afiliasi tertentu.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, kehadiran Lukman Arake dan Darmawati di pucuk kepemimpinan PTKN juga dipandang sebagai momentum penting bagi penguatan tradisi akademik Islam moderat yang berakar pada nilai kepesantrenan, namun tetap adaptif terhadap tantangan pendidikan tinggi modern.

Tantangan berikutnya bagi kedua rektor tersebut adalah membuktikan kepemimpinan yang terbuka, inovatif, dan berorientasi mutu, sehingga mampu menjawab ekspektasi publik sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap independensi dan profesionalisme tata kelola PTKN di Indonesia. (BS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *