MAJENE, POTRETNUSANTARA.co.id – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, menghadiri Sidang Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka pengukuhan Guru Besar Tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, Rabu (29/4/2026).
Dalam sambutannya, Junda menyampaikan harapan agar Sulawesi Barat terus berkembang menjadi daerah yang maju dan sejahtera, terutama menjelang usia ke-22 tahun pada September mendatang. Namun, ia mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
Salah satu tantangan utama yang disoroti adalah kondisi geografis dan infrastruktur. Hingga kini, jalan provinsi yang tergolong layak baru mencapai sekitar 49 persen. Kondisi tersebut dinilai masih menjadi kendala serius, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil.
“Masih ada kejadian ibu melahirkan di jalan karena akses yang sulit. Ini menyangkut hak dasar masyarakat yang harus kita jawab bersama,” ujar Junda.
Di sektor ekonomi, ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulbar yang berada di atas rata-rata nasional, yakni sekitar 5,35 persen, belum sepenuhnya inklusif. Hal ini tercermin dari angka kemiskinan yang masih berada di kisaran 10,1 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Meski begitu, Junda menilai terdapat kemajuan signifikan dibandingkan kondisi sebelum pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, di mana angka kemiskinan saat itu mencapai sekitar 19 persen.
Selain itu, persoalan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga menjadi perhatian. Ia menyoroti tingginya angka kematian ibu dan bayi, kasus gizi buruk, serta prevalensi stunting yang masih berada di angka 35 persen.
“Artinya, dari 100 anak yang lahir, ada sekitar 35 yang berpotensi stunting. Ini tentu menjadi tantangan besar kita menuju Indonesia Emas,” jelasnya.
Junda juga menyinggung persoalan sosial dan budaya, termasuk potensi konflik horizontal serta dinamika politik yang perlu dikelola dengan baik agar tidak menghambat pembangunan daerah.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan secara instan. Diperlukan pendekatan yang komprehensif, berbasis data, serta didukung kajian ilmiah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dan akademisi dalam membantu pemerintah daerah merumuskan kebijakan yang tepat dan solutif.
“Kami berharap para ilmuwan dan perguruan tinggi bisa aktif memberikan rekomendasi. Baik diminta maupun tidak, kontribusi keilmuan sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan daerah,” katanya.
Ia juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap capaian sumber daya manusia Sulbar. Saat ini, tercatat sekitar 82 profesor asal Sulawesi Barat yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
“Ini potensi besar. Kami membuka ruang kerja sama seluas-luasnya, khususnya dalam penelitian untuk mendorong kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.












