Luwu, Potretnusantara.co.id – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Luwu menggelar kegiatan Pendidikan Pengawasan Partisipatif (P2P) Sesi Ke-2. Kegiatan yang mengusung tema “Berfungsi dan Bergerak Untuk Pemilu 2029 yang Bermartabat” ini dilaksanakan secara tatap muka di Baruga Arung Senga, Belopa, Senin (18/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, tampak hadir dua anggota Bawaslu Luwu, Wahyu Derajat dan Asriani Baharuddin. Selain itu, jajaran sekretariat Bawaslu Luwu ikut membersemai, di antaranya; Nuzri Isla (Kepala Sekretariat Bawaslu Kabupaten Luwu), Taufik Rizal (Kasubag Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Data Informasi), Muh. Abdullah (Kasubag Pengawasan), Nur Afni (Kasubag Administrasi), Indrastuti Handayani (Kasubag Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa), serta seluruh jajaran staf.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 40 peserta yang siap dibekali materi pengawasan pemilu. Format ini menandai babak baru dari sesi sebelumnya yang dilaksanakan secara daring via- Zoom.
Transformasi SKPP dan Pentingnya Kepedulian Demokrasi
Dalam sambutannya, Anggota Bawaslu Kabupaten Luwu, Wahyu Derajat, menjelaskan bahwa kegiatan P2P ini merupakan kelanjutan dari program yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP). Ia menekankan bahwa konsep pengawasan ini bukanlah hal baru, namun esensinya tetap krusial dalam menjaring masyarakat yang peduli terhadap masa depan demokrasi.

“Yang membedakan sesi kali ini adalah metode pembelajarannya yang menggabungkan tatap muka, pemanfaatan Zoom, dan penggunaan modul terstruktur”, jelas Wahyu.
Wahyu juga berharap agar seluruh peserta dapat terlibat aktif dalam setiap sesi, termasuk saat pelaksanaan pre-test dan penyampaian materi.
“Saya inginkan semua peserta aktif. Kegiatan ini bukan seperti khutbah atau ceramah yang sifatnya satu arah, di mana peserta hanya mendengarkan. Harus ada feedback (umpan balik) yang interaktif agar output dari kegiatan ini benar-benar maksimal”, tegasnya.
Fokus Pengawasan Berbasis Digital dan Media Sosial
Lebih lanjut, Wahyu Derajat menekankan bahwa tantangan pengawasan ke depan akan sangat dinamis, terutama di era teknologi. Oleh karena itu, para kader jebolan P2P nantinya akan didorong untuk fokus pada wilayah digital.
“Kedepan, kader-kader jebolan P2P ini akan bertitik berat pada upaya pencegahan dan pengawasan yang berbasis digital, terutama di media sosial”, ungkap Wahyu.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tatap muka yang digelar hari ini hanyalah sebuah proses penguatan awal. Hal yang paling krusial justru terletak pada komitmen jangka panjang setelah kegiatan ini selesai.
“Giat tatap muka ini adalah proses penguatan, fokus utamanya ada pada Rencana Tindak Lanjut (RTL). Dan yang terpenting adalah bagaimana para kader P2P nantinya mengaplikasikan ilmu yang sudah di dapatkan dalam aktivitas kesehariannya”, paparnya.
Kolaborasi Strategis dan Apresiasi Bawaslu Provinsi Sulsel
Kegiatan Pendidikan Pengawasan Partisipatif ini dibuka secara resmi melalui Zoom oleh Pimpinan Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan yang juga menjabat sebagai Koordinator Divisi Hukum, Andarias Duma.
Dalam arahannya, Andarias menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berkomitmen dan bergabung bersama Bawaslu dalam menyongsong tahapan Pemilu 2029. Ia memaparkan bahwa melalui forum ini, para peserta akan dibekali pengetahuan mendalam oleh tim fasilitator mengenai teknik pengawasan partisipatif, baik untuk proyeksi pengawasan di tingkat Kecamatan, Pengawas Kelurahan/Desa (PKD), hingga Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS).
“Urusan penyelenggaraan pemilu pada hakikatnya adalah urusan rakyat. Pengawas partisipatif akan menjadi bagian yang sangat penting dalam menjaga tegaknya nilai-nilai demokrasi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Luwu”, ungkap Andarias.
Membangun Demokrasi yang Jujur dari Rakyat
Lebih lanjut, Andarias menggarisbawahi bahwa keterbatasan personel Bawaslu membuat peran serta masyarakat menjadi mutlak diperlukan. Bawaslu secara kelembagaan tidak dapat mengawasi seluruh celah pelanggaran tanpa adanya mata dan telinga dari masyarakat itu sendiri.
Ia juga mengingatkan bahwa refleksi dari pemilu-pemilu sebelumnya harus dijadikan momentum berharga untuk terus belajar dan berbenah.
“Pengawasan partisipatif adalah bentuk nyata dari rasa cinta kita terhadap masa depan demokrasi. Pemilu yang jujur dan adil tidak akan lahir begitu saja dari ruang hampa, melainkan lahir dari kesadaran masyarakat yang menganggap pemilu sebagai tanggung jawab bersama”, tutupnya.
Sumber: Humas Bawaslu Luwu
Editor: S PNs













